Belajar dari Kisah Aurelie, Ini 7 Tanda Hubungan yang Sudah Tidak Sehat dan Perlu Berakhir

Belinda Safitri | Beautynesia
Sabtu, 17 Jan 2026 17:30 WIB
Belajar dari Kisah Aurelie, Ini 7 Tanda Hubungan yang Sudah Tidak Sehat dan Perlu Berakhir
Tanda hubungan yang sudah tidak sehat/ Foto: Freepik.com/tirachardz

Belakangan ini, publik dikejutkan oleh pengakuan jujur aktris Aurelie Moeremans melalui bukunya, Broken Strings. Dalam memoar tersebut, Aurelie menceritakan masa lalunya sebagai korban grooming pada usia 15 tahun dan sempat mengalami tindakan abusive serta tekanan emosional yang berat.

Belajar dari kisahnya, penting bagi kamu, Beauties, untuk mengenali tanda hubungan tidak sehat. Terlebih, banyak perilaku toksik muncul secara halus dan sering sulit disadari, terutama ketika perasaan sudah terlibat. 

Jadi, agar tidak terjebak dalam dinamika merugikan seperti yang dialami Aurelie, kenali sejumlah tanda hubungan yang sudah tidak sehat dan mungkin sudah saatnya dipertimbangkan untuk diakhiri, seperti dilansir dari Emora Health! 

1. Kontrol Berlebihan dan Manipulasi Emosional

Kontrol berlebihan/ Foto: Freepik.com/jcomp

Dalam hubungan tidak sehat, salah satu pihak kerap mencoba mengendalikan keputusan, aktivitas, bahkan relasi sosial pasangannya. Awalnya, kontrol ini bisa terlihat seperti perhatian atau kepedulian berlebihan, misalnya selalu ingin tahu ke mana kamu pergi, dengan siapa bertemu, atau apa yang kamu lakukan. Namun seiring waktu, sikap ini berubah menjadi pembatasan yang membuat kamu kehilangan kebebasan dan merasa diawasi.

Manipulasi emosional juga sering menyertai perilaku kontrol, seperti membuat kamu merasa bersalah, memutarbalikkan fakta, atau memainkan drama agar keinginannya terpenuhi. Jika kamu mulai merasa takut mengambil keputusan sendiri atau merasa bertanggung jawab atas emosi pasangan, itu bisa menjadi tanda kuat bahwa hubungan tersebut tidak lagi sehat.

2. Hubungan Penuh Konflik dan Ketegangan

Hubungan penuh konflik/ Foto: Freepik.com/KamranAydinov

Hubungan yang sehat memang tidak lepas dari perbedaan pendapat, tetapi konflik seharusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi yang dewasa. Jika pertengkaran sering berubah menjadi teriakan, ancaman, atau sikap agresif, ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan emosional dalam hubungan tersebut.

Ketegangan yang terus-menerus membuat kamu hidup dalam kewaspadaan dan takut memicu kemarahan pasangan hanya karena hal kecil. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menimbulkan stres, kecemasan, dan kelelahan emosional yang berdampak pada kesehatan mental.

3. Terisolasi dari Teman dan Keluarga

Terisolasi dari teman dan keluarga/ Foto: Freepik.com/freepik

Pengasingan dalam hubungan biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba. Awalnya bisa berupa komentar kecil seperti meremehkan temanmu, cemburu berlebihan saat kamu berkumpul dengan keluarga, atau membuat drama setiap kali kamu punya agenda sosial. Lama-kelamaan, kamu mungkin mulai mengurangi pertemuan demi menghindari konflik, hingga tanpa sadar lingkaran sosialmu semakin menyempit.

Ketika koneksi dengan orang-orang terdekat terputus, kamu kehilangan tempat berbagi cerita, mencari sudut pandang sehat, dan mendapatkan dukungan emosional. Kondisi ini membuat kamu semakin bergantung pada pasangan, sekaligus memperbesar potensi kontrol dan manipulasi. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya tetap mendorong kamu tetap memiliki dunia sendiri di luar pasangan.

4. Ketidakjujuran dan Pengkhianatan yang Berulang

Ketidakjujuran dan pengkhianatan/ Foto: Freepik.com/garetsvisual

Kebohongan kecil yang dibiarkan berulang bisa berkembang menjadi pola pengkhianatan yang lebih besar. Mulai dari menyembunyikan pesan, memanipulasi cerita, hingga perselingkuhan emosional atau fisik, semua ini perlahan meruntuhkan rasa percaya. Beauties mungkin mulai mempertanyakan intuisi sendiri dan terus berada dalam mode curiga.

Ketika kepercayaan tidak lagi kokoh, hubungan dipenuhi kecemasan, overthinking, dan ketidakpastian emosional. Energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh bersama akhirnya justru habis untuk mengawasi, menebak, dan melindungi diri dari kekecewaan berikutnya. Jika pola ini terus terjadi tanpa perubahan nyata, hubungan cenderung menjadi sumber luka, bukan lagi kenyamanan.

5. Sikap Merendahkan dan Tidak Menghargai Perasaan

Sikap merendahkan/ Foto: Freepik.com/jcomp

Perilaku meremehkan tidak selalu berbentuk teriakan atau hinaan terang-terangan. Kadang hadir dalam candaan yang menusuk, kritik berulang terhadap penampilan, pendapat yang selalu disepelekan, atau mempermalukan di depan orang lain. Jika kamu sering merasa kecil, tidak cukup baik, atau ragu pada kemampuan diri sendiri setelah berinteraksi dengan pasangan, itu sinyal yang patut diwaspadai.

Dalam jangka panjang, sikap ini bisa mengikis rasa percaya diri dan membuat kamu bergantung pada validasi pasangan. Kamu mungkin mulai menerima perlakuan buruk sebagai hal normal, padahal hubungan sehat seharusnya memberi rasa dihargai, didukung, dan dihormati secara setara.

6. Batasan Pribadi Terus Dilanggar

Batasan pribadi terus dilanggar/ Foto: Freepik.com/azerbaijan_stockers

Batasan adalah cara seseorang melindungi kenyamanan, nilai, dan kebutuhan pribadi. Hubungan yang sehat akan memberi ruang aman untuk berkata tidak tanpa rasa bersalah atau ancaman. Jika pasangan bisa memaksa melakukan hal yang membuat kamu tidak nyaman, mengakses privasi tanpa izin, atau menolak menghormati waktu dan ruang pribadi, itu tanda kamu berada dalam hubungan tidak sehat. 

Penolakan pun sering diabaikan atau dipelintir menjadi bentuk egois. Apabila batasan terus dilanggar, kamu bisa merasa kehilangan kendali atas hidup sendiri. Rasa tidak aman, tertekan, bahkan takut menolak juga akan semakin menguat. 

7. Kehilangan Jati Diri

Kehilangan jati diri/ Foto: Freepik.com/freepik

Ketika sebuah hubungan mulai mendikte hampir seluruh pilihan hidup, kamu bisa perlahan menjauh dari hal-hal yang dulu memberi makna dan kebahagiaan, mulai dari hobi, mimpi pribadi, prinsip hidup, hingga lingkar pertemanan. Tanpa disadari, pusat hidup bergeser sepenuhnya pada pasangan, bukan lagi pada keseimbangan antara kebutuhan diri sendiri dan dinamika hubungan yang sehat.

Kondisi ini sering memicu kehilangan jati diri dan membuat kamu merasa hampa, ragu mengenali keinginan sendiri, bahkan sulit mengambil keputusan secara mandiri. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang untuk bertumbuh, saling mendukung, dan memperkuat identitas masing-masing, bukan justru mengikisnya demi mempertahankan sebuah relasi.

Jadi, itulah sejumlah tanda hubungan yang sudah tidak sehat. Jika Beauties menemukan banyak tanda ini dalam hubungan yang dijalani, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan mengambil keputusan tegas demi kesehatan emosional dan kehidupan yang lebih sehat. 

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE