Belajar soal Consent dari Memoar "Broken Strings" Aurelie Moeremans, Diam Bukan Berarti Setuju
Memoar Broken Strings yang dirilis artis Aurelie Moremans menjadi perbincangan hangat dan memicu diskusi mendalam soal kekerasan dalam hubungan. Memoar Broken Strings berisikan pengalaman pribadi kehidupan Aurelie. Ia bercerita bahwa ia pernah menjadi korban bullying, grooming, eksploitasi, hingga berbagai bentuk kekerasan dalam hubungan yang tidak sehat.
Topik utama yang dibahas dari memoar ini adalah bagaimana Aurelie harus menjalani hubungan penuh manipulasi dan kekerasan serta menjadi korban grooming dari seorang pria bernama Bobby (bukan nama sebenarnya). Hubungan ini dijalani Aurelie saat ia baru meniti karier sebagai artis di Indonesia. Kala itu, usia Aurelie masih berusia 15 tahun sementara Bobby berusia 29 tahun.
Awalnya, Bobby mendekati Aurelie dengan sangat manis: memberikan semua perhatian, menunggu di lokasi syuting hingga larut malam, mengantar Aurelie dan keluarganya pulang usai syuting, dan tingkah-tingkah romantis lainnya. Namun, perhatian tersebut berubah jadi kontrol, posesif, dan pengekangan ketika keduanya resmi menjalin hubungan asmara.
Sejak resmi berpacaran, Aurelie tidak lagi merasakan sikap manis dari Bobby, melainkan perilaku mengontrol, kasar, hingga manipulatif, yang dibungkus dengan perhatian, janji, hingga klaim bahwa pria itu "peduli". Bukannya merasa dicintai, Aurelie justru merasa terperangkap.
Tak hanya itu, Bobby beberapa kali memaksa Aurelie untuk melakukan aktivitas fisik dan hal lainnya tanpa adanya consent atau persetujuan. Aurelie yang terperangkap dalam sikap manipulatif Bobby terpaksa mengiyakan keinginan pria tersebut.
Consent menjadi salah satu hal penting dalam hubungan yang sehat. Namun, sayangnya, aspek satu ini masih sering kali diabaikan.
Lantas, apa itu consent dalam sebuah hubungan?
Apa Itu Consent?
Apa Itu Consent?/Foto: Unsplash.com/priscilladupreez
Consent adalah persetujuan atau memberikan izin kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Consent ini berlaku di berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga, pertemanan, hingga pekerjaan. Dalam konteks hubungan, consent artinya kedua pasangan setuju dan sepakat untuk melakukan sesuatu bersama.
Perlu dipahami, consent bukan hanya soal aktivitas fisik, tapi juga soal batasan pribadi. Misalnya apakah pasangan boleh membuka ponsel, mengunggah foto bersama di media sosial, hingga mengambil keputusan bersama. Singkatnya, consent adalah kesepakatan bersama yang berkelanjutan antara pasangan tentang apa yang ingin atau tidak ingin mereka alami dan lakukan.
Mengapa Consent Penting?
Consent menjadi hal penting dalam hubungan karena membangun kepercayaan antara pasangan. Ketika pasangan saling meminta izin dan menentukan batasan yang telah disepakati, maka pasangan ini telah menciptakan ruang aman yang membuat mereka merasa dihargai.
Selain itu, consent dapat memperjelas komunikasi dan mencegah asumsi yang salah tentang keinginan pasangan. Tak kalah penting, consent juga memastikan kedua belah pihak setara, artinya tidak ada salah satu pasangan yang mendominasi atau mengontrol pasangannya dalam hubungan.
Syarat yang Harus Terpenuhi dalam Consent
Syarat yang Harus Terpenuhi dalam Consent/Foto: Pexels/Tan Danh
Dilansir dari Very Well Mind, ada beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam consent, yaitu:
Consent harus diberikan secara sukarela tanpa paksaan
Persetujuan harus diberikan secara bebas, tanpa tekanan, intimidasi, atau manipulasi. Consent yang diberikan di bawah paksaan, kekerasan, atau tekanan, dalam keadaan tidak memiliki kapasitas mental untuk memberikan persetujuan, atau oleh seseorang yang berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, dianggap tidak sah.
Consent harus bersifat spesifik
Jika seseorang telah menyetujui satu aktivitas, seperti berpelukan misalnya, bukan berarti orang tersebut menyetujui sentuhan atau aktivitas lainnya. Persetujuan harus spesifik dan tidak dapat diasumsikan mencakup hal-hal lain juga.
Consent bisa dibatalkan kapan saja
Bahkan jika seseorang telah memberikan persetujuan, mereka berhak untuk berubah pikiran kapan saja. Kapan pun mereka tidak ingin melakukannya, pasangan harus menghormati keinginan tersebut. Mengabaikan atau tidak menghormati penolakan atau permintaan untuk berhenti merupakan pelanggaran terhadap persetujuan.
Consent harus berdasarkan informasi yang lengkap
Jika seseorang memberikan persetujuan terhadap sesuatu, mereka harus sepenuhnya diberi tahu tentang apa yang mereka setujui.
Consent tidak boleh ragu-ragu
Pasangan tidak boleh ragu-ragu dalam memberikan consent. Jka menyetujuinya, maka mereka harus mengatakan "ya" secara yakin, bukan mengangguk, tersenyum, menjaga kontak mata, atau isyarat nonverbal lainnya. Consent harus dilakukan karena kedua belah pihak memang ingin dan merasa senang melakukannya, bukan karena terpaksa atau pasrah.
Diam Bukan Berarti Setuju
Diam Bukan Berarti Setuju/Foto: Freepik/Arthur Hidden
Consent harus berupa komunikasi yang jelas, baik lewat kata-kata maupun bahasa tubuh yang positif. Consent tidak hadir hanya dalam bentuk anggukan ragu, senyuman samar, atau kata-kata bersifat "abu-abu" lainnya yang lahir dari kepasrahan di bawah tekanan. Ketidakhadiran kata "tidak" bukan berarti consent atau persetujuan tercipta.
Perlu diingat, kamu memiliki hak untuk memutuskan apa yang terjadi pada dirimu, di segala aspek, dan hak tersebut harus dihormati oleh semua orang, terlepas apakah orang tersebut keluarga, teman, atau pasangan.
Komunikasi yang transparan mengenai batasan ini bukan hanya soal aturan, melainkan cara untuk membangun ruang aman di mana setiap pihak merasa dihargai secara utuh. Hal ini berlaku mulai dari berbagi cerita pribadi, penggunaan ruang privasi, hingga keputusan besar dalam hidup.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!