Bikin Rugi! Ini 4 Kesalahan Finansial di Usia 20-an yang Sering Dianggap Sepele

Shinta Khoiru Nikmah | Beautynesia
Kamis, 19 Feb 2026 13:00 WIB
3. Terlalu Mengandalkan Utang Konsumtif
Mengandalkan utang kartu kredit/ Foto: Freepik.com/jcomp

Usia 20-an sering disebut sebagai fase eksplorasi di mana anak muda sering mencoba banyak hal baru, membangun karier, dan menikmati hasil kerja pertama.

Sayangnya, di fase ini pula banyak  kesalahan finansial  yang kerap dianggap sepele. Padahal, keputusan kecil yang diambil sekarang bisa berdampak besar pada kondisi keuangan di masa depan.

Tanpa disadari, kebiasaan finansial yang salah di usia 20-an dapat membuat seseorang terjebak dalam masalah keuangan jangka panjang. Berikut empat kesalahan finansial yang paling sering terjadi dan perlu diwaspadai sejak dini. 

1. Menghindari Budgeting Karena Merasa Gaji Masih Kecil

Banyak orang di usia 20-an menghindari budgeting karena merasa gaji masih kecil, padahal justru di tahap inilah kebiasaan keuangan terbentuk. Tanpa anggaran, pengeluaran mudah lepas kendali dan membuat keuangan selalu terasa kurang meski kebutuhan terpenuhi.
Tidak membuat anggaran/ Foto: Freepik.com/benzoix

Banyak orang di usia 20-an berpikir bahwa budgeting alias membuat anggaran belum terlalu penting karena penghasilan masih terbatas. Akibatnya, uang digunakan tanpa perencanaan yang jelas dan sering kali habis sebelum akhir bulan. Pola pikir “nanti saja kalau gaji sudah besar” justru menjadi jebakan yang berbahaya.

Anggaran bukan soal besar atau kecilnya gaji, melainkan tentang mengatur prioritas. Tanpa anggaran, sulit mengetahui ke mana uang pergi dan pengeluaran mana yang sebenarnya bisa ditekan.

Kebiasaan ini dapat berlanjut hingga penghasilan meningkat, sehingga membuat gaya hidup ikut naik tanpa kontrol. Padahal, belajar mengelola keuangan sejak penghasilan pertama akan membentuk disiplin finansial yang sangat berguna di masa depan.

2. Mengabaikan Dana Darurat Karena Merasa Belum Butuh

Mengabaikan dana darurat/ Foto: Freepik.com/freepik

Kesalahan finansial lain yang sering dianggap sepele adalah tidak menyiapkan dana darurat. Banyak anak muda merasa belum membutuhkan dana cadangan karena masih sehat, belum berkeluarga, dan merasa risiko hidup masih rendah. Kenyataannya, keadaan darurat tidak selalu berkaitan dengan usia atau kondisi kesehatan.

Kehilangan pekerjaan, kebutuhan medis mendadak, atau kerusakan barang penting bisa terjadi kapan saja. Tanpa dana darurat, solusi yang sering diambil adalah berutang atau menggunakan paylater. Jika kebiasaan ini terus berulang, kondisi keuangan bisa menjadi tidak stabil.

Idealnya, dana darurat disiapkan sedikit demi sedikit hingga mencapai tiga sampai enam kali pengeluaran bulanan, sehingga tidak perlu panik saat kondisi tak terduga terjadi.

3. Terlalu Mengandalkan Utang Konsumtif

Mengandalkan utang kartu kredit/ Foto: Freepik.com/jcomp

Di era digital, akses terhadap utang menjadi sangat mudah. Kartu kredit, paylater, dan pinjaman online sering dianggap solusi praktis untuk memenuhi keinginan.

Banyak orang di usia 20-an menggunakan utang bukan untuk kebutuhan produktif, melainkan untuk gaya hidup, seperti belanja impulsif atau mengikuti tren.

Masalahnya, utang konsumtif sering kali tidak disadari dampaknya dalam jangka panjang. Cicilan kecil yang terlihat ringan bisa menumpuk dan membebani kondisi keuangan di tiap bulan.

Jika tidak dikelola dengan baik, utang dapat menghambat kemampuan menabung dan berinvestasi. Di usia produktif, seharusnya keuangan difokuskan untuk membangun fondasi keuangan, bukan justru terjebak dalam lingkaran utang.

4. Menunda Investasi karena Merasa Masih Punya Banyak Waktu

Menunda investasi/ Foto: Freepik.com/rawpixel.com

Kesalahan terakhir yang sering dianggap sepele adalah menunda investasi. Banyak orang berpikir bahwa investasi hanya perlu dipikirkan saat penghasilan sudah besar atau usia sudah lebih matang. Padahal, waktu adalah aset terbesar dalam investasi.

Memulai investasi di usia 20-an memberikan keuntungan dari efek compounding, di mana hasil investasi dapat berkembang lebih optimal seiring waktu. Menunda investasi berarti kehilangan potensi pertumbuhan tersebut.

Investasi tidak selalu harus dimulai dengan modal besar, yang terpenting adalah konsistensi dan pemahaman dasar. Dengan memulai lebih awal, risiko juga bisa dikelola dengan lebih fleksibel karena masih memiliki waktu panjang untuk belajar dan memperbaiki strategi.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(sim/sim)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.