Kondisi Palestina-Israel kian memanas. Dilansir dari Reuters, 2.750 warga Palestina tewas dan 9.700 alami luka-luka dalam serangan udara yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza sejak Sabtu (7/10).
Sekitar 447 anak-anak dan 248 perempuan termasuk di antara ribuan orang yang tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza, kata Kementerian Kesehatan Palestina pada Kamis (12/10).
Kondisi perang tentu menimbulkan trauma yang tak terbayangkan bagi yang terdampak. Asmaa Tayeh, seorang perempuan yang kini mengungsi di kamp pengungsi Jabalia di utara Kota Gaza, menyuarakan rasa pilunya di tengah kondisi kedua negara yang kian memanas.
Penulis muda itu mengaku sudah terbiasa dengan suara rudal di daerah sekitarnya sejak serangan mendadak pada akhir pekan lalu yang mendorong Israel untuk menyatakan perang terhadap Hamas.
Namun, Tayeh tidak menyangka tempat yang dia sebut sebagai rumahnya akan menjadi sasaran serangan. Ketika bom mulai berjatuhan di Jabalia, dia hampir tidak bisa menenangkan diri karena rasa takut dan terkejut.
"Kali ini [serangan] sebenarnya yang paling dekat dengan rumah saya dan paling berisik. Sesaat saya mengira yang terkena serangan adalah rumah tetangga kami," ungkap Tayeh kepada Al Jazeera.
Bunyi ledakan mengguncang seluruh kamp, membuat Tayeh bergegas ke jendela untuk memeriksa seberapa dekat ledakan tersebut dan apakah rumahnya mengalami kerusakan.
"Saya sedang berbaring di tempat tidur dan menulis surat kepada teman yang mengirim SMS untuk memeriksa saya," kata Tayeh. "Yang bisa saya katakan kepadanya setelah penggerebekan gila-gilaan itu adalah: Syukurlah saya masih hidup."