sign up SIGN UP

Duh, Bersikap Perfeksionis di Tempat Kerja Malah Bisa Jadi Toksik! Ini 3 Tanda-tandanya

Putri Rizki Aulika | Beautynesia
Sabtu, 11 Jun 2022 16:00 WIB
Duh, Bersikap Perfeksionis di Tempat Kerja Malah Bisa Jadi Toksik! Ini 3 Tanda-tandanya
caption

Setiap orang pasti ingin melakukan hal yang terbaik bahkan sempurna dalam menyelesaikan pekerjaannya. Akan tetapi, terkadang harapan yang tinggi bisa menjadi tidak realistis dan tanpa disadari kamu malah bersikap perfeksionis.

Sebenarnya menjadi seorang perfeksionis tak selalu identik dengan hal yang buruk. Sebuah penelitian telah mengungkapkan bahwa orang-orang yang berpegang pada standar tinggi adalah orang yang teliti dalam pekerjaan mereka dan sangat termotivasi untuk berhasil. Namun, ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan titik kritis saat standar perfeksionisme yang kaku mulai lebih berbahaya dan bisa menjadi toksik.

Dikutip dari Huff Post, seorang psikoterapis di States of Wellness Counseling di Illinois dan Wisconsin bernama Shannon Garcia, menyatakan bahwa perfeksionisme adalah bentuk kecemasan dan memiliki kemungkinan menjadi sesuatu yang menahan seseorang untuk maju dalam karir. Ia menambahkan, hal ini biasanya terjadi ketika seseorang mulai menghindari tugas karena takut tidak akan selesai dengan sempurna atau karena menghabiskan banyak waktu untuk mencoba membuat sesuatu yang lebih sempurna.

Menjadi toksik akibat dari bersikap perfeksionis di tempat kerja bisa dilihat dari tanda-tanda yang ditunjukkan seseorang. Apa saja? Dirangkum dari Huff Post, check this out!

Hanya Merenungkan Apa yang Tidak Dilakukan

Hanya merenungkan apa yang tidak dilakukan/Foto: Pexels.com/Pavel Danilyuk
Hanya merenungkan apa yang tidak dilakukan/Foto: Pexels.com/Pavel Danilyuk

Beauties, jika kamu tidak bisa merenungkan apa yang telah tercapai, kamu tidak akan pernah puas. Dilansir dari Huff Post, seorang perfeksionis menilai kinerja pekerjaan mereka sendiri dengan ketentuan angka dari 0 hingga 99 buruk, dan hanya nilai 100 yang bisa diterima.

Perfeksionis tidak menerima pujian, mereka terobsesi dengan kesalahan. Dalam pola pikir perfeksionis, ketika kamu sudah mencapai tujuan, maka akan timbul pertanyaan, "Apa selanjutnya?" ucap seorang psikoterapis yang berbasis di New Jersey, bernama Angela Clack.

Selain itu, perfeksionis juga melihat bagaimana pesaing mereka bisa melakukan pencapaian dengan lebih baik. Namun, seorang perfeksionis tidak pernah bisa menikmati momen kemenangan.

Hal tersebut disebabkan oleh burnout yang dihasilkan dari stres kronis di tempat kerja sehingga dapat merusak kesehatan dalam jangka panjang, seperti kelelahan tanpa akhir, sakit kepala, insomnia, gejala depresi, dan hasil kesehatan yang buruk lainnya.

Terlalu Khawatir Apa yang Akan Terjadi Jika Tidak Mencapai Standar Tinggi yang Ditetapkan

Terlalu khawatir dengan standar kerja tinggi yang ditetapkan sendiri/Foto: Pexels.com/Anna Shvets
Terlalu khawatir dengan standar kerja tinggi yang ditetapkan sendiri/Foto: Pexels.com/Anna Shvets

Dalam Journal of Applied Psychology, peneliti dari Miami University, University of Florida dan Georgia Tech menganalisis 95 penelitian sebelumnya dan menemukan bahwa ada dua jenis perfeksionis. Pertama, perfeksionis yang mencari keunggulan dan menuntut standar yang terlalu tinggi untuk diri mereka sendiri. Kedua, perfeksionis penghindar kegagalan yang ditandai dengan perhatian obsesif, dan enggan merasa gagal dalam mencapai standar kinerja yang sangat tinggi.

Tak hanya itu, kelelahan, stres, dan kecemasan mengarah pada perfeksionisme yang menghindari kegagalan. Sementara itu, kesempurnaan mencari keunggulan memiliki manfaat seperti motivasi dan keterlibatan.

Saat bekerjasama dalam sebuah tim, seorang perfeksionis pun akan menetapkan standar yang sangat tinggi untuk rekan kerjanya. Tanpa sadar, kamu akan terjebak dengan rasa khawatir terus-menerus karena menuntut hasil yang sempurna dari kerjasama tim. Kamu mulai mengomentari banyak hal, mudah tersinggung bahkan kesulitan berinteraksi dengan rekan kerja dan ketidaknyamanan pun tercipta.

Selalu Melewatkan Tenggat Waktu Karena Merasa Tidak Cukup Baik

Merasa hasil pekerjaan tidak cukup baik/Foto: Pexels.com/energepiccom
Merasa hasil pekerjaan tidak cukup baik/Foto: Pexels.com/energepiccom

Sikap perfeksionis akan menjadi masalah saat kamu menyempurnakan tugas kerja secara berulang-ulang hingga melewatkan tenggat waktu. Hal ini disebabkan karena kamu merasa apa yang kamu kerjakan tidak pernah cukup baik.

Jika kamu selalu dikenal sebagai seseorang yang melewatkan tenggat waktu, besar kemungkinan kamu akan mendapatkan reputasi kerja yang buruk karena tidak dapat diandalkan. Ketika persepsi itu melekat, kamu akan sulit untuk maju dalam karier. Terlebih lagi perfeksionisme tidak hanya dapat menyebabkan kelelahan tetapi juga frustrasi dari atasan dan rekan kerja serta stres berkelanjutan yang terbawa hingga pada kehidupan pribadi.

Nah, itulah mengapa sangat penting untuk menenangkan diri dan meluangkan waktu untuk merasa senang dengan apa yang kamu lakukan setelah menyelesaikan pekerjaan di tempat kerja. Kesadaran diri ini tidak hanya membantu kamu merenungkan karier, tetapi juga dapat membantu mencegah kecenderungan perfeksionis yang tidak sehat.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id