Dukung Kesejahteraan Karyawan, Ini 3 Prinsip Work-Life Balance di Negara Skandinavia
Negara-negara Skandinavia, seperti  Denmark, Norwegia, Swedia, termasuk Finlandia dan Islandia yang berada pada cakupan wilayah Nordik, sudah lama menjadi acuan bagi keseimbangan hidup dan kerja. Kesejahteraan hidup di negara-negara tersebut, selalu berada di peringkat teratas secara global.
Para pekerja di negara tersebut, memiliki lingkungan kerja yang berkualitas dengan keseimbangan antara tuntutan profesional dan kebutuhan pribadi. Budaya kerja mereka juga sangat mempriotitaskan jam kerja yang wajar, serta pengembangan diri bagi para karyawannya.
Tidak heran, dalam beberapa waktu terakhir, banyak perusahaan di Indonesia yang sudah mulai mengadaptasi pendekatan budaya kerja dari negara-negara Skandinavia tersebut. Kira-kira, seperti apa ya, prinsip work-life balance yang berhasil diterapkan oleh Denmark hingga Finlandia?
Dilansir dari kipinahrm.eu dan mrporter.com, berikut Beautynesia sudah rangkum informasi lengkapnya buatmu, Beauties.
Jadwal Kerja Fleksibel
Jadwal Kerja Fleksibel/Foto: magnific.com/freepik
Hal paling menonjol dari budaya kerja di Negara Skandinavia adalah jadwal dan jam kerja yang lebih fleksibel, jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Jam kerja mereka hanya berkisar antara 37-38 jam per minggu.
Apabila dibandingkan dengan jam kerja di Amerika Serikat dan Asia, beberapa karyawan di perusahaannya memiliki 40 jam kerja atau lebih dalam seminggu. Hal ini menunjukkan, jam kerja di negara-negara Skandinavia jauh lebih sedikit.
Tidak hanya itu, negara Skandinavia sudah lebih dahulu menerapkan kerja jarak jauh, sebelum metode ini banyak digunakan secara global. Di Finlandia contohnya, jam kerja bisa disepakati bersama pemberi pekerjaan.
Umumnya, di Finlandia seseorang menjalani pekerjaannya sesuai dengan kontrak yang berlaku. Bahkan, mereka memiliki kesempatan untuk berganti instansi bekerja lebih mudah, setelah kontrak kerja mereka berakhir.
Hal ini diceritakan pula dalam buku berjudul, “Sistem Pendidikan Finlandia Belajar Cara Belajar”, yang ditulis seorang akademisi asal Indonesia, Ratih D. Adiputri, yang tinggal di Finlandia.
Menariknya lagi, ketika seseorang telah menyelesaikan kontrak kerjanya dan memilih untuk istirahat sementara waktu, mereka bisa memperoleh tunjangan tidak bekerja.
Tempat Kerja Demokratis
Tempat Kerja Demokratis/Foto: magnific.com/rawpixel.com
Negara Skandinavia memiliki prinsip semua orang sama, sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama dalam menempuh pendidikan maupun bekerja. Di lingkungan kerja sendiri, mereka tidak memiliki tingkatan hierarki yang kaku.
Hal ini memudahkan bagi para karyawan untuk lebih dekat dengan pimpinan kantor mereka. Karena prinsip itu pula, tempat kerja jauh lebih demokratis. Artinya, setiap karyawan punya kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam proses penyampaian ide, kritik, saran hingga pengambilan keputusan.
Di negara Skandinavia, mereka memiliki kebiasaan unik yang biasa dilakukan bersama rekan kerja, yakni jam istirahat dengan menyantap kopi bersama. Di Swedia, budaya ini biasa disebut fika, sedangkan di Norwegia disebut Kaffepause.
Bukan hanya sekedar mengopi bersama, beberapa perusahaan menjadikan budaya ini sebagai jadwal tetap yang biasa dilakukan pada pukul 10 pagi maupun 3 sore. Budaya inilah yang membuat suasana kerja lebih hangat, karena para karyawan dapat bersosialisasi dan bercerita dengan lebih akrab.
Tidak hanya menghapus sekat antar karyawan dan atasan, budaya minum kopi bersama ini juga dapat melepas penat. Apalagi biasa dilakukan dengan menyantap camilan manis. Ini juga menjadi salah satu contoh nyata prinsip kerja masyarakat Skandinavia, yang tidak ingin bekerja secara berlebihan.
Menghargai Kepentingan Pribadi Pekerja
Menghargai Kepentingan Pribadi Pekerja/Foto: magnific.com/freepiÄ·
Karena prinsip negara Skandinavia yang berfokus pada kesetaraan, mereka juga sangat menghargai kepentingan pribadi para pekerjanya. Asalkan para pekerja sudah menyelesaikan tanggung jawab, atasan dapat dengan mudah mengabulkan permintaan cuti, apalagi bagi para orang tua.
Karyawan yang memiliki anak dan harus mengasuh, memiliki masa cuti yang beragam di beberapa negara Skandinavia. Misalnya di Finlandia, mereka memberikan cuti berbayar selama 14 bulan bagi para orang tua.
Kemudian, di Swedia tersedia masa cuti berbayar selama 480 hari dengan 90 hari gaji tetap, serta 390 hari dibayar dengan 80% gaji. Sedangkan, di Norwegia tersedia masa cuti 49 minggu dan Denmark 52 minggu cuti berbayar.
Ketetapan cuti kerja orang tua ini, dapat diambil baik bagi ibu maupun ayah. Hal ini menunjukkan bahwa, negara Skandinavia sangat peduli akan kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Tidak hanya karyawan tetap di perusahaan, pekerja kontrak pun juga memiliki hak yang sama.
Mereka juga bisa mengajukan libur kepada pemberi kerja, hanya dengan mengajukan pergantian jadwal kerja ataupun mengajukan orang pengganti untuk bekerja.
Itu dia beberapa prinsip keseimbangan bekerja dan hidup yang dimiliki negara-negara Skandinavia. Karena bagi mereka, work-life balance bukan hanya sekedar slogan, tetapi sebuah kebijakan yang layak dimiliki setiap pekerja.
Mereka sangat menghargai kehidupan pribadi para pekerja, sehingga sangat tidak menyukai jam kerja berlebihan dan panjang. Karena itu pula, masyarakat Skandinavia sangat memiliki etos kerja yang baik, mereka juga sangat menguatkan kualitas daripada kuantitas.
Jadi, apa kamu juga ingin mengadaptasi budaya kerja dari masyarakat Skandinavia tersebut, Beauties?
---
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!