Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Bagaimana dengan Indonesia? Ini Kata BMKG

Nadya Quamila | Beautynesia
Jumat, 03 Jul 2026 11:30 WIB
Gelombang Panas di Eropa, Bagaimana dengan Indonesia?
Gelombang Panas di Eropa, Bagaimana dengan Indonesia?/Foto: Pexels.com

Beauties, gelombang panas atau heatwave tengah menghantam benua Eropa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari 1.300 kematian terkait gelombang panas ekstrem di Eropa sejak 21 Juni.

Dilansir dari Al Jazeera, pada Minggu (28/6), suhu mencapai 40 derajat Celsius di beberapa negara di Eropa, seperti Jerman, Republik Ceko, dan Polandia. Suhu ekstrem ini berdampak pada layanan transportasi negara-negara tersebut. Sementara itu di Prancis, suhu tertinggi sempat mencapai 44 derajat Celsius.

Lantas, apa yang menyebabkan suhu ekstrem di Eropa saat ini? Ternyata, hal ini dipicu adanya "kubah panas", yaitu area tekanan tinggi yang luas yang terbentuk di sebagian besar wilayah Eropa Barat. Udara yang turun terkompresi dan memanas, sehingga mencegah terbentuknya awan. Kondisi ini sering kali ditopang oleh pola cuaca omega block yang mengunci sistem udara panas di satu wilayah selama berhari-hari. Akibatnya, udara panas dan stagnan tetap terkunci di wilayah yang sama selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.

Garyfallos Konstantinoudis, seorang dosen di Grantham Institute - Climate Change and the Environment mengatakan bahwa gelombang panas dapat menimbulkan bahaya kesehatan yang serius.

"Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan akibat panas, dan dalam kasus yang parah, serangan panas, suatu keadaan darurat medis," katanya kepada Al Jazeera.

Serangan panas adalah penyakit parah yang berhubungan dengan panas yang menyebabkan suhu inti tubuh naik di atas 40 derajat Celsius ketika tubuh tidak dapat mendingin dengan baik.

"Serangan panas menyebabkan gejala seperti suhu tubuh tinggi, kebingungan, kehilangan kesadaran, detak jantung cepat, pernapasan cepat, dan dapat menyebabkan kegagalan organ atau kematian jika tidak segera ditangani," kata Konstantinoudis.

Stres panas dapat memicu kejadian fatal seperti serangan jantung, stroke, dan gagal napas, terutama di antara kelompok berisiko tinggi termasuk orang dewasa lanjut usia, penyandang disabilitas, dan mereka yang tidak memiliki akses yang memadai untuk pendinginan atau hidrasi.

Gelombang Panas di Eropa, Bagaimana dengan Indonesia?

Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Bagaimana dengan Indonesia? Ini Kata BMKG

Gelombang Panas di Eropa, Bagaimana dengan Indonesia?/Foto: Pexels.com

Gelombang panas yang tengah melanda Eropa ini tentu menjadi peringatan bagi seluruh dunia tentang ancaman krisis iklim yang semakin nyata. Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana jika gelombang panas melanda Tanah Air?

Menurut penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena gelombang panas secara teknis tidak terjadi di Indonesia. Gelombang panas umumnya terjadi di lintang menengah-tinggi akibat udara panas yang terperangkap dalam sistem tekanan tinggi berskala luas.

Sebaliknya, Indonesia yang berada di wilayah ekuator memiliki variabilitas cuaca yang cepat dan dinamika atmosfer yang berbeda.

"Yang umumnya terjadi di Indonesia hanyalah peningkatan suhu panas harian akibat cuaca cerah dan rendahnya tutupan awan pada siang hari, terutama saat memasuki musim kemarau," ungkap BMKG melalui situs resminya.

Namun, kita dapat memproyeksikan dampaknya jika anomali iklim ekstrem memaksa suhu yang sangat tinggi terjadi di Indonesia, dengan mempertimbangkan faktor kelembapan tinggi.

Kelembapan (humiditas) bertindak sebagai “pengali” dari tingkat bahaya suhu udara, menciptakan indeks panas yang jauh lebih menyengat. Indonesia adalah negara beriklim tropis dengan kelembapan alami yang tinggi. Kelembapan tinggi mencegah keringat menguap dengan cepat dari kulit, padahal penguapan keringat adalah cara utama tubuh manusia untuk mendinginkan diri.

Jika cuaca terlalu panas dan sangat lembap, risiko kelelahan panas dan heatstroke akan meningkat drastis meskipun suhu absolutnya mungkin tidak mencapai angka 40°C seperti di Eropa, Beauties.

Langkah yang Diusulkan UNEP dan BMKG

Gelombang Panas di China/Foto: Freepik

Langkah yang Diusulkan UNEP dan BMKG/Foto: Freepik

Di sisi lain, BMKG terus memperingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi ancaman puncak kemarau dan potensi El Niño guna memastikan ketersediaan pasokan air. Jika kekeringan ekstrem dan suhu harian yang sangat tinggi berlangsung lama di Indonesia, dampak ekologis utamanya akan mirip dengan Amerika dan Eropa namun dengan konsekuensi tropis. Wilayah Amerika Serikat Barat kini tengah berjuang menghadapi ancaman kebakaran hutan masif yang menghanguskan jutaan hektar lahan akibat kondisi yang kering dan berangin.

Suhu yang tinggi berpotensi besar memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan dan melepaskan emisi karbon masif. Di lautan, naiknya suhu perairan ekuator berisiko tinggi memicu fenomena pemutihan karang (coral bleaching) massal yang mengancam keanekaragaman hayati terumbu karang.

Langkah yang diusulkan oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) agar negara-negara tidak bergantung semata pada AC konvensional, karena hal tersebut mengonsumsi banyak energi dan menggunakan gas refrigeran yang justru memperparah pemanasan global.

Solusi lainnya adalah dengan memperbanyak penanaman pohon, membangun ruang perlindungan iklim, serta menerapkan tata kota yang mendinginkan (mendisipasi) panas. Sementara itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menjaga hidrasi dan daya tahan tubuh saat beraktivitas.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE