Ini Makna dan Asal-Usul Barongsai yang Menjadi Ikon Imlek

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Selasa, 17 Feb 2026 15:30 WIB
Legenda Nian dan Makna Barongsai
Foto: Gilang Faturahman/detikfoto

Imlek selalu hadir dengan suasana meriah yang penuh warna, suara, dan simbol-simbol khas yang sarat makna. Di antara berbagai tradisi yang dijalankan, barongsai menjadi salah satu pertunjukan paling ikonis yang hampir selalu muncul dalam perayaan Tahun Baru Imlek. 

Bagi banyak orang, barongsai sering kali dipahami sebatas hiburan atau pertunjukan budaya semata. Padahal, di balik itu, terdapat nilai filosofis dan sejarah yang telah diwariskan selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Lalu, bagaimana sebenarnya asal-usul barongsai hingga akhirnya menjadi simbol penting dalam perayaan Imlek dan dikenal luas di berbagai belahan dunia?

Sejarah Barongsai di Perayaan Imlek

Pertunjukan barongsai di ITC Surabaya

Foto: Jihan Navira/detikJatim

Dilansir Master Class, pada awalnya, masyarakat Tiongkok tidak mengenal singa sebagai hewan asli, karena singa bukan satwa yang hidup di wilayah tersebut. Sosok singa mulai dikenal sekitar abad ke-7 melalui jalur perdagangan dan hubungan diplomatik dengan wilayah Asia Tengah, India, dan Persia pada masa Dinasti Tang. Sejak saat itu, singa dipandang sebagai hewan yang kuat, berwibawa, dan memiliki kekuatan pelindung, sehingga perlahan masuk ke dalam simbolisme budaya dan spiritual masyarakat.

Dalam perkembangannya, gambaran singa tidak hanya muncul dalam seni rupa dan arsitektur, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk tarian ritual. Masyarakat percaya bahwa menghadirkan sosok singa dalam bentuk tarian dapat menangkal roh jahat dan membawa ketenteraman bagi lingkungan sekitar. Karena itulah, barongsai kemudian sering dipentaskan dalam momen-momen penting, terutama saat pergantian tahun dalam perayaan Imlek, yang dianggap sebagai waktu krusial untuk membersihkan energi lama dan menyambut keberuntungan baru.

Legenda Nian dan Makna Barongsai

Suasana rumah produksi barongsai di Kawasan Babakan Pasar, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (12/1/2023). Di tempat tersebut, perajin mengerjakan pembuatan barongsai dan liong berbahan baku impor yang membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua pekan untuk siap dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Foto: Gilang Faturahman/detikfoto

Salah satu cerita yang paling populer mengenai asal mula barongsai berkaitan dengan legenda makhluk mitologis bernama Nian. Menurut legenda ini, Nian adalah makhluk ganas yang setiap tahunnya datang menyerang desa-desa, menghancurkan tanaman, hewan ternak, bahkan anak-anak.

Penduduk menemukan bahwa Nian takut pada suara keras, warna merah terang, dan sosok makhluk yang menakutkan. Dari sinilah tumbuh kebiasaan membuat kostum singa yang berwarna cerah dan penggunaan petasan, drum, serta musik keras untuk menakuti Nian. Ritual ini akhirnya berkembang menjadi tarian barongsai yang dikenal sekarang.

Makna utama di balik tarian ini adalah untuk mengusir roh jahat dan membawa energi baik, perlindungan, serta keberuntungan bagi komunitas yang merayakannya. Karena itulah pertunjukan ini menjadi ritual penting dalam rangka menyambut awal tahun yang baru dan penuh harapan.

Simbolisme Warna, Musik, dan Gerakan Barongsai

Dentum tambur menggema dari Kelenteng Tjo Su Bio, Tangerang, saat pemuda lintas budaya berlatih barongsai jelang Imlek. Tradisi dirawat di tengah kota.

Foto: Gilang Faturahman/detikFoto

Setiap elemen dalam pertunjukan barongsai sarat makna simbolik. Kostum yang cerah, umumnya merah dan emas, bukan sekadar menarik perhatian, tetapi juga mewakili kegembiraan, vitalitas, serta kemakmuran yang diharapkan di tahun yang baru.

Selain itu, tarian ini selalu diiringi dengan dentuman musik drum, gong, dan simbal yang ritmis, yang dipercaya bisa memecah energi negatif dan mengundang qi atau energi positif.

Gerakan singa itu sendiri,  yang dikendalikan oleh dua penari, satu memegang kepala dan satu memegang ekor, menggabungkan gerakan akrobatik, ekspresi, dan interaksi dengan penonton. Misalnya, ritual cai qing (plucking the greens) di mana singa ‘memakan’ sayuran hijau seperti selada yang melambangkan tumbuhnya kekayaan, lalu ‘menyebarkannya’ ke penonton sebagai tanda berkah yang dibagikan.

Dua Gaya Utama Barongsai

Parade Barongsai Semarakkan Cap Go Meh di Kota Blitar

Foto: Fima Purwanti

Barongsai memiliki variasi gaya yang berkembang berdasarkan daerah asalnya. Dua bentuk utama adalah barongsai gaya Utara dan gaya Selatan.

Gaya Utara (Northern Lion) memiliki karakter lebih realistis dan lincah, sering kali menonjolkan akrobatik tinggi serta gerakan yang menyerupai singa asli. Sementara gaya Selatan (Southern Lion) terkenal dengan ekspresi wajah yang ekspresif dan gerakan simbolik, sering kali dikaitkan dengan komunitas Guangdong dan diaspora Tionghoa di luar negeri. Varian ini mencerminkan adaptasi budaya di berbagai wilayah dan menunjukkan bagaimana tarian ini tetap hidup dan dinamis hingga sekarang.

Beauties, barongsai mewakili sejarah panjang, keyakinan spiritual, serta semangat optimisme dalam menyambut tahun baru. Mari kita rayakan tradisi ini dengan rasa hormat dan apresiasi terhadap makna budaya yang mendalam, serta terus menjaga semangat kebersamaan dan harapan positif di setiap langkah kehidupanmu.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE