Isu Diskriminasi Warnai Piala Dunia 2026, Penolakan Visa Tim Iran hingga Wasit Somalia Batal Bertugas
Turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia, Piala Dunia, siap digelar tahun ini. Piala Dunia 2026 diselenggarakan di tiga negara sekaligus untuk pertama kalinya dalam sejarah, yaitu Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko.Â
Pembukaan Piala Dunia 2026 akan digelar selama dua hari, yakni pada 11-12 Juni, atau Jumat (12/6) dan Sabtu (13/6) waktu Indonesia. FIFA menetapkan Meksiko sebagai tuan rumah yang menggelar pembukaan pertama pada 11 Juni waktu setempat atau Jumat (12/6) dini hari waktu Indonesia.
Pesta sepak bola terbesar ini disambut dengan antusiasme yang luar biasa dari berbagai belahan dunia. Tapi tahun ini, ada sederet kontroversi hingga isu diskriminasi yang mewarnai Piala Dunia 2026. Salah satunya yang jadi sorotan adalah banyak negara-negara yang kesulitan saat proses visa hingga wasit yang dilarang masuk ke AS.
AS Tolak Visa Staf Timnas Iran Jelang Piala Dunia 2026
AS Tolak Visa Staf Timnas Iran Jelang Piala Dunia 2026/Foto: Freepik
Jelang Piala Dunia 2926, beberapa anggota staf Timnas Iran gagal mendapat visa untuk masuk ke Amerika Serikat. Setidaknya ada 15 pejabat administrasi Timnas Iran tidak mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat. Mereka termasuk Ketua Federasi Sepak Bola Iran, wakil ketua federasi, hingga direktur media tim.
Pemerintah Amerika Serikat mengaku telah mengonfirmasi bahwa seluruh pemain Timnas Iran dan staf pendukung yang dianggap diperlukan telah mendapatkan izin masuk untuk mengikuti Piala Dunia 2026. Namun, Kedutaan Besar Iran di Turki membantah pernyataan tersebut. Mereka menyebut banyak anggota staf yang memiliki peran krusial justru tidak memperoleh visa.
"Kami mengecam campur tangan politik yang bias dalam olahraga," demikian pernyataan Kedutaan Besar Iran, dilansir dari detikSport.
Pemerintah Iran menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk perlakuan diskriminatif terhadap tim nasional mereka yang akan berlaga di turnamen sepak bola terbesar dunia.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa visa telah diberikan kepada seluruh pemain serta staf yang dianggap diperlukan untuk mendukung partisipasi Iran di Piala Dunia 2026. Dalam pernyataan resminya, otoritas AS juga menyampaikan bahwa mereka tidak akan membiarkan sistem visa dimanfaatkan untuk tujuan lain.
"Iran tidak akan diizinkan menyalahgunakan sistem ini untuk menyelundupkan teroris ke Amerika Serikat dengan dalih yang tidak benar," demikian pernyataan pejabat AS. Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan politik yang masih berlangsung antara kedua negara.
Atas masalah ini, Iran menilai penjelasan dari pemerintah AS hanya upaya untuk menutupi fakta yang sebenarnya terjadi. Mereka juga mendesak FIFA turun tangan menengahi masalah ini.
Sulitnya masuk AS juga dirasakan oleh sejumlah penggemar dari beberapa negara. Penggemar dari Iran dan Haiti, misalnya, mereka mendapat larangan masuk penuh. Hanya tim dan staf pendukung mereka yang diizinkan masuk ke negara itu.
Selain itu, penggemar dari Senegal dan Pantai Gading juga hampir mustahil bisa menonton pertandingan secara langsung. Alasannya karena penerbitan visa turis bagi warga kedua negara itu sebagian besar telah dihentikan.
Wasit Somalia Batal Tugas di Piala Dunia 2026
Omar Abdulkadir Artan/Foto: Instagram/omar_artan
Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, gagal bertugas di Piala Dunia 2026 setelah ditolak masuk ke AS. Menurut Otoritas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (CBP) menyatakan Artan ditolak masuk karena adanya vetting concerns atau masalah dalam proses pemeriksaan keamanan. Juru bicara FIFA mengonfirmasi bahwa Artan tidak dapat mengikuti pelatihan maupun memimpin pertandingan pada turnamen tersebut.
"Omar Abdulkadir Artan tidak dapat mengikuti pelatihan dan bertugas sebagai wasit pada Piala Dunia FIFA 2026 setelah ditolak masuk ke Amerika Serikat," kata juru bicara FIFA seperti dilansir detikSport dari CBS News, Kamis (11/6).
Artan tiba di Bandara Internasional Miami pada Sabtu (7/6) dengan penerbangan dari Istanbul. Omar sudah mengantongi visa dan juga punya paspor diplomatik untuk mempermudah perjalanannya.
Omar sempat diinterogasi lebih dari 11 jam dan ditahan, sebelum diterbangkan kembali ke asalnya berangkat yakni Istanbul, Turki. Kala itu AS tak menyebut alasan penolakannya, tapi kemudian muncul laporan kuat bahwa mereka menduga ada keterkaitan dengan terorisme.
"Dia dinyatakan tidak dapat diterima karena adanya kekhawatiran dalam proses pemeriksaan dan ditolak masuk," tulis CBP dalam keterangannya.
Menanggapi hal ini, FIFA menegaskan pihaknya tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah, termasuk pemberian visa. Menurut FIFA, otoritas Amerika Serikat telah memberi tahu bahwa status Artan tidak akan berubah untuk saat ini.
Lebih lanjut, komentar Presiden FIFA Gianni Infantino terkait isu ini justru jadi sorotan baru. Ia memberikan pernyataan yang terkesan meremehkan dan tanpa rasa kecewa atau sesal.
"Sayang sekali apa yang menimpa wasit dari Somalia itu. Tapi sekali lagi, kami tak mengendalikan semua hal," ungkapnya dikutip detikSport dari BBC.
"Kami mencoba, kami akan berdiskusi, kami akan berbicara, kami akan melihat. Mungkin terkadang bagus juga untuk sekadar, ya, santai dan relaks saja," cetus pria Swiss tersebut.
Artan bukan sosok baru di dunia sepak bola internasional. Ia telah memimpin berbagai pertandingan bergengsi, termasuk Piala Afrika. Tahun lalu, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) juga menobatkannya sebagai Wasit Pria Terbaik Tahun Ini.
Kontroversi Lainnya: Harga Tiket Piala Dunia 2026 yang Sangat Mahal
Kontroversi Lainnya: Harga Tiket Piala Dunia 2026 yang Sangat Mahal/Foto: Magnific.com/victor217
Selain sejumlah insiden diskriminatif dan kebijakan imigrasi yang ketat, Piala Dunia 2026 ini juga diwarnai sederet kontroversi lainnya. Misalnya, harga tiket yang sangat mahal hingga menyentuh angka $11.000 atau sekitar Rp198 juta.
Dilansir dari detikcom, FIFA menggunakan sistem dynamic pricing, yaitu harga tiket bisa berubah cukup besar tergantung permintaan. Bahkan dalam fase penjualan yang sama, penggemar bisa membayar harga berbeda untuk kursi yang identik.
Bahkan, muncul laporan bahwa pembeli yang sudah memilih kategori atau lokasi tertentu di dalam stadion justru menerima tiket untuk kursi yang lebih buruk. Organisasi penggemar dan kelompok perlindungan konsumen menuduh FIFA memasang harga berlebihan, tidak transparan, dan menerapkan praktik penjualan yang tidak adil.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!