Kenalan dengan Friendship Shelf Theory, Cara Simpel Mengenali Teman Toxic dalam Lingkaran Pertemanan

Retno Anggraini | Beautynesia
Selasa, 14 Jul 2026 11:30 WIB
Kenalan dengan Friendship Shelf Theory, Cara Simpel Mengenali Teman Toxic dalam Lingkaran Pertemanan
Kenalan dengan Friendship Shelf Theory, cara simpel mengenali teman toxic dalam lingkaran pertemanan/Foto: Magnific.com/gpointstudio

Friendship Shelf Theory menjadi salah satu konsep yang belakangan ramai diperbincangkan karena menawarkan cara baru dalam memahami hubungan pertemanan. Konsep ini mengingatkan bahwa tidak semua teman memiliki peran yang sama dalam hidup kita.

Meski begitu, banyak orang masih merasa bersalah ketika hubungan pertemanan berubah atau menjadi lebih renggang, seolah semua teman harus selalu dipertahankan dengan kadar kedekatan yang sama. Konsep ini semakin menarik perhatian karena dinilai mampu membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat tanpa harus memaksakan semua orang menjadi sahabat dekat.

Melansir dari Shelf, berikut penjelasan mengenai Friendship Shelf Theory, mulai dari pengertian, pembagian kategori teman, hingga manfaat dan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Friendship Shelf Theory?

Friendship Shelf Theory merupakan konsep yang mengajarkan bahwa tidak semua teman harus memiliki tingkat kedekatan yang sama.
Pengertian Friendship Shelf Theory/Foto: Magnific.com/Freepik

Konsep Friendship Shelf Theory mengibaratkan hubungan pertemanan seperti rak penyimpanan. Sama seperti kita menaruh barang sesuai tingkat kepentingannya, setiap teman juga memiliki "rak" masing-masing dalam kehidupan.

Posisi tersebut bukan berarti menunjukkan siapa yang lebih baik atau lebih buruk, melainkan menggambarkan seberapa besar peran mereka dalam keseharian kita. Alih-alih memaksa semua orang menjadi sahabat dekat, teori ini mengajak kita menerima bahwa setiap hubungan memiliki fungsi yang berbeda.

Ada teman yang menjadi tempat berbagi cerita terdalam, ada teman yang menyenangkan untuk melakukan hobi bersama, dan ada pula yang cukup menjadi kenalan baik tanpa harus selalu berkomunikasi setiap hari.

Menurut Marisa G. Franco, psikolog sekaligus penulis Platonic: How the Science of Attachment Can Help You Make—and Keep—Friends, pendekatan ini memberikan banyak manfaat karena membantu seseorang memahami apa yang benar-benar dihargai dalam sebuah pertemanan.

Tiga Rak dalam Friendship Shelf Theory

Rak-rak pertemanan dalam Friendship Shelf Theory/Foto: Magnific.com/Freepik

Dalam Friendship Shelf Theory, kita membagi teman ke dalam kategori rak berdasarkan intensitas interaksi dan kedekatan emosional. Rak paling atas atau top shelf diisi oleh orang-orang yang menjadi bagian dari inner circle kita.

Mereka adalah teman yang benar-benar mengenal diri kita, baik sisi terbaik maupun sisi yang jarang diperlihatkan kepada orang lain. Bersama mereka, kita bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.

Selanjutnya, rak tengah atau middle shelf adalah rumah bagi situational/activity friends, seperti teman kantor, teman hobi, atau rekan komunitas. Kita sangat menikmati waktu bersama mereka dalam konteks tertentu, namun ekspektasi kedekatannya tidak sedalam teman rak atas.

Terakhir, rak bawah atau bottom shelf adalah tempat untuk orang-orang yang kita kenal, tapi interaksinya relatif terbatas. Mereka bisa berupa mantan teman sekelas, tetangga, kenalan di media sosial, atau rekan yang hanya sesekali berkomunikasi.

Mengapa Friendship Shelf Theory Begitu Penting?

Friendship Shelf Theory membantu seseorang memahami bahwa hubungan pertemanan dapat berubah secara alami.
Friendship Shelf Theory membantu membangun hubungan pertemanan yang lebih sehat/Foto: Magnific.com/Freepik

Banyak orang menganggap semua hubungan pertemanan harus diperlakukan dengan cara yang sama. Padahal, setiap orang memiliki kapasitas waktu, energi, dan perhatian yang terbatas.

Friendship Shelf Theory menjadi pengingat bahwa tidak apa-apa jika setiap teman memiliki tingkat kedekatan yang berbeda, selama hubungan tersebut tetap dibangun atas dasar saling menghormati. Cara pandang ini juga membantu kita mengurangi rasa bersalah ketika sebuah hubungan berubah seiring waktu.

Teman yang dulu sangat dekat bisa saja bergeser menjadi teman aktivitas karena kesibukan atau perubahan fase hidup. Sebaliknya, seseorang yang awalnya hanya kenalan dapat berkembang menjadi bagian dari inner circle setelah melalui banyak pengalaman bersama.

Selain membantu memahami dinamika pertemanan, teori ini juga membuat kita lebih sadar terhadap hubungan yang tidak lagi memberikan dampak positif. Ketika seseorang terus menguras energi, sering meremehkan perasaan kita, atau hanya datang saat membutuhkan bantuan, kita bisa lebih mudah mengevaluasi apakah mereka masih layak menempati posisi yang sama dalam rak pertemanan kita.

Cara Menerapkan Friendship Shelf Theory dalam Kehidupan Sehari-hari

Cara menerapkan Friendship Shelf Theory dalam kehidupan sehari-hari/Foto: Magnific.com/Freepik

Friendship Shelf Theory mengajak kita lebih sadar dalam mengelola hubungan sesuai kapasitas diri. Untuk menerapkan teori ini, mulailah dengan memperhatikan siapa saja yang selalu membuat kita merasa didengar, dihargai, dan diterima apa adanya.

Orang-orang seperti inilah yang layak mendapatkan lebih banyak perhatian dan waktu. Di sisi lain, kita juga tidak perlu memaksakan diri mempertahankan kedekatan dengan semua orang. Jika hubungan dengan seseorang mulai terasa melelahkan, penuh drama, atau hanya berjalan satu arah, tidak ada salahnya mengurangi intensitas komunikasi secara perlahan.

Kita juga harus bisa menerima bahwa perubahan merupakan hal yang normal dalam sebuah pertemanan. Kesibukan, pindah kota, menikah, atau memiliki prioritas baru dapat mengubah intensitas komunikasi tanpa harus mengakhiri hubungan dengan buruk. Selama masih ada rasa saling menghormati, posisi seseorang dalam "rak" pertemanan bisa berubah tanpa menghilangkan nilai hubungan tersebut.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

Menata lingkaran pertemanan melalui Friendship Shelf Theory merupakan bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri. Dengan membatasi porsi energi untuk orang yang tepat, kita sedang membangun lingkungan yang jauh lebih suportif, sehat, dan minim drama yang tidak perlu.

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE