Kenapa Negara Tidak Boleh Mencetak Uang Sebanyak-banyaknya? Ini 3 Alasannya!

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Kamis, 15 Jan 2026 15:30 WIB
Memperbesar Utang Negara
Uang/Foto: Freepik

Beauties, kamu mungkin pernah bertanya-tanya, kalau mencetak uang banyak bisa bikin rakyat kaya, kenapa negara tidak langsung saja mencetak lebih banyak uang? Kelihatannya sederhana, ya, tapi faktanya nggak semudah itu.

Negara memang punya wewenang untuk mencetak uang, tapi ada aturan dan keseimbangan yang harus dijaga. Kalau hal itu dilanggar, dampaknya bisa sangat serius.

Bank Indonesia sebagai bank sentral bertanggung jawab atas penerbitan uang Rupiah. Setiap lembar uang yang beredar sudah melalui perhitungan ketat. Jadi, meskipun negara bisa mencetak uang, bukan berarti boleh dilakukan sembarangan.

Yuk, Beauties, kita bahas tiga alasan kenapa negara tidak boleh mencetak uang banyak tanpa batas menurut buku berjudul 'Keuangan Negara' karya Pandapotan Ritonga, S.E., M.Si. yang dirangkum oleh detikFinance!

Nilai Uang Akan Turun

Uang/Foto: Freepik

Bayangkan begini, kalau semua orang punya uang Rp1 juta lebih banyak besok pagi, tapi jumlah barang di pasar tetap sama, apa yang terjadi? Betul, harga barang akan naik! Karena banyak orang bisa membeli, tapi jumlah barangnya terbatas. Akhirnya, nilai uang jadi turun.

Ini disebut inflationary devaluation, yaitu penurunan nilai uang akibat jumlah uang yang beredar melebihi ketersediaan barang. Akibatnya, harga-harga melambung, dan uangmu yang tadinya cukup buat belanja seminggu, mungkin cuma cukup buat dua hari. Jadi, kalau negara mencetak uang banyak tanpa dasar ekonomi yang kuat, uang itu justru kehilangan nilainya.

Menyebabkan Inflasi yang Tak Terkendali

Uang Negara/Foto: Freepik

Kamu pasti sudah sering dengar kata inflasi. Tapi, tahu nggak, inflasi bisa jadi sangat parah kalau uang beredar terlalu banyak? Ketika pemerintah terus mencetak uang, harga barang dan jasa otomatis ikut melonjak. Karena, semakin banyak uang beredar, semakin rendah daya belinya.

Inflasi ekstrem bahkan bisa menghancurkan perekonomian suatu negara. Contohnya, pernah terjadi di Zimbabwe pada tahun 2008, ketika pemerintahnya mencetak uang berlebihan. Hasilnya, harga barang naik ribuan kali lipat! Bayangkan, selembar roti bisa seharga jutaan dolar Zimbabwe. 

Memperbesar Utang Negara

Uang/Foto: Freepik

Kamu mungkin berpikir, “kalau utang negara banyak, kenapa nggak cetak uang aja buat bayar?” Nah, di sinilah masalahnya. Kalau uang dicetak tanpa ada cadangan komoditas atau aset yang mendukung, nilainya tidak punya dasar kuat. Akibatnya, investor asing bisa kehilangan kepercayaan. Nilai tukar mata uang bisa anjlok dan negara malah terjebak utang baru.

Selain itu, mencetak uang tidak menambah kekayaan negara secara nyata. Karena uang hanyalah alat tukar, bukan sumber kekayaan. Tanpa produksi barang, jasa, atau aset nyata, uang yang beredar hanya angka di kertas. Jadi, semakin banyak uang dicetak, semakin besar pula risiko negara terperangkap dalam siklus utang dan inflasi.

Kalau diringkas, mencetak uang banyak memang terlihat seperti solusi cepat, tapi sebenarnya itu jalan pintas yang berbahaya. Uang harus diimbangi dengan kekuatan ekonomi nyata, seperti produksi, perdagangan, dan ekspor. Tanpa itu, uang yang beredar cuma jadi kertas tanpa nilai.

Jadi, sekarang kamu sudah tahu kan, kenapa negara tidak boleh mencetak uang banyak sesuka hati? Yuk, jadi warga yang lebih melek finansial dan pahami bagaimana kebijakan moneter bisa mempengaruhi hidup kita sehari-hari!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.