Mengapa Ada Orang yang Berjiwa Perfeksionis?

Adira P | Beautynesia
Jumat, 13 Mar 2026 13:15 WIB
Pola Asuh dengan Ekspektasi Tinggi di Masa Kecil
Kenapa Ada Orang yang Berjiwa Perfeksionis?/Foto: Unsplash.com/Magnet.me

Ada orang-orang yang tidak bisa membiarkan sesuatu selesai begitu saja sebelum semuanya terasa sempurna. Mulai dari cara menyusun laporan kerja, memilih kata-kata dalam pesan, hingga detail kecil yang mungkin tidak diperhatikan orang lain. Bagi mereka, standar tinggi bukan pilihan, melainkan sesuatu yang terasa seperti keharusan.

Perfeksionisme sendiri hadir dalam dua wajah, Beauties. Ada yang bersifat sehat serta mendorong seseorang tumbuh, ada pula yang justru menguras energi serta mengikis ketenangan batin. Dilansir dari Psychology Today, perfeksionisme umumnya didorong oleh tekanan dari dalam diri, seperti keinginan kuat untuk menghindari kegagalan serta penilaian negatif dari orang lain.

Yuk, simak 5 alasan di balik jiwa perfeksionis berikut ini!

Harga Diri yang Terikat pada Hasil serta Prestasi

Ilustrasi orang perfeksionis/ Foto: Freepik.com/jcomp

Kenapa Ada Orang yang Berjiwa Perfeksionis?/Foto: Freepik.com/jcomp

Beauties, salah satu akar terdalam perfeksionisme adalah keyakinan bahwa nilai diri seseorang ditentukan oleh seberapa baik hasil yang mereka capai. Seorang perfeksionis sering kali tidak percaya pada cinta yang tanpa syarat, dan berharap kasih sayang serta penerimaan orang lain akan datang hanya jika ia tampil sempurna.

Rebecca Phillips, konselor profesional berlisensi, dikutip dari Healthline, menjelaskan bahwa banyak orang perfeksionis menyimpan keyakinan tersembunyi bahwa jika mereka sempurna, barulah mereka layak serta cukup. Keyakinan ini kemudian mendorong mereka untuk terus berusaha melampaui batas diri, bukan karena senang berprestasi, melainkan karena takut dianggap tidak cukup baik.

Menginginkan yang terbaik dari diri sendiri adalah sesuatu yang indah. Namun, ketika pencapaian menjadi satu-satunya ukuran harga diri, tekanan itu bisa menjadi sangat berat untuk ditanggung.

Pola Asuh dengan Ekspektasi Tinggi di Masa Kecil

Bahaya perfeksionis bagi diri sendiri/ Foto: Unsplash.com/ Magnet.me

Kenapa Ada Orang yang Berjiwa Perfeksionis?/Foto: Unsplash.com/Magnet.me

Lingkungan keluarga tempat seseorang tumbuh ternyata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap terbentuknya jiwa perfeksionis. Penelitian yang diterbitkan di Journal of Research in Personality dan dikutip ScienceDirect, menganalisis 46 studi dengan lebih dari 13.000 partisipan, serta menemukan bahwa ekspektasi orang tua yang tinggi serta kritik yang konsisten adalah dua faktor yang paling berkaitan erat dengan tumbuhnya perfeksionisme pada anak.

Thomas Curran, PhD, psikolog dari University of Bath, menjelaskan di APA Monitor on Psychology, bahwa tekanan yang diterima orang tua kerap diteruskan kepada anak-anak mereka, menciptakan rantai ekspektasi yang terus berputar dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini, menurut Gordon Flett, PhD, peneliti psikologi dari York University, sering kali berkembang dalam budaya yang menjadikan kesempurnaan sebagai standar.

Cara Mengendalikan Rasa Tidak Pasti dalam Hidup

Libra sering terlambat karena terlalu lama mengambil keputusan. Perfeksionisme halus mereka bikin waktu habis tanpa sadar./ Foto: freepik.com/garetsvisual

Kenapa Ada Orang yang Berjiwa Perfeksionis?/Foto: freepik.com/garetsvisual

Perfeksionisme juga bisa muncul sebagai respons terhadap pengalaman-pengalaman sulit yang pernah membuat seseorang merasa kehilangan kendali atas hidupnya. Emilea Richardson, terapis pernikahan serta keluarga berlisensi, dikutip dari PsychCentral, menjelaskan bahwa perfeksionisme sering kali adalah wujud dari keinginan untuk mengendalikan situasi: jika semua hal bisa dikendalikan dengan sempurna, maka perasaan serta respons orang lain pun terasa lebih bisa diprediksi.

Perfeksionisme sering berkembang sebagai cara seseorang untuk mendapatkan kembali rasa aman serta kendali setelah mengalami pengalaman buruk di masa lalu. Perfeksionisme bisa muncul sebagai mekanisme untuk menghindari hasil negatif serta mencari persetujuan dari orang-orang di sekitar kita.

Tekanan Sosial serta Perbandingan di Era Media Sosial

oversharing adalah berbagi informasi pribadi lebih banyak daripada yang diperlukan untuk hubungan atau situasi tertentu.

Kenapa Ada Orang yang Berjiwa Perfeksionis?/Foto: freepik.com/rawpixel.com

Budaya kompetisi serta perbandingan yang semakin intens di era digital juga menjadi salah satu pendorong utama perfeksionisme, terutama di kalangan generasi muda. Mark Leary, PhD, psikolog sosial dari Duke University, dikutip dari APA Monitor on Psychology, menjelaskan bahwa revolusi internet menciptakan lingkungan sosial yang tidak pernah dikenal otak manusia sebelumnya, di mana kita membandingkan diri dengan begitu banyak orang sekaligus serta terus-menerus khawatir dengan penilaian mereka.

Orang-orang yang merasa tidak setara dengan gambaran kehidupan ideal yang ditampilkan di media sosial bisa menjadi sangat terbebani secara mental. Melihat orang lain tampak sempurna di layar memang bisa terasa melelahkan, padahal apa yang ditampilkan di sana sering kali hanyalah sebagian kecil dari kenyataan.

Kecemasan serta Siklus Standar yang Terus Meninggi

FOPO memiliki tiga fase pemicu, yaitu anticipation phase atau rasa cemas yang muncul di awal, scanning phase atau kewaspadaan berlebih, dan responding phase atau cara diri memberikan respons.

Kenapa Ada Orang yang Berjiwa Perfeksionis?/Foto: Freepik.com/Freepik

Perfeksionisme dan kecemasan adalah dua hal yang saling memperparah satu sama lain, Beauties. Dikutip dari Healthline, polanya seperti sebuah lingkaran yang sulit dihentikan: seseorang menetapkan standar yang tidak realistis, gagal memenuhinya, lalu menghukum diri sendiri, yang kemudian mendorong kecemasan serta mendorong mereka untuk menetapkan standar yang lebih tinggi lagi.

Perfeksionisme yang bersifat sosial, yaitu perasaan bahwa orang lain menuntut performa tanpa cela, memiliki kaitan erat dengan gejala kecemasan serta depresi, khususnya pada anak muda. Penelitian di Frontiers in Psychiatry terhadap ratusan mahasiswa juga menemukan bahwa jenis perfeksionisme yang paling berbahaya adalah yang berfokus pada jarak antara standar serta kenyataan, bukan pada standar itu sendiri.

Memahami akar dari jiwa perfeksionis adalah bentuk kesadaran diri yang luar biasa, Beauties. Sifat ini tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk oleh pengalaman, lingkungan, serta cara kita belajar menghadapi dunia sejak kecil.

Kamu tidak perlu menghapus standar tinggimu, yang perlu kamu lakukan adalah memastikan standar itu bekerja untukmu, bukan menghabiskanmu.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE