Mengenal Arti Stoikisme, Bukan Berarti Harus Selalu Tenang

Justina Nur | Beautynesia
Rabu, 16 Sep 2026 12:30 WIB
Apa Itu Stoikisme?
Stoikisme menawarkan sebuah cara menjalani kehidupan bahwa manusia perlu merasa kalau dunia ini tidak lagi terlihat sebagai tempat yang sepenuhnya teratur, tenang, dan harmonis./ Foto: magnific.com/benzoix

Belakangan ini istilah ‘Stoik’ atau ‘Stoikisme’ ramai diperbincangkan di media sosial. Tidak sedikit yang menganggap dan menerapkan Stoikisme berarti harus selalu tenang bahkan bersikap dingin atau mengambil jarak saat melihat banyak masalah yang sedang terjadi, Beauties.

Padahal, Stoikisme sebetulnya bukanlah sekadar tren atau ajaran yang mengajak kita untuk jadi tidak peduli terhadap keadaan di sekitar kita. Stoikisme yang merupakan suatu aliran filosofi klasik yang akhir-akhir ini kembali populer tersebut justru dianggap mampu mengajak kita menjadi manusia yang hidup lebih bijaksana termasuk dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Maka dari itu, agar tidak salah kaprah dalam mengartikan Stoikisme, yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Apa Itu Stoikisme?

Stoikisme menawarkan sebuah cara menjalani kehidupan bahwa manusia perlu merasa kalau dunia ini tidak lagi terlihat sebagai tempat yang sepenuhnya teratur, tenang, dan harmonis./ Foto: magnific.com/benzoix

Dikutip dari Daily Stoic, kata ‘Stoik’ sebetulnya berasal dari kata dari bahasa Yunani ‘Stoa’ yang artinya serambi atau lorong. Di serambi pada bangunan umum dan kuil Yunani kuno inilah para guru bertemu dengan murid-murid dan filsuf pada masa tersebut menyampaikan pemikiran mereka kepada orang-orang yang tertarik mendengarnya.

Sedangkan Stoikisme, seperti yang dilansir dari Britannica, adalah suatu aliran pemikiran yang berkembang sejak masa Klasik yaitu dalam sejarah Yunani dan Romawi. Beberapa filsuf Stoik yang paling terkenal yaitu seperti Epictetus, Marcus Aurelius, dan Seneca the Younger.

Stoikisme menawarkan sebuah cara menjalani kehidupan bahwa manusia perlu merasa kalau dunia ini tidak lagi terlihat sebagai tempat yang sepenuhnya teratur, tenang, dan harmonis.

Menurut Stoikisme, akal bisa membantu kita memahami keteraturan alam semesta sekaligus menemukan sumber nilai yang tidak berubah. Oleh karena itu, kemampuan dalam menggunakan akal juga turut jadi dasar penting dalam menjalani kehidupan.

Namun, ada juga yang beranggapan bahwa ajaran stoik populer yang sekarang ini beredar lebih sering disederhanakan sedemikian rupa sehingga kehilangan makna aslinya. 

Hal ini karena Stoikisme adalah suatu tradisi filsafat yang jauh lebih kompleks daripada sekadar bersikap tenang, cuek, tidak menunjukkan emosi, atau tidak memperdulikan keadaan sekitar.

Prinsip Stoikisme

Kaum Stoik pada umumnya meyakini bahwa memahami dan mengelola emosi dengan baik adalah salah satu hal penting agar kita bisa meraih kebahagiaan./ Foto: magnific.com/diana.grytsku

Seperti yang dilansir dari Daily Stoic, filsafat Stoikisme sebetulnya mencakup bahasan yang sangat luas, mulai dari etika hingga ilmu pengetahuan seperti fisika dan astronomi.

Akan tetapi, untuk konteks Stoikisme yang saat ini lagi ramai dibahas, biasanya orang-orang lebih merujuk arti Stoikisme pada pandangan hidup yang diajarkan oleh para filsuf Stoik.

Untuk soal pandangan hidup, kaum Stoik pada umumnya meyakini bahwa memahami dan mengelola emosi dengan baik adalah salah satu hal penting agar kita bisa meraih kebahagiaan. Itu artinya, membiarkan emosi mengendalikan reaksi kita justru bisa membuat kita jadi lebih mudah mengalami penderitaan.

Bagi mereka, kebahagiaan bukan berarti tidak memiliki emosi, melainkan tidak membiarkan diri kita jadi budak emosi. Seseorang perlu bisa menguasai dan mengarahkan emosinya agar tetap bertindak secara rasional dan sesuai dengan nilai-nilai kebajikan.

Stoikisme tidak mengajarkan kita untuk kehilangan emosi, tapi justru membantu kita memahami emosi agar tidak membiarkan emosi tersebut mengambil alih keputusan dan perilaku kita.

Nilai-nilai Kebajikan dalam Stoikisme

Ada empat nilai kebajikan yang jadi nilai penting dalam filsafat Stoik yaitu courage, temperance, justice, dan wisdom. / Foto: magnific.com/drobotdean

Ada empat nilai kebajikan yang jadi nilai penting dalam filsafat Stoik yaitu keberanian (courage), pengendalian diri atau moderasi (temperance), keadilan (justice), dan kebijaksanaan (wisdom). 

Nilai-nilai ini juga bisa diterapkan dalam hidup, contohnya nilai keberanian (courage) mengajak kita untuk berani menghadapi kesulitan atau masalah yang tidak selalu bisa dihindari.

Akan tetapi, nilai keberanian ini belum cukup. Kita perlu menerapkan nilai pengendalian diri (temperance) agar tidak bertindak ceroboh yang justru membahayakan diri sendiri atau orang lain.

Selain itu, ada juga nilai keadilan (justice) yang justru mengajak kita untuk melakukan apa yang benar dan memperlakukan orang lain sebagaimana mestinya atau memperjuangkan gagasan yang dianggap benar. Jadi, nilai ini justru jadi bukti bahwa Stoikisme tidak mengajarkan kita hanya fokus pada diri sendiri.

Selanjutnya, untuk nilai kebijaksanaan (wisdom) berkaitan dengan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan kita memahami situasi sebelum mengambil keputusan.

Dalam Stoikisme, kita tidak hanya dituntut mendapatkan banyak informasi tapi juga menggunakan pengetahuan tersebut secara tepat dalam kehidupan.

Cara Menerapkan Stoikisme untuk Membantu Mengatasi Stres

Kamu bisa mencoba menerapkan prinsip Stoikisme dalam kehidupan sehari-hari agar bisa lebih mindful dan terhubung dengan lingkungan sekitar./ Foto: magnific.com/pvproductions

Kamu bisa mencoba menerapkan prinsip Stoikisme dalam kehidupan sehari-hari agar bisa lebih sadar, menghargai semua hal yang dimiliki sekarang, dan lebih terhubung dengan lingkungan sekitar. Berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan, seperti yang telah dirangkum dari Forbes.

  • Fokus pada Hal-hal yang Bisa Dikendalikan
    Fokuslah mengarahkan perhatianmu pada keputusan dan tindakan yang bisa kamu lakukan. Dengan cara ini, kamu bisa menurunkan stres akibat memikirkan faktor eksternal.
  • Belajar Menerima Kenyataan
    Stoikisme memperkenalkan konsep Amor Fati yang artinya mencintai takdir. Konsep ini mengajak kita untuk bisa menerima keadaan dan berbagai peristiwa yang sedang terjadi sekaligus tetap berusaha memperbaiki hal-hal yang bisa diperbaiki. Hal ini karena menerima kenyataan bukan berarti kita membiarkan ketidakadilan terjadi begitu saja.
  • Introspeksi
    Selain belajar menerima, kamu juga bisa lebih fokus pada hal-hal yang bisa kamu kendalikan dengan mulai mengevaluasi dan introspeksi, misalnya tentang bagaimana kamu menjalani hari ini. Hasil dari evaluasi diri ini bisa kamu gunakan untuk mewujudkan hari esok yang lebih baik.

Itu tadi Beauties, beberapa penjelasan mengenai konsep Stoikisme dan prinsip-prinsipnya. Apakah kamu tertarik untuk menerapkannya?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE