Mengenal Audism, Sikap dan Anggapan yang Diskriminatif terhadap Penyandang Tuli

Sherley Gucci Permata Sari | Beautynesia
Senin, 06 Dec 2021 11:45 WIB
Mengenal Audism, Sikap dan Anggapan yang Diskriminatif terhadap Penyandang Tuli
Mengenal istilah Audism/Foto: Pexels.com/svetsproduction

Baru-baru ini Menteri Sosial, Tri Rismaharini menjadi perbincangan usai perayaan Hari Disabilitas Internasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia pada Rabu (1/12) lalu. Aksinya yang memaksa penyandang Tuli berbicara menuai kritik dari masyarakat.

Peristiwa tersebut terjadi di Gedung Aneka Bhakti Kemensos yang juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kemensos RI. Melansir dari detikcom, awalnya, Risma berada di atas panggung bersama penyandang Tuli dan autisme bernama Anfield Wibowo. Ia menunjukkan lukisan yang baru saja dilukisnya dan mencoba berbicara dibantu dengan juru bicara bahasa isyarat.

Setelah Anfield, Risma mengajak satu penyandang Tuli lainnya, Aldi, untuk naik ke atas panggung. Diketahui Risma meminta Aldi untuk berbicara tidak menggunakan bahasa isyarat. Aldi pun berusaha berbicara, namun suaranya lirih.

Tak lama, seorang perwakilan dari Gerakan untuk Kesejahteraan tunarungu Indonesia (Gerkatin), Stefanus, naik ke atas panggung, berusaha menjelaskan kepada Risma bahwa anak tuli memang menggunakan alat bantu dengar tapi tidak untuk kemudian dipaksa bicara.

Mensos RismaMensos Risma/Foto: YouTube/Kemensos RI

Namun, Risma menyebut tindakannya tersebut bermaksud agar memaksimalkan pemberian Tuhan, seperti mulut, mata, dan telinga. Potongan video dari peristiwa tersebut kemudian viral di media sosial dan mengundang kritik tajam dari masyarakat.

Termasuk aktivis Tuli, Surya Sahetapy melalui akun Instagram pribadinya. Ia mengkritisi sikap diskriminasi yang dilakukan oleh Mensos Tri Rismaharini yang seharusnya tidak dilakukan kepada penyandang Tuli.

"Saya dukung sikap kerja dan integritas bu Risma untuk Indonesia, tetapi tidak sependapat sudut pandang beliau tentang Tuli-Hoh, Bahasa Isyarat, Budaya Tuli-Hoh, dan aksesibilitas.  Speechless. Tahun ini tahun berapa sih? 1880 kan? Semoga “sikap audism” tidak ada di keliling kita. Good job! @stefanus_sinar_firdaus sudah ingatkan! Bahasa isyarat oke, bicara oke tapi “memaksa” sih NO. Memang banyak ragam komunikasi di komunitas kami bukan berarti kami harus “dipaksa” untuk menyesuaikan kalian seperti orang dengar yang non pengguna bahasa isyarat," tulis Surya dalam caption yang ia unggah di akun Instagramnya, @suryasahetapy.

Surya Sahetapy berfoto merayakan kelulusannya
Surya Sahetapy/Foto: Instagram/suryasahetapy/

Seperti yang diketahui, Surya Sahetapy merupakan anak dari aktris dan aktor senior yaitu Dewi Yul dan Ray Sahetapy. Surya pun juga merupakan aktivis Tuli dan juru bahasa isyarat di Indonesia yang juga giat mengedukasi masyarakat melalui Belajar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).

Usai peristiwa Mensos Risma tersebut, Surya semakin gencar mengedukasi tentang audism melalui akun Instagramnya. Lantas, apa sih yang dimaksud dengan perilaku audism? Dan tindakan apa saja yang termasuk audism? Yuk, simak selengkapnya!

Apa Itu Audism?

Bahasa isyarat menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan teman tuli
Belajar Bahasa Isyarat/Foto: Pexels.com/SVETSproduction

Audism merupakan bentuk perlakukan diskriminatif seseorang yang menganggap orang yang dapat mendengar lebih superior dibanding dengan orang Tuli. Melansir dari Very Well Mind, audism adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sikap negatif terhadap orang tuli atau tidak bisa mendengar.

Para pelaku diskriminasi audism ini disebut sebagai audist. Istilah audism pertama kali dicetuskan oleh Tom Humphries dalam disertasi doktornya tahun 1977.

Bentuk Perilaku Audism

Jangan lakukan audisme ke penyandang disabilitas
Ilustrasi/Foto : Pexels.com/DeeanaArts

 Ada beberapa bentuk perilaku yang disebut sebagai audism, di antaranya adalah:

  • Memaksa penyandang Tuli untuk berbicara
  • Enggan menggunakan bahasa isyarat padahal ia memiliki kemampuan bahasa isyarat
  • Menganggap orang Tuli tidak bisa bergaul dan beradaptasi dalam sebuah komunitas
  • Meremehkan Tuli karena mereka lemah dengan bahasa verbal
  • Menganggap Tuli tidak mampu mencapai level hidup orang dengar, seperti pendidikan, finansial, dan komunikasi
  • Meremehkan Tuli karena tidak bisa kuliah seperti orang pada umumnya
  • Bahasa isyarat membuat orang malas berbicara

Nah, itu tadi beberapa contoh sikap audism yang tidak seharusnya dilakukan terhadap teman Tuli. Let's stop audism!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
CERITA YUK!
Theme of The Month :

Theme of The Month :

Theme of The Month :

Theme of The Month :

Theme of The Month :

Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.