Mengenal Konferensi COP28 dan Dampaknya terhadap Perempuan
Konferensi tahunan COP28 yang dilaksanakan di Dubai telah berlangsung dari 28 November dan rencananya akan berlangsung hingga 10 Desember. Di konferensi tahun lalu yang berlangsung di Mesir, para pemimpin dunia berjanji untuk mengambil langkah drastis dalam memerangi perubahan iklim.
Untuk kamu yang belum paham apa itu COP, ini merupakan kepanjangan dari Conference of the Parties, di mana para pemimpin dunia bersama dengan perwakilan pemerintah, negosiator, dunia usaha, dan warga negara mendiskusikan rencana mereka untuk mengambil tindakan melawan perubahan iklim, sebagaimana telah dilansir dari Glamour Magazine.
Hal yang Dibahas dalam COP28
![]() Konferensi COP28/Foto: Instagram.com/cop28uaeofficial |
Sepanjang acara yang berlangsung selama dua minggu, para peserta akan membahas komitmen mereka untuk membalikkan kerusakan iklim dan menetapkan rencana untuk menjaga kestabilan kerusakan iklim. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah di seluruh dunia telah membuat komitmen yang tidak selalu bisa dipenuhi.
Pada tahun 2015, Perjanjian Paris dibentuk dengan tujuan membatasi peningkatan suhu hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri. Pada konferensi tahun ini, akan diadakan survei global pertama dengan tujuan memastikan bahwa setiap negara berkomitmen kembali terhadap tujuan yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.
Dampak COP28 terhadap Perempuan
Konferensi COP28 dan Dampaknya terhadap Perempuan/Foto: Instagram.com/cop28uaeofficial
Meskipun membalikkan perubahan iklim sangat penting bagi masa depan semua orang di seluruh dunia, penurunan kondisi iklim sering kali memberikan dampak yang tidak proporsional terhadap perempuan. Misalnya, suhu yang lebih tinggi secara tidak langsung dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti prolaps rahim.
“Perempuan di komunitas pedesaan yang terkena dampak iklim sering kali menanggung beban pekerjaan pertanian yang menuntut fisik, yang menjadi lebih berat karena tantangan terkait perubahan iklim seperti cuaca yang tidak menentu dan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja,” kata Seema Bhaskaran dari lembaga nirlaba Transform Rural India Foundation.
“Meskipun perubahan iklim tidak secara langsung menyebabkan prolaps uterus, hal ini memperbesar tantangan dan kondisi kesehatan mendasar yang membuat perempuan lebih rentan terhadap masalah kesehatan tersebut,” tambahnya.
![]() Konferensi COP28/Foto: Instagram.com/cop28uaeofficial |
Meskipun demikian, perempuan masih sangat kurang terwakili pada konferensi tahun lalu. “Jelas masih ada kebutuhan akan keterwakilan perempuan yang lebih luas, khususnya dari wilayah yang paling terkena dampak perubahan iklim,” kata One Young World Ambassador, Anna Stanley-Radière. "Keinginan mereka untuk membangkitkan perubahan juga kuat, jadi kita perlu memastikan suara mereka didengar.”
Tahun ini, langkah-langkah aktif diambil untuk memastikan suara perempuan didengar di konferensi tersebut. Dari tanggal 28 hingga 29 November, telah diadakan konferensi global mengenai data gender dan lingkungan yang akan dihadiri oleh perwakilan PBB, pembuat kebijakan dan anggota Koalisi Aksi Feminis untuk Climate Justice Action Coalition and the Gender Environment Data Alliance (GEDA) yang akan membahas dampak perubahan iklim pada perempuan di seluruh dunia.
Konferensi ini juga akan menampilkan “Hari Gender” pada tanggal 4 Desember. “Hasil yang diharapkan adalah pemahaman bersama mengenai peluang dan kesenjangan dalam pendanaan iklim yang responsif gender dan transisi yang adil gender, serta promosi pertukaran pengetahuan untuk mendukung aksi iklim yang adil gender,” demikian bunyi situs web COP.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!
Pilihan Redaksi |

