Mengenal Krakatau dan Anak Krakatau, Sejarah hingga Kondisi di Masa Depan

Narita Fuji Triani | Beautynesia
Kamis, 10 Sep 2026 17:15 WIB
Sejarah Krakatau dan Anak Krakatau
Sejarah Krakatau dan Anak Krakatau. Dimulai dari Krakatau Purba hingga Anak Krakatau/Foto: instagram.com/andrearamadhaan

Gunung Anak Krakatau tengah menjadi perhatian saat terjadi erupsi pada 4 September 2026 lalu. Abu vulkanik menyebar ke beberapa wilayah di Jawa dan Sumatera. Abu vulkanik Anak Krakatau juga menghambat jalur penerbangan pesawat, Beauties.

Nama Krakatau tentu sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Gunung api yang berada di kawasan Selat Sunda dikenal luas karena letusannya pada 1883 menjadi salah satu bencana vulkanik paling dahsyat dalam sejarah.

Sejarah Krakatau dan Anak Krakatau

Sejarah Krakatau dan Anak Krakatau. Dimulai dari Krakatau Purba hingga Anak Krakatau/Foto: instagram.com/andrearamadhaan

Krakatau mengalami sejarah yang sangat panjang, Beauties. Menurut Prof. Dian Fiantis dari Universitas Andalas, jejak Krakatau Purba diperkirakan berasal dari erupsi besar dan keruntuhan kaldera sekitar abad ke-5–6 M. Sisa tubuh gunung purba tersebut antara lain membentuk Pulau Sertung dan Pulau Panjang. Krakatau terbentuk kembali dengan tiga puncak utama, yaitu Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Krakatau ini mengalami letusan dahsyat pada 26-27 Agustus 1883 dan menyisakan sebagian Rakata. 

Pada tahun 1927-1928, aktivitas vulkanik muncul kembali dari dasar laut. Lalu, puncak Anak Krakatau muncul di atas permukaan laut pada tahun 1930. Pada 22 Desember 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut yang menyebabkan terjadinya tsunami di Selat Sunda. 

Aktivitas vulkanik terjadi kembali pada tahun 2026. Sejak bulan Juli, status Anak Krakatau menjadi status siaga. Hingga pada tanggal 4-6 September, Anak Krakatau mengalami erupsi dan sebaran abu meluas hingga Jakarta, Jawa Barat, Banten, Lampung, dan Bengkulu.

Bagaimana Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau di Masa Depan?

Kondisi aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Erupsi berarti tanah yang berkembang di masa depan/Foto: pinterest.com/Simon G. Bradley Roberts

Aktivitas vulkanik mungkin dipandang sebagai bencana. Namun, menariknya Prof. Dian menjelaskan bahwa material vulkanik yang dikeluarkan Anak Krakatau tidak hanya berkaitan dengan bencana. Dalam jangka panjang, abu, lapili, dan pecahan batuan dapat menjadi bahan induk tanah. Material tersebut perlahan mengalami pelapukan dan mulai ditumbuhi organisme hingga akhirnya berkembang menjadi tanah dan bentang alam baru di masa depan.

Dengan demikian, Krakatau dan Anak Krakatau memiliki sejarah yang berkaitan, namun aktivitas vulkaniknya memiliki perbedaan. Krakatau menjadi bagian sejarah letusan dahsyat 1883, sedangkan Anak Krakatau merupakan gunung api yang tumbuh setelahnya dan masih mengalami aktivitas hingga sekaligus.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.