Mengenal Lipstick Effect, Alasan Banyak Orang Tetap Konsumtif di Tengah Krisis Ekonomi

Retno Anggraini | Beautynesia
Selasa, 02 Jun 2026 11:30 WIB
Fenomena Lipstick Effect di Indonesia
Fenomena lipstick effect di Indonesia/Foto: Magnefic.com/tirachardz

Kita mungkin pernah bertanya-tanya kenapa banyak generasi muda yang tetap rela menghabiskan uang untuk nongkrong di kafe atau membeli kopi Rp40 ribuan meski kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Fenomena ini ternyata punya istilah tersendiri dalam psikologi dan ekonomi, yaitu lipstick effect.

Lipstick effect adalah fenomena ketika masyarakat tetap membeli barang atau pengalaman kecil yang terasa menyenangkan saat kondisi ekonomi sedang sulit. Jika dulu identik dengan pembelian lipstik atau kosmetik, sekarang bentuknya jauh lebih luas, mulai dari kopi mahal, makanan viral, nongkrong di kafe estetik, sampai langganan streaming.

Merangkum dari Yonder Consulting, berikut beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang lipstick effect dan alasan fenomena ini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

Pengertian Lipstick Effect

Lipstick effect adalah perilaku konsumsi masyarakat yang tetap membeli barang kecil atau pengalaman menyenangkan saat ekonomi sedang memburuk. Fenomena ini berkaitan dengan kebutuhan emosional dan psikologis manusia.
Pengertian lipstick effect/Foto: Magnefic.com/Freepik

Istilah ini pertama kali populer ketika para pakar ekonomi menyadari bahwa penjualan kosmetik, terutama lipstik, justru melonjak tajam selama masa Depresi Besar di Amerika Serikat. Ketika rumah, mobil, atau liburan ke luar negeri terasa mustahil untuk dijangkau, sebatang lipstik premium menjadi cara cepat untuk mengurangi stres tanpa menguras rekening bank secara drastis.

Sekarang, bentuk lipstick effect sudah jauh lebih beragam. Fenomena ini bisa terlihat dari kebiasaan membeli kopi kekinian, checkout barang lucu saat diskon, staycation singkat, sampai berburu makanan viral di media sosial. Buat sebagian orang, pengeluaran kecil seperti ini ibarat hadiah setelah menjalani hari yang melelahkan atau menghadapi tekanan hidup yang semakin padat.

Faktor yang Memengaruhi Lipstick Effect

Faktor yang memengaruhi lipstick effect/Foto: Magnefic.com/benzoix

Faktor emosional berupa kecemasan akan masa depan menjadi pendorong utama masyarakat mencari kenyamanan instan melalui pembelian barang-barang kecil. Kondisi psikologis ini kemudian diperkuat oleh maraknya budaya self reward di kalangan generasi muda, yang menganggap pengeluaran kecil jauh lebih masuk akal dibanding memaksakan target finansial besar yang sulit digapai.

Di sisi lain, media sosial memiliki peran besar dalam mengaburkan batasan antara kebutuhan dan keinginan dengan cara membuat gaya hidup konsumtif terlihat sebagai hal yang normal. Paparan konten healing dan tren belanja yang berseliweran setiap hari di timeline secara perlahan memicu rasa takut tertinggal di dalam lingkungan pergaulan.

Fenomena ini kian berkembang berkat kemudahan transaksi digital, seperti fitur paylater dan berbagai promo diskon yang memberikan ilusi bahwa pengeluaran kecil tersebut tidak terasa membebani dompet. Namun, kalau kebiasaan impulsif ini terus dilakukan tanpa kendali, akumulasi pengeluaran kecil tersebut tetap akan mengancam stabilitas keuangan dalam jangka panjang.

Lipstick Effect di Era Digital

Era digital membuat lipstick effect semakin terlihat karena media sosial, tren viral, dan kemudahan transaksi online mendorong masyarakat lebih konsumtif.
Lipstick effect di era digital/Foto: Magnefic.com/Freepik

Di era digital, fenomena lipstick effect berkembang sangat masif karena keputusan belanja masyarakat kini disetir oleh algoritma media sosial melalui konten estetik seperti a day in my life, rekomendasi tempat nongkrong, haul belanja, sampai video self care. Paparan konten yang muncul setiap hari ini secara perlahan mengubah esensi konsumsi, dari yang semula berfokus pada pemenuhan kebutuhan utama menjadi perburuan pengalaman serta validasi sosial di dunia maya.

Kondisi ini juga diperparah oleh tingginya FOMO yang memicu rasa cemas jika tidak ikut mencoba tempat nongkrong atau produk kuliner yang sedang viral di media sosial. Akibat dorongan kuat untuk tetap relevan dengan lingkungan sosial, aktivitas konsumtif berskala kecil ini pun bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan harian yang semakin sulit untuk dipisahkan.

Kemudahan transaksi di era modern turut didukung oleh sistem pembayaran cashless dan promo digital yang membuat proses pengeluaran uang terasa jauh lebih ringan secara psikologis. Tanpa disadari, kemudahan akses dan minimnya kesadaran saat bertransaksi digital inilah yang membuat arus lipstick effect mengalir semakin deras di dalam kehidupan masyarakat urban.

Fenomena Lipstick Effect di Indonesia

Fenomena lipstick effect di Indonesia/Foto: Magnefic.com/tirachardz

Fenomena lipstick effect sangat terasa di kalangan anak muda perkotaan Indonesia yang kini dihadapkan pada meroketnya harga properti dan ketidakpastian finansial jangka panjang. Karena impian memiliki aset besar seperti rumah terasa semakin sulit dicapai, terjadilah pergeseran cara pandang terhadap masa depan.

Banyak generasi muda akhirnya memilih prinsip "hidup cuma sekali" dan mengalihkan fokus mereka untuk menikmati kebahagiaan instan yang lebih realistis dan bisa langsung dirasakan saat ini. Manifestasi nyata dari fenomena lipstick effect adalah menjamurnya budaya nongkrong di kafe sebagai ruang pelarian dari tekanan rutinitas sehari-hari.

Ditambah lagi dengan ikatan budaya sosial masyarakat Indonesia yang erat, dorongan dari lingkungan pergaulan, dan paparan tren viral di media sosial, pengeluaran-pengeluaran kecil ini sering kali dianggap sebagai standar normalitas baru yang harus diikuti. Padahal pengeluaran kecil yang dilakukan secara konstan dan impulsif tanpa kalkulasi yang matang tetap berisiko merusak stabilitas keuangan pribadi.

Cara Mengatur Keuangan di Tengah Fenomena Lipstick Effect

Fenomena lipstick effect memang sulit dihindari, apalagi di era digital yang penuh tren dan godaan konsumtif. Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar tetap bisa menikmati hidup tanpa mengorbankan kondisi finansial.
Cara mengatur keuangan di tengah fenomena lipstick effect/Foto: Magnefic.com/tirachardz

Keinginan untuk melakukan self reward seperti nongkrong atau membeli barang favorit di tengah tekanan ekonomi merupakan hal yang sangat wajar demi menjaga suasana hati. Namun, kalau kebiasaan ini dilakukan secara impulsif tanpa batasan yang jelas, pengeluaran-pengeluaran kecil digunakan untuk self reward akan menumpuk dan mengancam stabilitas keuangan.

Karena itu, penting untuk mulai menetapkan anggaran khusus hiburan setiap bulan agar kita bisa tetap menikmati kesenangan kecil tanpa didera rasa bersalah. Langkah ini juga efektif untuk menyadarkan diri agar tidak terus-menerus berlindung di balik alasan "hadiah untuk diri sendiri" atas konsumsi yang sebenarnya sudah berlebihan.

Di samping itu, kita harus lebih bijak dan sadar dalam menyikapi paparan media sosial agar tidak mudah terjebak dalam gaya hidup konsumtif akibat rasa FOMO. Kunci utama untuk tetap bertahan dari lipstick effect ini adalah menjaga keseimbangan yang sehat agar kebiasaan menyenangkan diri sendiri tidak berubah menjadi sumber stres baru di masa depan.

Fenomena lipstick effect berakar kuat pada psikologi manusia yang membutuhkan validasi, kenyamanan, dan kebahagiaan kecil saat dunia di sekitar sedang tidak baik-baik saja. Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa konsumsi berkaitan erat dengan kondisi emosional dan cara seseorang menghadapi tekanan hidup modern.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE