Mengenal Makna Posesif Menurut Ilmu Psikologi, Seperti Apa Batasannya?

Belinda Safitri | Beautynesia
Minggu, 01 Feb 2026 20:30 WIB
Makna Posesif Menurut Psikologi
Ilustrasi pasangan posesif/ Foto: Freepik.com/freepik

Beberapa waktu lalu, kisah Aurelie Moeremans yang viral lewat bukunya Broken Strings membuka mata banyak orang tentang sisi gelap sebuah hubungan. Di usia yang masih 15 tahun, Aurelie mengaku menjadi korban grooming, manipulasi emosional, hingga kontrol berlebihan yang perlahan membuatnya kehilangan rasa aman dan kebebasan diri. 

Dari luar, hubungan tersebut mungkin terlihat seperti bentuk perhatian dan kasih sayang, padahal di dalamnya tersimpan pola posesif yang berbahaya. Masalahnya, sikap posesif dalam hubungan sering kali tidak langsung terasa sebagai sesuatu yang salah. Awalnya bisa berupa rasa cemburu, ingin selalu tahu aktivitas pasangan, atau meminta perhatian lebih. 

Jika tidak dipahami batasannya, perilaku ini dapat berkembang menjadi kontrol yang menekan secara emosional. Supaya Beauties tidak terjebak dalam situasi serupa, penting untuk mengenali apa sebenarnya makna posesif menurut psikologi dan bagaimana batas sehatnya dalam sebuah hubungan.

Makna Posesif Menurut Psikologi

Ilustrasi pasangan posesif/ Foto: Freepik.com/freepik

Mengutip Psychologs, posesif merupakan bagian alami dari perilaku manusia yang dapat digambarkan sebagai keinginan untuk memiliki atau mengendalikan seseorang. Dalam konteks hubungan, sifat ini sering muncul melalui rasa cemburu, ketergantungan emosional, kecemasan akan kehilangan, hingga dorongan untuk selalu mengetahui aktivitas pasangan. 

Akar dari perilaku ini biasanya berkaitan dengan rasa takut, tidak aman, atau kebutuhan untuk merasa berkuasa atas situasi. Ketika seseorang merasa khawatir kehilangan kontrol atau kasih sayang, perilaku posesif muncul sebagai cara melindungi diri. Jika tidak disadari, pola ini dapat berkembang menjadi kontrol berlebihan yang justru merusak kualitas hubungan.

Posesif Sehat vs.Tidak Sehat

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/jcomp

Beauties, tidak semua sikap posesif selalu berdampak negatif. Posesif yang sehat bisa menjadi tanda kasih sayang, keterikatan, dan keinginan menjaga hubungan. Misalnya, rasa cemburu sesekali yang muncul karena peduli, atau keinginan menghabiskan waktu berkualitas bersama pasangan selama tidak disertai tuntutan berlebihan atau pembatasan kebebasan.

Nyatanya, menghabiskan waktu bersama juga membantu memperkuat ikatan emosional, menjaga kesehatan mental, serta menciptakan kenangan positif. Pasangan yang sibuk sering kali perlu saling mengingatkan pentingnya quality time, tanpa harus mengontrol atau mendominasi satu sama lain. Intinya, posesif sehat tetap menghormati kemandirian, pilihan pribadi, dan ruang tumbuh masing-masing individu.

Sebaliknya, posesif yang tidak sehat bersifat beracun dan berpotensi merusak relasi. Contohnya, membatasi pergaulan pasangan, cemburu berlebihan, mengontrol media sosial, menuntut kabar setiap saat, hingga mengatur keputusan pribadi. Perilaku ini lahir dari ketakutan kehilangan yang tidak dikelola secara sehat, sehingga mendorong seseorang melakukan tindakan ekstrem demi mempertahankan kendali.

Posesif tidak sehat biasanya juga disertai tuduhan tanpa dasar dan penguntitan, yang bisa menimbulkan rasa tertekan, kesepian, dan kehilangan rasa aman. Alhasil, hubungan yang seharusnya memberi dukungan akhirnya justru berubah menjadi sumber stres dan ketidaknyamanan.

Batasan Posesif yang Perlu Diwaspadai

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/tirachardz

Sikap posesif mulai bermasalah ketika perilaku tersebut mengganggu kebebasan, rasa aman, dan relasi sosial seseorang. Berikut beberapa batasan posesif dalam hubungan yang perlu Beauties waspadai:

  • Pasangan melarang atau mengontrol dengan siapa kamu boleh berteman, bahkan menjauhkanmu dari keluarga atau lingkungan terdekat. 
  • Cemburu berlebihan dan kecurigaan muncul terus-menerus, disertai pertanyaan berulang, tuduhan palsu, atau asumsi negatif tanpa bukti jelas.
  • Kontrol berlebihan terhadap ponsel, media sosial, pesan pribadi, atau meminta akses akun tanpa izin sebagai bentuk pengawasan.
  • Tuntutan laporan terus-menerus untuk selalu memberi kabar, lokasi, atau aktivitas secara detail, hingga merasa diawasi setiap waktu.
  • Mengambil alih keputusan pribadi, mulai dari cara berpakaian, pekerjaan, hingga pergaulan, tanpa mempertimbangkan keinginanmu.

Cara Menghadapi Pasangan Posesif Secara Sehat

Ilustrasi pasangan/ Foto: Freepik.com/jcomp

Jika Beauties mulai merasa pasangan menunjukkan sikap posesif yang mengganggu, ada beberapa langkah cara menghadapinya yang bisa dilakukan seperti dilansir dari Marriage:

1. Bangun komunikasi terbuka dan jujur

Sampaikan perasaanmu dengan tenang tanpa menyalahkan atau menyerang. Jelaskan bagaimana perilaku posesif pasangan memengaruhi kenyamanan dan emosimu. Menciptakan ruang dialog yang aman membantu kedua pihak merasa didengar dan lebih terbuka mencari solusi bersama.

2. Tetapkan batasan yang jelas sejak awal

Diskusikan hal-hal yang masih bisa ditoleransi dan mana yang tidak bisa diterima. Kesepakatan ini penting agar masing-masing pihak memahami ruang pribadi, privasi, dan kebutuhan emosional satu sama lain. 

3. Perkuat kepercayaan dan keintiman secara sehat

Bangun kepercayaan dengan saling terbuka, menepati komitmen, dan menghargai kesepakatan bersama. Berbagi kerentanan secara sehat juga membantu menciptakan kedekatan emosional tanpa harus saling mengontrol.

4. Tetap jaga kemandirian dan ruang pribadi

Dorong diri sendiri dan pasangan untuk tetap menjalani hobi, pertemanan, dan aktivitas masing-masing. Memiliki kehidupan pribadi yang seimbang justru membuat hubungan lebih sehat dan tidak bergantung secara berlebihan.

5. Lakukan refleksi diri secara berkala

Luangkan waktu untuk memahami sumber rasa tidak aman atau kecemasan, baik dari diri sendiri maupun pasangan. Kesadaran diri membantu memperbaiki pola hubungan dan mencegah konflik yang berulang.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE