Menurut Psikolog 5 Ungkapan Ini Bisa Membuat Kamu Tidak Disukai

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Kamis, 22 Jan 2026 14:00 WIB
“Sudah, tenang saja.”
Ungkapan Ini Bisa Membuat Kamu Tidak Disukai Menurut Psikolog/Foto: Freepik

Membuat kamu tidak disukai ternyata tidak selalu berawal dari sikap besar atau konflik serius. Dalam banyak kasus, hal tersebut justru muncul dari kata-kata sederhana yang sering kamu ucapkan sehari-hari. Tanpa sadar, niat baik bisa diterjemahkan berbeda oleh lawan bicara.

Psikolog menegaskan bahwa bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk kesan sosial. Dr. Catherine Nobile, Psy.D., seorang psikolog klinis sekaligus pendiri Nobile Psychology di New York, menjelaskan bahwa kata-kata membentuk persepsi dan emosi. Dari situlah, orang menilai siapa kamu sebenarnya.

Kamu mungkin merasa sedang membantu, bersikap jujur, atau memberi solusi. Namun, jika cara penyampaiannya keliru, pesan tersebut justru bisa menjadi pemicu jarak emosional. Inilah alasan mengapa beberapa ungkapan perlu diwaspadai.

Berikut ini adalah ungkapan yang menurut psikolog sering menjadi turn-off. Kalimatnya terdengar sepele, tetapi efeknya cukup kuat dalam interaksi sosial. Yuk, kita bahas satu per satu, Beauties.

“Sudah, tenang saja.”

Ungkapan Ini Bisa Membuat Kamu Tidak Disukai Menurut Psikolog/Foto: Freepik

Ungkapan “sudah, tenang saja” sering keluar secara refleks ketika melihat orang lain emosional. Namun, alih-alih menenangkan, kalimat ini justru kerap memicu reaksi sebaliknya. Lawan bicara bisa merasa emosinya tidak dihargai.

Menurut Dr. Joel Frank, Psy.D., seorang psikolog dari Duality Psychological Services, ungkapan ini berisiko menginvalidasi perasaan seseorang. Ketika emosi ditekan, ketegangan justru bisa meningkat. Situasi pun menjadi semakin sulit dikendalikan.

Sebagai alternatif, kamu bisa menunjukkan empati lebih dulu. Misalnya dengan mengatakan bahwa kamu memahami perasaannya. Setelah itu, barulah ajak mencari solusi bersama dengan nada lebih hangat.

“Aku cuma jujur.”

Ungkapan Ini Bisa Membuat Kamu Tidak Disukai Menurut Psikolog/Foto: Freepik

Kejujuran memang nilai penting dalam hubungan apa pun. Namun, ketika disampaikan tanpa empati, kejujuran bisa terasa menyakitkan. Banyak orang menggunakan kalimat ini untuk membenarkan ucapan kasar.

Dr. Catherine Nobile menjelaskan bahwa frasa ini sering dipakai untuk menghindari tanggung jawab emosional. Lawan bicara merasa diserang, bukan diajak berdiskusi secara sehat. Akibatnya, komunikasi menjadi tertutup.

Agar lebih diterima, kamu bisa mengganti dengan kalimat yang menekankan niat baik. Misalnya dengan menyampaikan bahwa pendapat tersebut bertujuan membangun. Dengan begitu, pesanmu tidak terdengar menghakimi.

“Aku orangnya blak-blakan.”

Ungkapan Ini Bisa Membuat Kamu Tidak Disukai Menurut Psikolog/Foto: Freepik

Kalimat ini sering disampaikan dengan bangga. Namun, bagi pendengar, kesannya bisa arogan. Seolah-olah pendapatmu adalah kebenaran mutlak.

Menurut Dr. Vanessa S. Kennedy, Ph.D., seorang psikolog sekaligus Direktur Psikologi di Driftwood Recovery, tidak ada satu perspektif yang mewakili semua orang. Mengklaim kebenaran tunggal justru membuat orang defensif.

Dr. Kennedy menyarankan untuk menambahkan konteks pribadi. Misalnya dengan mengatakan bahwa itu hanya pendapatmu. Cara ini membuat orang lain lebih terbuka mendengarkan tanpa merasa direndahkan.

“Kan aku sudah bilang.”

Ungkapan Ini Bisa Membuat Kamu Tidak Disukai Menurut Psikolog/Foto: Freepik

Mengucapkan “kan aku sudah bilang” mungkin terasa memuaskan sesaat. Namun, bagi lawan bicara, kalimat ini bisa melukai harga diri. Mereka merasa kegagalannya disorot.

Dr. Joel Frank menjelaskan bahwa ungkapan ini terdengar menggurui dan tidak membantu. Alih-alih mendukung, orang justru merasa dipermalukan. Hubungan pun bisa menjadi renggang.

Pendekatan yang lebih sehat adalah menekankan kerja sama. Kamu bisa fokus pada solusi ke depan. Dengan begitu, suasana tetap positif dan produktif.

“Kenapa sih kamu nggak bisa…?”

Ungkapan Ini Bisa Membuat Kamu Tidak Disukai Menurut Psikolog/Foto: Freepik

Meskipun niatnya memberi solusi cepat, kalimat ini sering terasa menyalahkan. Lawan bicara bisa merasa dianggap tidak mampu. Reaksi defensif pun mudah muncul.

Dr. Catherine Nobile menjelaskan bahwa frasa ini menyiratkan ketidaksabaran. Orang merasa dihakimi, bukan didukung. Akibatnya, komunikasi menjadi tidak sehat.

Sebagai gantinya, kamu bisa bertanya dengan nada empati. Tanyakan apa yang membuat situasi sulit. Cara ini membuka ruang diskusi yang lebih aman.

Kata-kata memang tidak meninggalkan luka fisik. Namun, dampaknya pada hubungan bisa sangat dalam. Dengan sedikit kesadaran, kamu bisa menghindari konflik yang tidak perlu.

Ingat, Beauties, berbicara bukan hanya soal menyampaikan pesan. Namun, juga tentang menjaga perasaan dan koneksi. Saat kamu lebih bijak memilih kata, orang akan lebih nyaman berada di dekatmu.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.