Menurut Psikologi, 5 Kebiasaan Masa Kecil yang Diam-Diam Membentuk Kepribadianmu saat Dewasa

Norma Rini | Beautynesia
Minggu, 26 Jul 2026 20:00 WIB
Menurut Psikologi, 5 Kebiasaan Masa Kecil yang Diam-Diam Membentuk Kepribadianmu saat Dewasa
Ilustrasi perempuan sedang mengenang masa kecilnya sambil melihat album foto/cottonbro studio

Beauties, pernah nggak kamu bertanya-tanya kenapa setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda? Ada yang mudah percaya diri, ada yang selalu ragu mengambil keputusan, ada juga yang sangat mudah merasa bersalah ketika menolak permintaan orang lain.

Ternyata, jawabannya tidak selalu berasal dari pengalaman saat dewasa. Sebagian pola pikir, cara mengelola emosi, hingga kebiasaan dalam menjalin hubungan sudah mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak. Bahkan, kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali bersama orang tua atau lingkungan sekitar dapat meninggalkan pengaruh yang bertahan hingga bertahun-tahun.

Melansir dari American Psychological Association (APA), pengalaman awal kehidupan berperan besar dalam perkembangan sosial, emosional, dan kognitif seseorang. Kebiasaan sehari-hari yang tampak sederhana pun dapat memengaruhi bagaimana seseorang merespons tantangan, mengelola stres, dan membangun hubungan ketika dewasa.

Tentu saja, bukan berarti kepribadian seseorang tidak bisa berubah. Pengalaman hidup, lingkungan, dan proses belajar tetap dapat membentuk diri kita seiring waktu. Namun, memahami kebiasaan yang pernah kita miliki saat kecil bisa membantu mengenali alasan di balik perilaku tertentu saat ini.

1. Dibiarkan Mencoba Menyelesaikan Masalah Sendiri

Anak kecil tampak bebas bereksplorasi dan mencoba menyusun balok mainan/Foto: pexels.com/cottonbro studio

Saat kecil, pernahkah orang tuamu membiarkanmu mencoba memakai sepatu sendiri, menyelesaikan puzzle, atau mencari cara menghadapi masalah kecil tanpa langsung membantu?

Sekilas mungkin terlihat sepele. Namun menurut psikologi perkembangan, pengalaman seperti ini membantu anak membangun rasa percaya pada kemampuannya sendiri atau yang dikenal sebagai self-efficacy.

Psikolog Albert Bandura menjelaskan bahwa self-efficacy berkembang ketika seseorang berhasil menyelesaikan tantangan secara mandiri. Semakin sering anak merasakan keberhasilan tersebut, semakin besar pula keyakinannya bahwa ia mampu menghadapi berbagai situasi baru saat dewasa.

Sebaliknya, jika setiap masalah selalu diselesaikan oleh orang tua atau orang lain, anak bisa tumbuh dengan keraguan terhadap kemampuannya sendiri. Akibatnya, saat dewasa mereka lebih mudah takut gagal atau terlalu bergantung pada validasi orang lain sebelum mengambil keputusan.

Bukan berarti anak harus dibiarkan menghadapi semuanya sendirian. Dukungan tetap penting, tetapi memberi ruang untuk mencoba dan belajar dari kesalahan justru membantu membangun rasa percaya diri yang lebih sehat.

2. Terbiasa Diajak Mengobrol dan Didengarkan Pendapatnya

Orang tua sedang membacakan buku kepada anak sebelum tidur/Foto: pexels.com/Ksenia Chernaya

Beauties, salah satu kebiasaan sederhana yang ternyata berdampak besar adalah ketika orang tua rutin mengajak anak mengobrol. Bukan sekadar memberi perintah, tetapi benar-benar mendengarkan cerita, pertanyaan, atau pendapat mereka.

Menurut psikologi, interaksi seperti ini membuat anak merasa bahwa perasaan dan pikirannya berharga. Mereka belajar mengekspresikan emosi dengan lebih sehat sekaligus memahami cara berkomunikasi dengan orang lain.

Harvard University's Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi positif antara anak dan orang dewasa melalui percakapan dua arah membantu perkembangan otak, kemampuan bahasa, serta keterampilan sosial yang akan terus dibawa hingga dewasa.

Tak heran jika banyak orang yang sejak kecil terbiasa berdiskusi dengan keluarganya cenderung lebih percaya diri saat menyampaikan pendapat, lebih nyaman meminta bantuan, dan tidak mudah merasa takut dihakimi ketika berbicara.

Sebaliknya, anak yang sering diabaikan atau jarang diberi kesempatan berbicara bisa tumbuh dengan kebiasaan memendam pikiran sendiri. Dalam beberapa situasi, mereka bahkan merasa pendapatnya tidak cukup penting untuk didengar.

Meski begitu, pengalaman masa kecil bukanlah penentu mutlak. Kemampuan berkomunikasi tetap dapat dilatih seiring bertambahnya usia melalui lingkungan yang suportif dan hubungan yang sehat.

3. Terbiasa Bermain dan Berinteraksi dengan Teman Sebaya

Anak sedang bermain bersama teman-temannya di taman bermain/Foto: pexels.com/ Thang Nguyen

Beauties, mungkin dulu kamu menganggap bermain bersama teman hanyalah aktivitas untuk bersenang-senang. Padahal, menurut psikologi, momen-momen tersebut menjadi "latihan" pertama bagi anak untuk memahami hubungan sosial.

Saat bermain, anak belajar bergiliran, menyelesaikan konflik, bernegosiasi, meminta maaf, hingga memahami perasaan orang lain. Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian berkembang menjadi empati dan keterampilan sosial saat dewasa.

Karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang yang memiliki pengalaman sosial positif sejak kecil cenderung lebih mudah bekerja dalam tim, lebih mampu memahami sudut pandang orang lain, dan lebih nyaman membangun hubungan baru.

Sebaliknya, anak yang jarang memiliki kesempatan berinteraksi dengan teman sebaya mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa percaya diri dalam lingkungan sosial baru. Meski demikian, keterampilan sosial tetap bisa dipelajari dan dilatih sepanjang hidup melalui pengalaman serta interaksi yang positif.

4. Gemar Membaca atau Punya Rasa Ingin Tahu yang Tinggi

Anak sedang membaca buku sambil duduk tenang di dekat jendela/Foto: pexels.com/Muziyan Du

Tidak semua kebiasaan yang membentuk kepribadian berkaitan dengan cara orang tua mendidik. Kebiasaan sederhana seperti senang membaca buku, bertanya tentang banyak hal, atau suka mencoba pengalaman baru juga dapat memberi pengaruh besar.

Rasa ingin tahu merupakan salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk terus belajar, berpikir kritis, dan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan.

Anak yang terbiasa mengeksplorasi hal-hal baru biasanya tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah takut mencoba sesuatu, lebih terbuka terhadap pengalaman baru, dan memiliki pola pikir berkembang (growth mindset).

Sebaliknya, jika rasa ingin tahu sering dianggap mengganggu atau selalu dibatasi tanpa penjelasan, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih ragu untuk bereksplorasi atau takut melakukan kesalahan.

Karena itu, kebiasaan sederhana seperti membacakan buku, menjawab pertanyaan anak dengan sabar, atau mengajak mereka mencoba aktivitas baru ternyata bisa memberikan manfaat jangka panjang bagi perkembangan kepribadian anak.

5. Terbiasa Mendapat Apresiasi atas Usaha, Bukan Hanya Hasil

Perempuan tersenyum sambil memeluk dirinya sendiri/Foto: pexels.com/Yakup Polat

Kebiasaan terakhir yang sering kali tidak disadari adalah bagaimana orang tua memberikan apresiasi kepada anak.

Pujian yang berfokus pada usaha, ketekunan, dan proses belajar memiliki dampak yang lebih positif dibandingkan pujian yang hanya menyoroti hasil akhir atau bakat semata.

Psikolog Carol Dweck, melalui teori growth mindset, menjelaskan bahwa anak yang terbiasa diapresiasi karena usahanya akan lebih berani mencoba hal baru, tidak mudah menyerah saat gagal, dan melihat tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang.

Sebaliknya, jika anak hanya dipuji ketika berhasil memperoleh nilai tinggi atau memenangkan kompetisi, mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai diri bergantung pada pencapaian. Akibatnya, saat dewasa mereka lebih mudah takut gagal, terlalu keras pada diri sendiri, atau enggan mencoba sesuatu yang berisiko.

Beauties, kabar baiknya, kepribadian bukanlah sesuatu yang sepenuhnya tetap. Meskipun pengalaman masa kecil memiliki pengaruh besar, setiap orang tetap bisa membangun kebiasaan baru, belajar memahami dirinya sendiri, dan berkembang menjadi versi yang lebih sehat seiring bertambahnya usia.

Jadi, kalau kamu menemukan beberapa kebiasaan masa kecil di atas masih memengaruhi dirimu hingga sekarang, tidak perlu langsung merasa khawatir. Mengenal akar dari perilaku kita justru bisa menjadi langkah awal untuk bertumbuh dan membangun hubungan yang lebih baik dengan diri sendiri maupun orang lain.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE