Merasa Jadi "Magnet" bagi Orang Narsistik? Mungkin Kamu Masih Melakukan 4 Hal Ini!
Menarik orang narsistik bisa terasa seperti kutukan yang berulang. Awalnya hubungan terasa sempurna, penuh perhatian, pujian, dan keintiman yang intens. Tapi tak lama kemudian, semuanya berubah. Kamu mulai merasa lelah secara emosional, tidak dihargai, dan perlahan kehilangan diri sendiri.
Menurut Your Tango, hanya sekitar 7,7 persen pria yang benar-benar memiliki Narcissistic Personality Disorder (NPD). Tapi mereka sering tertarik pada tipe perempuan tertentu. Biasanya yang lembut, penyayang, dan sedikit kurang percaya diri. Kalau kamu sering bertemu dengan pria seperti ini, bisa jadi ada pola yang belum kamu sadari.
Nah, sebelum kamu menyalahkan semesta, mari kita bahas empat kebiasaan yang tanpa sadar bisa membuatmu jadi magnet bagi orang yang narsistik.
Kamu Terlalu Sering Merasa Tidak Cukup Baik
Sering Merasa Tidak Cukup Baik/Foto: Freepik
Orang yang narsistik cenderung mencari pasangan yang bisa memperkuat egonya. Menurut Elizabeth Earnshaw, seorang Marriage and Family Therapist, mereka tertarik pada orang yang terlihat sukses dan menarik, tapi punya sisi insecure.
Kamu mungkin punya karier bagus dan penampilan oke, tapi kalau dalam hatimu kamu sering merasa kurang berharga, narsistik akan mencium itu dari jauh. Mereka ingin jadi pusat kekaguman, jadi ketika kamu tak yakin pada dirimu, mereka akan memanfaatkan celah itu untuk mengendalikanmu.
Jadi, mulai sekarang, sadari bahwa rasa cukup berasal dari dalam dirimu sendiri, bukan dari validasi pasangan. Ketika kamu tampil dengan percaya diri dan tidak mudah goyah, orang narsistik akan mundur perlahan.
Kamu Terlalu Sering Memenuhi Keinginan Orang Lain
Memenuhi Keinginan Orang Lain/Foto: Freepik
Menurut Karen Koenig, seorang psikoterapis dan penulis, banyak orang yang menarik pasangan narsistik adalah people-pleaser. Mereka ingin semua orang senang, bahkan jika harus mengorbankan diri sendiri.
Kamu mungkin tumbuh dalam lingkungan yang menuntut kesempurnaan atau takut ditolak jika tidak menuruti orang lain. Nah, orang narsistik sangat tahu cara memanfaatkan sifat itu. Mereka akan memberi perhatian berlebih di awal, lalu perlahan membuatmu merasa wajib terus menyenangkan mereka.
Studi berjudul The Mental Health Implications of People-Pleasing menunjukkan bahwa orang dengan pola people-pleasing sering merasa berharga hanya jika disukai. Padahal, hubungan yang sehat adalah yang memberi ruang bagi dua pihak untuk didengar. Jadi, berhentilah selalu berkata “iya”. Kamu berhak punya batas dan keinginan sendiri.
Kamu Takut dengan Konflik
Takut dengan Konflik/Foto: Freepik
Kalau kamu cenderung menghindari pertengkaran sekecil apa pun, hati-hati, Beauties. Menurut Patti Wood, ahli bahasa tubuh dan penulis, orang narsistik mencari pasangan yang “tinggi kerja sama tapi rendah perlawanan”.
Kamu mungkin berpikir, “Aku cuma ingin damai.” Tapi bagi narsistik, ini sinyal bahwa kamu mudah dikontrol. Mereka akan semakin dominan karena tahu kamu tidak akan melawan, bahkan saat disalahkan.
Riset dari PubMed Central menjelaskan bahwa individu yang takut konflik cenderung menoleransi perilaku buruk dan mengabaikan tanda bahaya demi menjaga “kedamaian”. Akibatnya, hubungan jadi tidak seimbang.
Mulailah melihat konflik sebagai bagian sehat dari hubungan, bukan sesuatu yang menakutkan. Karena batas dan perbedaan pendapat justru melindungi harga dirimu.
Kamu Sering Mengabaikan Red Flag
Sering Mengabaikan Red Flag/Foto: Freepik
Pernah dengar kalimat “dia akan berubah kok”? Nah, ini yang sering membuatmu terjebak lagi. Menurut Patti Wood, salah satu tanda besar narsistik adalah selalu menyalahkan orang lain. Mereka tidak pernah mau bertanggung jawab atas kesalahan sendiri.
Kalau kamu sering menoleransi hal itu, kamu sebenarnya sedang memberi lampu hijau bagi perilaku manipulatif mereka. Mungkin kamu berpikir dia hanya “terluka di masa lalu,” padahal itu cuma cara untuk memancing simpati.
Penelitian tahun 2021 di PubMed Central menemukan bahwa pasangan narsistik sering menampilkan sisi rentan di awal hubungan. Ini membuat lawan jenisnya berharap bisa “menyembuhkan” mereka. Tapi sayangnya, siklus itu justru membuatmu terus terluka. Ingat, kamu tidak bisa memperbaiki seseorang yang tidak mau berubah.
Hubungan dengan orang narsistik bisa menguras energi dan merusak kepercayaan diri. Tapi kabar baiknya, kamu bisa memutus pola itu. Kuncinya adalah kesadaran dan keberanian untuk menetapkan batas yang sehat.
Mulailah dengan mencintai diri sendiri lebih dulu, tanpa bergantung pada validasi siapa pun. Saat kamu kuat secara emosional, orang narsistik tak lagi punya ruang untuk masuk. Jadi, Beauties, kalau kamu ingin berhenti menarik orang narsistik, kenali empat hal tadi dan ubahlah perlahan!
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!