Para Ahli Ungkap 4 Cara Sederhana agar Anak Benar-Benar Mendengarkan
Punya anak yang sulit untuk mendengarkan setiap ucapan orang tua adalah tantangan terberat yang sulit dijelaskan. Namun, pernahkah Beauties berpikir apa penyebabnya? Terkadang, ketidakmampuan atau ketidakmauan anak mendengarkan orang tua berakar dari pola asuh yang diterapkan.
Respons anak adalah cerminan dari bagaimana orang tua bersikap dan merespons. Emosi dan perilaku yang anak tunjukkan sering kali merupakan respons langsung terhadap pola asuh dan lingkungan yang diciptakan di dalam rumah.
Jika anak sudah terlanjur sulit untuk mendengarkan perkataan orang tua, bagaimana cara mengatasinya? Berikut ada empat cara agar anak benar-benar mendengarkan perkataan orang tuanya dengan seksama.
1. Orang Tua Stop Mengatakan Hal yang Sama Berulang Kali dalam Waktu Berdekatan
Interaksi anak dan orang tua/Foto: Magnific.com/Freepik
Anak umumnya tidak suka jika orang tuanya mengulang perkataan atau hal yang sama berulang kali. Mereka dapat terbiasa menunggu untuk merespons sampai kita mengatakan sesuatu untuk kelima kalinya.
Menurut Margret Nickels, PhD., direktur Pusat Anak dan Keluarga di Erikson Institute, Chicago, kata-kata yang diucapkan berulang kali menjadi tidak lebih dari suara latar, mengutip Parents.
Anak cenderung melakukan apa yang diminta jika mereka paham bahwa tindakannya memiliki konsekuensi yang jelas dan dapat ditegakkan. Berikan instruksi spesifik tidak lebih dari dua kali dan konsekuensi yang sesuai jika anak tidak mematuhinya.
Contoh nyata yang sering dialami banyak orang adalah orang tua yang meminta anak untuk merapikan mainannya.
- Permintaan orang tua: “Rapikan mainan LEGO kamu dan kembalikan ke tempatnya.”
- Konsekuensi jika anak tidak mendengarkan dan mengikuti arahan yang diberikan: Mereka tidak boleh main LEGO sepanjang hari. Peringatan pertama masih tidak direspons? Ambil LEGO-nya.
- Jika anak mendengar dan mengikuti arahan: Apresiasi dengan ucapan “Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik.” Ini akan memperkuat keinginan anak untuk memperhatikan dan fokus.
2. Berikan Perhatian Penuh Saat Anak Bercerita
Interaksi anak dan orang tua/Foto: Magnific.com/Freepik
Para orang tua jangan sekali-kali mendengarkan cerita anak sambil bermain ponsel atau menonton TV. Anak yang melihat itu akan menganggap bahwa orang tuanya tidak benar-benar mendengarkan dan terlibat dalam percakapan. Jika orang tua saja bisa abai seperti itu, mengapa anak tidak bisa?
Anak-anak cenderung mencontoh apa yang diterapkan oleh orang sekitarnya. Sebaiknya fokus pada satu bentuk komunikasi dalam satu waktu. Berikan perhatian penuh dengan melakukan kontak mata, mengakui apa yang anak katakan, dan mengajukan pertanyaan.
“Anak-anak merasa diapresiasi dan dihargai ketika orang tua atau orang terdekat meluangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan,” kata Mary Renck Jalongo, PhD., penulis Learning to Listen, Listening to Learn. “Selain itu, anak-anak belajar untuk membalas atau bersikap serupa.”
3. Perbaiki Cara Penyampaian pada Anak
Interaksi anak dan orang tua/Foto: Magnific.com/Freepik
Anak akan benar-benar mendengarkan omongan orang tua ketika mereka tidak hanya dilibatkan melalui indera pendengaran, tetapi juga pendekatan visual dan taktil. Bagaimana dalam praktiknya?
Orang tua menjaga kontak mata langsung sambil meletakkan tangan di bahu anak. Lalu, memintanya untuk mengulang kembali apa yang didengar. Tindakan tersebut untuk memastikan bahwa anak benar-benar mendengarkan dan tidak akan banyak alasan jika suatu saat melanggar aturan yang ada.
Alasan yang dimaksud adalah anak mungkin mengklaim bahwa dia tidak pernah mendengar orang tuanya mengatakan itu (hal yang diperdebatkan). Padahal, sebelumnya ia telah menyanggupi permintaan tersebut.
4. Hindari Memberikan Informasi secara Belebihan pada Anak
Interaksi anak dengan orang tuanya/Foto: Magnific.com/Prostooleh
Kita tahu bahwa otak anak-anak hanya mampu memproses informasi dalam jumlah terbatas. Jadi, setop memaksa anak untuk menerima banyak informasi dalam satu waktu. Mereka butuh penyesuaian terlebih dahulu.
Kebiasaan orang tua paling umum yang sering dilakukan pada anak adalah mengatakan, “Matikan TV-nya, lalu masuk kamar, ganti baju, sikat gigi, dan jangan lupa sisir rambutnya.”
Apakah anak akan mengingat semua itu dalam satu waktu? Belum tentu. Kemungkinan besar mereka tidak akan dapat mengingat apa pun setelah langkah pertama atau kedua.
Namun, jika orang tua memberikan instruksi terlalu samar dan hanya mengatakan sesuatu seperti, “Ayo siap-siap tidur,” mereka mungkin akan melewatkan beberapa langkah yang seharusnya dilakukan sebelum beranjak ke tempat tidur.
Saran terbaik adalah sampaikan informasi secara bertahap dan interaktif agar otak anak dapat memproses dan menyimpannya ke dalam memori jangka panjang. Pikiran anak bisa kacau ketika harus dipaksa menerima informasi secara berlebihan melebihi kapasitas otaknya.
Itu dia pola asuh yang wajib dicoba agar anak benar-benar mendengarkan perkataan orang tua tanpa drama. Gimana menurut, Beauties?
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!