Lebih dari 25 ribu warga Palestina yang terbunuh akibat serangan keji Israel, 70 persennya adalah perempuan dan anak perempuan. Dikutip dari Al Jazeera Plus, dua ibu terbunuh setiap jamnya. Diperkirakan lebih dari satu juta warga Palestina mengungsi.
Bagi perempuan Gaza, ada tantangan berlapis yang mereka hadapi, salah satunya soal isu kebersihan menstruasi. Perempuan di Gaza kesulitan menemukan produk menstruasi hingga air bersih.
Dilaporkan ActionAid, beberapa perempuan di Gaza yang mengungsi di Rafah bahkan sampai harus menggunakan potongan kain tenda sebagai pembalut ketika menstruasi. Tenda tersebut mereka gunakan untuk berteduh dari dinginnya hujan dan panasnya matahari. Tentu, potongan kain tenda tersebut bisa menimbulkan risiko infeksi.
Kurangnya air membuat perempuan Gaza hampir mustahil untuk menjaga kebersihan. Mereka juga mengatakan bahwa mereka sudah berminggu-minggu tidak mandi.
Seorang anggota staf di ActionAid Palestina, yang tidak mau disebutkan namanya, telah tiga kali mengungsi dari rumahnya dan sekarang berada di selatan Gaza.
Dia mengatakan, "Tidak ada air. Saya menderita selama menstruasi. Tidak ada air yang tersedia untuk saya bersihkan selama menstruasi. Saya tidak punya pembalut untuk kebutuhan saya sendiri selama menstruasi."
Rafah saat ini menampung lebih dari satu juta pengungsi, lebih dari empat kali lipat populasi biasanya. Kondisi di Rafah sangat padat dan tidak ada privasi. Antrean toilet sangat panjang, UNRWA memperkirakan bahwa di tempat penampungannya di Rafah hanya ada satu toilet untuk setiap 486 orang.