Pidato Guru Besar UGM Minta Maaf ke Adik yang Rela Putus Sekolah Demi Dirinya, Tuai Komentar Pro Kontra Netizen
Viral di media sosial pidato penuh haru yang disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM), Profesor Sarijaya. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar, Sarijaya menyampaikan permintaan maaf kepada sang adik.
Dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik UGM ini terdengar bergetar dan berkaca-kaca saat membacakan pidato pengukuhan. Beberapa kali ia harus berhenti sejenak membacakan teks pidato untuk menyeka air matanya yang mengalir deras.
Sarijaya menceritakan bahwa orangtuanya tidak memiliki kemampuan baca dan tulis karena tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah. Meski begitu, keduanya tetap gigih menyekolahkan dirinya meski keputusan itu harus mengorbankan pendidikan adik perempuannya. Sarijaya pun mengucapkan permintaan maaf kepada sang adik.
"Secara khusus saya mohon maaf kepada adikku, Suparsih, yang waktu itu terpaksa tidak bisa melanjutkan ke bangku SMA, meskipun dengan nilai ujian SMP yang sangat baik, karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan untuk membiayai sekolah kita berdua secara bersamaan," tuturnya dalam pidato itu, dilansir dari laman resmi UGM.
"Semoga pengorbanan kakak-kakak dan adikku mendapatkan imbalan kebaikan yang lebih banyak dari Tuhan Yang Maha Esa," lanjutnya.
Selesai menyampaikan pidatonya, Sarijaya menghampiri ibunda sambil bersujud dan memeluknya erat. Sarijaya juga menyalami empat saudari perempuannya. Sayang, sang Ayah tidak hadir di momen pengukuhan dirinya karena sudah berpulang.
Komentar Pro Kontra Netizen
Foto: Pexels/Pixabay
Momen penuh haru itu viral di media sosial dan mengundang beragam komentar dari netizen. Seperti biasa, ada yang pro dan kontra.
Beberapa netizen ikut terharu dan menyusut air mata melihat momen penuh haru dari pidato yang disampaikan oleh Sarijaya. Mereka berkomentar perjuangan Sarijaya dan keluarga sangat inspiratif. Tak sedikit netizen yang lainnya juga ikut membagikan kisah perjuangan dirinya saat menempuh pendidikan.
Di sisi lain, ada sebagian netizen yang menyorot stigma bahwa "perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi".
"Iya sih selain himpitan ekonomi biasanya emang anak lelaki yang diutamakan untuk sekolah. Terus anak perempuan karena gak didorong untuk sekolah dibilang beban ekonomi, terus dinikahkan," tulis seorang netizen.
"Semoga aja dia berkontribusi ke kehidupan adiknya dan saudarinya yang lainnya yang kesempatannya dia dapatkan karena dia anak lelaki," lanjut netizen itu.
"Beliau dengan nyebutin gini aja udah nunjukin kalo dia bersyukur dan berterimakasih sama kakak adiknya yang dah berkorban, also dari info komen lain juga ditunjukkin kalo dia nyekolahin anak dari kakak dan adiknya," komentar netizen lainnya.
Terlepas dari pro kontra netizen, stigma soal perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi masih sering beredar. Meskipun banyak yang sudah melek soal kesetaraan gender, namun, stigma ini masih mengakar cukup kuat di masyarakat.
Dalam stigma ini, perempuan dianggap sebagai sosok yang seharusnya hanya berkecimpung di seputar permasalahan rumah tangga. Perempuan dianggap tidak perlu memiliki pendidikan tinggi seperti pria karena dianggap hanya akan menjadi ibu dan mengurus anak di rumah. Selain bentuk diskriminasi bagi kaum perempuan, anggapan ini juga seolah mengisyaratkan bahwa tugas pengasuhan anak hanya diemban oleh sang ibu.
Belum lagi soal stigma jika perempuan menempuh pendidikan tinggi, maka akan sulit mencari pasangan hidup. Sebab, katanya, pria akan minder dengan prestasi perempuan tersebut.
Padahal, pendidikan tidak memandang gender, Beauties. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Dengan menempuh pendidikan, perempuan bisa berdaya dan mendapatkan kesempatan yang sama dengan pria.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!