Pura-pura Eco-Friendly! Ini 7 Tanda Greenwashing yang Harus Kamu Waspadai
Beauties, belakangan ini istilah eco-friendly, sustainable product, produk ramah lingkungan, sampai green lifestyle makin sering kita temui, mulai dari skincare, fashion, makanan, sampai kemasan produk sehari-hari. Namun hati-hati, nggak semua brand yang mengklaim dirinya ramah lingkungan benar-benar berkomitmen pada keberlanjutan.
Fenomena ini dikenal sebagai greenwashing, yaitu strategi pemasaran yang membuat produk terlihat “hijau” padahal praktik aslinya belum tentu berkelanjutan. Supaya kamu nggak salah pilih dan tetap jadi konsumen cerdas, yuk kenali tanda-tanda greenwashing yang sering luput dari perhatian!
1. Klaim “Eco-Friendly” Tanpa Penjelasan yang Jelas
Greenwashing contoh paling sering terjadi saat klaim ramah lingkungan digunakan tanpa penjelasan bahan, proses, atau dampak nyata/Foto: freepik.com/Elen_Art
Salah satu tanda greenwashing paling umum adalah penggunaan istilah seperti eco-friendly, natural, atau green product tanpa penjelasan detail. Beauties, kalau sebuah produk hanya menempelkan label ramah lingkungan tanpa informasi bahan, proses produksi, atau dampak lingkungannya, kamu patut curiga. Menurut Plan A, klaim yang terlalu umum atau buzzword sering kali dipakai untuk menarik perhatian tanpa bukti nyata.
2. Tidak Memiliki Sertifikasi Lingkungan Resmi
Greenwashing adalah praktik ketika brand mengaku sustainable tetapi tidak memiliki sertifikasi lingkungan resmi yang terverifikasi/Foto: freepik.com/The Yuri Arcurs Collection
Menurut IBM, produk yang benar-benar berkelanjutan biasanya didukung oleh sertifikasi lingkungan resmi seperti Green Seal, Fairtrade, B Corp, atau standar ISO lingkungan. Kalau brand mengaku sustainable tapi tidak menyebutkan sertifikasi apa pun, bisa jadi itu hanya strategi greenwashing. Beauties, sertifikasi adalah bukti konkret bahwa klaim keberlanjutan mereka sudah diverifikasi pihak ketiga.
3. Fokus pada Satu Aspek Hijau, Menutup Dampak Lain
Greenwashing contoh strategi green marketing muncul saat brand menonjolkan satu aspek hijau sambil menutup dampak lingkungan lain/Foto: freepik.com/kostikova
Salah satu bentuk greenwashing paling umum menurut Plan A adalah hidden trade-off, di mana perusahaan menonjolkan satu atribut “hijau” (misalnya penggunaan sedikit bahan daur ulang), tapi mengabaikan dampak lainnya seperti emisi tinggi atau limbah produksi. Strategi ini membuat produk terlihat lebih ramah lingkungan secara sebagian padahal secara keseluruhan tidak. Beauties, produk ramah lingkungan seharusnya dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari satu klaim hijau yang dipoles cantik.
4. Desain Kemasan Serba Hijau dan Alam
Apa itu greenwashing dan contohnya bisa terlihat dari kemasan hijau yang memberi kesan ramah lingkungan tanpa bukti data/Foto: freepik.com/EyeEm
Kemasan produk yang penuh dengan gambar daun, bumi, atau warna hijau bukan jaminan bahwa produk itu punya dampak lingkungan yang kecil. Banyak botol dan karton yang dipenuhi visual “green” justru tidak menjelaskan apa pun tentang jejak karbon, penggunaan energi, atau proses produksi yang dilakukan. Menurut Plan A, taktik ini termasuk dalam kategori vague claims dalam greenwashing. Beauties, jangan tertipu tampilan yang lebih penting adalah isi dan proses di balik produk tersebut.
5. Informasi Sulit Dilacak atau Tidak Transparan
Greenwashing adalah ketika klaim ramah lingkungan dibuat tanpa transparansi rantai pasok atau proses produksi yang jelas/Foto: freepik.com/asier_relampagoestudio
Brand yang benar-benar sustainable biasanya transparan soal rantai pasok, bahan baku, dan proses produksinya. Menurut United Nations, kalau informasi ini sulit ditemukan atau sengaja dibuat samar, itu bisa menjadi tanda greenwashing. Beauties, transparansi adalah kunci utama dalam praktik keberlanjutan.
6. Menggunakan Istilah Ilmiah yang Membingungkan
Greenwashing contoh sering memakai istilah ilmiah seperti eco dan natural untuk membangun klaim ramah lingkungan yang ambigu/Foto: freepik.com/benzoix
Greenwashing sering memanfaatkan istilah teknis atau ilmiah yang terdengar canggih tapi sulit dipahami konsumen. Perusahaan sering memakai istilah seperti “natural”, “eco”, atau “green” tanpa standar yang jelas atau pengukuran dampak yang transparan.
Menurut Plan A, hal ini bertujuan untuk terlihat kredibel tanpa harus menjelaskan secara nyata padahal tidak selalu berarti produk itu benar-benar sustainable. Beauties, kalau klaimnya terdengar rumit tapi tidak bisa dijelaskan dengan sederhana, sebaiknya jangan langsung percaya.
7. Kampanye Hijau Besar-Besaran Tapi Tidak Konsisten
Strategi green marketing bisa berubah menjadi greenwashing saat kampanye hijau tidak diikuti aksi keberlanjutan nyata/Foto: freepik.com/freepik
Menurut IBM, greenwashing terkadang hadir lewat kampanye besar-besaran tentang satu inisiatif lingkungan tanpa dukungan tindakan nyata di lapangan atau perubahan operasional yang signifikan. Artinya, dampak yang dijanjikan jauh lebih kecil daripada gambaran besar yang ditampilkan di iklan. Ini sering terjadi di sektor makanan cepat saji, fashion, dan energi.
Beauties, menjadi konsumen yang peduli lingkungan bukan berarti harus percaya semua klaim hijau yang ada. Dengan mengenali tanda-tanda greenwashing, kamu bisa lebih bijak memilih produk ramah lingkungan yang benar-benar sustainable. Ingat, perubahan besar dimulai dari keputusan kecil, termasuk saat kamu memilih produk sehari-hari 💚🌍
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang dapat ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!