STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Ragam Stigma Negatif yang Kerap Dihadapi Ibu Tunggal

Syalma Namira | Beautynesia
Jumat, 30 Sep 2022 07:30 WIB
Ragam Stigma Negatif yang Kerap Dihadapi Ibu Tunggal

Ibu merupakan sosok perempuan yang acap kali dituntut “serba bisa” dalam rumah tangga. Tidak hanya membimbing dan membesarkan anak, peran lain seperti memelihara hunian, dirasa menjadi tugas utama seorang ibu. Namun bagi seorang ibu tunggal atau single mom, tanggung jawab yang dipikul jauh lebih berat.

Ibu yang menjalani kehidupan sebagai single parent atau single mom, memiliki beragam polemik yang harus ia lalui dengan dirinya seorang diri. Mengutip data yang dihimpun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terdapat 258 juta ibu tunggal di seluruh dunia.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa jutaan ibu tunggal di seluruh dunia mencoba bertahan untuk keluarga kecil yang masih berada dalam pelukannya. Namun, acap kali masyarakat melupakan usaha  yang telah dikerahkan oleh seorang ibu tunggal. Masih terdapat banyak stigma yang melekat pada seseorang yang berstatus ibu tunggal. Apa saja? Berikut ulasannya!

Sering Dianggap “Matre” karena Susah Menghidupi Sang Anak

Ibu Tunggal kerap dicap
Ibu Tunggal kerap dicap "Matre"/ Foto:Pexels.com/Karolina Grabowska

Stigma di atas masih kental di Indonesia. Tidak hanya masalah perceraian, mereka harus menanggung stigma bahwa ibu tunggal atau janda merupakan sosok yang haus akan harta atau material.

Mereka dianggap menyusahkan dan tidak mandiri. Padahal, anggapan tersebut belum terbukti kebenarannya. Menjadi ibu tunggal tidak mudah, mereka harus menghidupi anak dan dirinya seorang diri. Tuntutan untuk mengurus sang buah hati ditambah membesarkan dan menghidupinya, merupakan pekerjaan yang harus dilakukan dalam satu waktu oleh satu tenaga.

Harus memikirkan nasib keluarganya seorang diri tanpa teman hidup yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan seorang diri. Stigma menjadi ibu tunggal bersifat “matre” dan konsumtif adalah pandangan yang sampai saat ini belum terbukti kebenarannya secara pasti. Memperbanyak mendengar kisah para ibu tunggal dan berusaha memahami posisi yang mereka lalui merupakan salah satu cara yang bisa Beauties lakukan untuk mendobrak stigma tersebut.

Dicap Haus Kasih Sayang

Ilustrasi ibu dan anakIlustrasi ibu dan anak/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Anastasiia Korotkova

Setelah dianggap haus harta atau material, masyarakat menganggap menjadi ibu tunggal seolah menjadi kesalahan besar hingga “dosa” yang dapat mengancam kehidupan orang lain. Setelah melakukan banyak hal seorang diri untuk bertahan hidup, ibu tunggal diawasi keberadaannya karena dianggap dapat mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain.

Anggapan tersebut, kembali, merupakan kabar burung yang tak berujung. Dengan adanya pandangan tersebut, tanpa disadari membatasi gerak ibu tunggal dalam bersosialisasi hingga memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal permasalahan asmara tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan status yang mereka sandang.

Menjadi ibu tunggal merupakan pilihan yang tentunya sudah mereka pikirkan dengan matang dengan berbagai faktor di belakangnya yang orang lain tidak ketahui dari pengalaman rumah tangga mereka sebelumnya. Penting sekali belajar untuk melihat segala sesuatu dengan kepala dingin dan terbuka serta belajar mengurangi prasangka untuk menghindari dari penghakiman kepada seseorang ya, Beauties!

Dipandang 'Gagal'

Perjuangan seorang Ibu Tunggal dalam menjalani hidup/ Foto:Pexels.com/Keira Burton
Perjuangan seorang Ibu Tunggal dalam menjalani hidup/ Foto:Pexels.com/Keira Burton

Tidak ada yang menginginkan hubungan kandas di tengah jalan, hal tersebut turut dirasakan oleh para ibu tunggal. Namun, kegagalan membina rumah tangga bukan menjadi tolok ukur seorang perempuan adalah sosok yang gagal. Rumah tangga adalah tanggung jawab dua pihak, tidak dengan menyalahkan satu pihak.

Alasan berpisah pun tentu sudah dipikirkan matang-matang demi kebaikan bersama serta tentunya sang buah hati. Anggapan seperti ini masih banyak dilanggengkan oleh masyarakat yang lagi-lagi menjadi standar ganda bagi perempuan.

Apabila seorang ayah tunggal atau duda dianggap menjadi seseorang yang berwibawa dan bertanggung jawab kendati telah berpisah, hal tersebut tidak dirasakan oleh ibu tunggal.  Perlu adanya pemahaman lebih lanjut mengenai peran suami dan istri dalam rumah tangga yang diharapkan tidak menjadi bias dan menjadi standar pada kehidupan sosial, Beauties. Karena, stigma yang bergulir, dapat menutup akses perempuan dalam memenuhi haknya sebagai seorang manusia.

Stigma-stigma yang ditujukan kepada ibu tunggal masih menjadi momok serta keresahan para ibu tersebut. Mengurangi prasangka, tidak menghakimi, dan melihat segala sesuatu dari berbagai sisi sangat penting untuk dilakukan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE