Selalu Mengalah Demi Orang Lain? Bisa Jadi Tanda Echoism yang Jarang Disadari

Anggita Kusmadewi | Beautynesia
Sabtu, 08 Aug 2026 08:00 WIB
Apa Itu Echoism?
Ilustrasi seseorang yang terlihat ragu mengungkapkan pendapat saat berbicara dengan orang lain/Foto: Magnific/katemangostar

Beauties, pernah mendengar istilah echoism atau ekoisme? Meski belum banyak dikenal, kebiasaan yang berkaitan dengan kondisi ini mungkin sering muncul dalam kehidupan sehari-hari kita. 

Kebiasaan ini ternyata bisa terlihat dari hal-hal sederhana. Misalnya, tidak enak menolak permintaan orang lain atau lebih sering mengalah.

Awalnya mungkin terasa biasa saja. Namun, jika terus terjadi sampai kamu jadi sering mengabaikan diri sendiri, bisa jadi itu salah satu tanda echoism. 

Nah, artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai apa itu echoism, tanda yang sering muncul, serta cara mengatasinya berdasarkan sumber dari laman Verywell Mind dan Healthline.

Apa Itu Echoism?

Ilustrasi seseorang yang terlihat ragu mengungkapkan pendapat saat berbicara dengan orang lain/Foto: Magnific/katemangostar

Tidak semua orang yang sering mengalah benar-benar merasa baik-baik saja. Ada yang melakukannya karena takut dianggap egois saat mulai memikirkan dirinya sendiri.

Dalam psikologi, kebiasaan ini dikenal sebagai echoism atau ekoisme. Kondisi ini membuat seseorang sering mendahulukan kebutuhan orang lain dan tanpa sadar mengesampingkan dirinya sendiri.

Michelle English, LCSW, salah satu pakar di bidang kesehatan mental, salah satu pendiri, dan manajer klinis eksekutif di Healthy Life Recovery, mengatakan bahwa orang dengan echoism umumnya sangat rendah hati dan senang membantu orang lain. Namun, mereka sering merasa tidak nyaman saat mendapat perhatian atau pujian.

Hal ini bisa berdampak pada kesehatan mental, mereka cenderung memendam keinginan dan perasaannya sendiri. Tanpa sadar, mereka juga jadi jarang memprioritaskan diri sendiri. 

Penyebab Echoism

Ilustrasi seseorang yang tampak memendam perasaan saat berada di tengah keluarga/Foto: Magnific/freepik

Echoism biasanya terbentuk secara perlahan. Kebiasaan ini sering kali berawal dari pengalaman yang dialami sejak kecil.

Contohnya, ada orang yang sejak kecil terbiasa menahan keinginan karena takut menambah beban orang tua. Kondisi seperti ini bisa membuat seseorang tumbuh dengan kebiasaan lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.

Selain itu, lingkungan keluarga juga punya pengaruh besar. Ketika anak jarang diberi ruang untuk menyampaikan perasaan atau pendapatnya, mereka akan terbiasa memendam semuanya sendiri.

Lama-kelamaan, kebiasaan itu terasa seperti hal yang biasa saja. Sampai akhirnya, pola tersebut terus terbawa sampai dewasa.

Tanda Echoism yang Jarang Disadari

Ilustrasi seseorang yang tampak lebih memilih diam dan mendengarkan orang lain saat berbincang/Foto: Magnific/freepik

Tanda-tanda echoism tidak selalu terlihat jelas. Justru, kebanyakan muncul dari kebiasaan yang sering dilakukan tanpa mereka sadari.

Ada berbagai ciri yang bisa muncul pada seseorang dengan echoism. Meski begitu, tidak semua orang akan mengalami semua tanda tersebut.

Beberapa tanda echoism antara lain:

  • Sulit menyampaikan keinginan atau kebutuhan sendiri.
  • Selalu mengutamakan kebutuhan orang lain.
  • Tidak nyaman saat mendapat pujian atau perhatian.
  • Takut dianggap egois atau terlalu mencari perhatian.
  • Sulit mengatakan "tidak" atau menetapkan batasan.
  • Lebih sering mengikuti keinginan orang lain.
  • Terlalu sering menyalahkan diri sendiri.
  • Selalu setuju dengan pendapat orang lain.
  • Memiliki empati yang tinggi.
  • Jarang meminta bantuan orang lain.

Beauties, salah satu tanda di atas bukan berarti seseorang pasti mengalami echoism. Namun, jika kebiasaan tersebut terus berulang dan terasa mengganggu, bisa jadi ada sesuatu yang perlu kamu perhatikan.

Cara Mengatasi Echoism

Ilustrasi seseorang yang mulai berani menyampaikan pendapatnya/Foto: Magnific/pch.vector

Meski sudah terbentuk sejak lama, echoism tetap bisa diatasi secara perlahan. Prosesnya bisa dimulai dengan usaha dari diri sendiri, dukungan orang terdekat, atau bantuan tenaga profesional.

Salah satu langkah yang bisa dicoba adalah mulai berani menyampaikan apa yang benar-benar kamu inginkan. Misalnya, jujur mengatakan sedang ingin beristirahat di rumah saat menolak ajakan teman pergi keluar.

Kalimat seperti, "Maaf, tapi hari ini aku ingin di rumah saja,” bisa jadi awal untuk belajar menetapkan batasan. Semakin sering dilatih, kamu pun akan lebih percaya diri menyampaikan keinginan.

Jika sebelumnya kamu pernah menjalin hubungan dengan pasangan yang narsistik, prosesnya mungkin terasa lebih panjang. Psikolog klinis Dr. Avigal Lev menjelaskan, bahwa seseorang perlu memahami bagaimana manipulasi tersebut memengaruhi dirinya sebelum benar-benar bisa move on.

Setelah itu, fokuslah untuk kembali mengenali diri sendiri. Perlahan, kamu bisa menemukan lagi nilai dan tujuan hidupmu.

Itulah beberapa hal yang perlu diketahui tentang echoism. Terkadang, kita terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain sampai lupa memperhatikan diri sendiri. Padahal, keduanya sama-sama layak untuk diperhatikan. Kalau menurutmu, adakah kebiasaan di atas yang pernah kamu alami, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE