Beauties, pernahkah kamu mendengar istilah "conscious unbossing"? Istilah ini merujuk pada fenomena di mana pekerja muda, khususnya Gen Z, sengaja menolak promosi ke posisi manajerial. Bukan soal kurang ambisi, tapi lebih pada redefinisi kesuksesan karier menurut generasi ini.
Menurut studi dari perusahaan solusi talenta global Robert Walters, lebih dari separuh (sekitar 52%) profesional Gen Z di Inggris tidak ingin menjadi manajer tingkat menengah. Bahkan, hampir tiga perempat (sekitar 72%) lebih memilih jalur karier individual daripada harus "mengelola" orang lain.
Apa sebenarnya yang membuat Gen Z ogah menjadi bos di tempat kerja? Yuk, simak ulasannya berikut ini!
Stres Tinggi, Imbalan Rendah
Alasan utama Gen Z menghindari posisi manajer adalah persepsi bahwa peran tersebut memiliki tingkat stres yang tinggi tetapi imbalan yang tidak sebanding. Menurut survei Robert Walters, 69% profesional Gen Z menyatakan bahwa posisi manajer tingkat menengah adalah "stres tinggi, imbalan rendah," dikutip dari CTO Magazine.
Lucy Bisset, Director of Robert Walters North, menjelaskan bahwa mereka yang baru memasuki manajemen tingkat menengah mengalami lonjakan beban kerja yang drastis. Ekspektasi untuk "selalu tersedia" bagi tim yang mereka kelola, ditambah tekanan untuk mencapai target pribadi mereka sendiri, membuat peran ini terasa sangat melelahkan.
Survei dari Capterra menemukan bahwa 75% manajer tingkat menengah mengakui merasa kewalahan, stres, hingga burnout. Tidak mengherankan jika Gen Z yang menyaksikan realitas ini memilih untuk tidak mengambil jalur karier tersebut.