Menghadapi sesi wawancara kerja sering kali memicu rasa tegang yang luar biasa, terutama saat kita dihadapkan pada pertanyaan klasik mengenai alasan meninggalkan pekerjaan atau perusahaan sebelumnya. Pertanyaan ini sekilas terdengar sangat sederhana dan biasa saja, tapi dalam realitasnya, ini adalah salah satu titik paling rawan di mana banyak kandidat justru tergelincir dan memberikan jawaban yang keliru.
Bagi kamu yang sedang mempersiapkan diri untuk melamar pekerjaan baru, memahami maksud tersembunyi di balik pertanyaan ini adalah kunci utamanya. Dilansir dari CNBC Make It, Erin McGoff, seorang pakar karier sekaligus penulis buku "The Secret Language of Work", mengungkapkan bahwa pihak pewawancara sebenarnya tidak terlalu ambil pusing dengan detail drama spesifik di balik keputusan resign-mu.
Fokus utama mereka saat mengajukan pertanyaan tersebut adalah untuk mendeteksi adanya tanda bahaya atau red flag sekaligus menganalisis apakah kamu memiliki kecenderungan untuk mengulangi pola yang sama di perusahaan mereka nanti. Agar kamu bisa melewatinya dengan mulus, mari kita bedah strategi menjawabnya secara cerdas, Beauties!
Stop Menjadikan Sesi Interview sebagai Tempat Curhat Colongan
Satu kesalahan fatal yang paling sering dilakukan oleh kandidat adalah memanfaatkan momen ini untuk meluapkan kekesalan, mulai dari menjelek-jelekkan karakter atasan terdahulu, mengeluhkan rekan kerja yang tidak kooperatif, hingga membongkar kultur kerja yang dianggap toksik. Di mata seorang rekruter, gaya penyampaian seperti ini merupakan sinyal negatif yang sangat kuat.
McGoff menegaskan bahwa ketika seorang kandidat mulai membicarakan hal-hal buruk tentang mantan pemberi kerjanya, hal pertama yang ditangkap oleh radar pewawancara adalah kekhawatiran bahwa orang tersebut membawa banyak drama ke dalam tim baru.
Sekalipun pengalaman yang kamu lalui di tempat kerja lama memang sangat tidak menyenangkan, sesi wawancara formal bukanlah wadah yang tepat untuk menumpahkan seluruh kekecewaan tersebut secara gamblang.
Selain itu, McGoff juga mengingatkan faktor realitas bahwa jaringan dalam dunia industri sering kali sangat sempit, sehingga ada kemungkinan besar pewawancaramu mengenal baik lingkungan atau orang-orang di tempat kerja lamamu.