5 Fakta Menarik Wagashi, Dessert Cantik Jepang yang Penuh Makna
Kalau membahas dessert Jepang, mungkin yang langsung terbayang adalah mochi atau dorayaki. Padahal, ada satu jenis manisan tradisional yang nggak kalah menarik, yaitu wagashi. Dessert khas Jepang ini terkenal karena bentuknya yang cantik, detailnya yang mirip bunga atau daun, hingga warna-warnanya yang terinspirasi dari pergantian musim.Â
Menariknya, wagashi juga memperlihatkan bagaimana kuliner, budaya, dan tradisi Jepang saling berkaitan, Beauties. Di balik tampilannya yang memanjakan mata, wagashi menyimpan sejarah panjang dan filosofi yang membuatnya jadi bagian penting dari budaya Jepang.
Yuk, lanjut baca untuk mengetahui fakta-fakta menarik tentang wagashi seperti yang dilansir dari Tokyo Wagashi Association.
Sudah Berkembang Selama Lebih dari 2.000 Tahun
![]() Wagashi/Foto: topntp26 |
Di balik bentuknya yang cantik, wagashi ternyata punya sejarah yang sangat panjang. Cikal bakal dessert tradisional Jepang ini sudah ada sejak lebih dari 2.000 tahun lalu, ketika masyarakat mengolah kacang-kacangan menjadi bubuk lalu membentuknya menjadi bulatan, yang kemudian berkembang menjadi dango. Mochi, yang dikenal sebagai salah satu makanan olahan tertua di Jepang, juga menjadi bagian penting dari awal mula lahirnya wagashi.
Seiring waktu, wagashi terus berevolusi. Pengaruh budaya Tiongkok, berkembangnya tradisi upacara minum teh Jepang, hingga masuknya teknik membuat kue dari Barat membuat jenis dan cara pembuatannya semakin beragam. Masa Edo (1603-1868) menjadi titik penting karena bahan baku lebih mudah didapat, teknik produksi semakin maju, dan para pengrajin menyempurnakan bentuk serta cita rasanya.Â
Lalu, memasuki era Meiji, hadirnya oven modern melahirkan berbagai wagashi baru, termasuk yang dipanggang sehingga terciptalah beragam wagashi yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.
Punya Banyak Jenis
Wagashi ternyata punya banyak jenis,nggak hanya mochi saja/Foto: pexels.com/topntp26
Banyak orang mengira wagashi hanya identik dengan mochi, padahal dessert tradisional Jepang ini punya banyak sekali variasi. Bahkan, nggak ada definisi baku tentang wagashi karena setiap daerah dan pembuatnya bisa menciptakan versi dengan bahan, tekstur, dan cara memasak yang berbeda.
Salah satu contohnya adalah manju, kue berisi pasta kacang yang bisa dibuat dengan cara dikukus atau dipanggang. Isiannya pun beragam, mulai dari pasta kacang merah, kacang polong hijau, kastanye, wijen, yuzu, matcha, hingga miso. Sementara itu, yokan juga hadir dalam berbagai rasa, seperti kacang merah, kacang putih, matcha, wijen, kombu, hingga kastanye dan kesemek kering.
Secara umum, wagashi dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan cara pembuatannya:
- Mochimono - dibuat dari mochi, seperti daifuku, ohagi, dan kashiwamochi.
- Mushimono - dibuat dengan cara dikukus, seperti mushimanju.
- Yakimono - dipanggang, misalnya dorayaki, kurimanju, dan castella.
- Nagashimono - dicetak menggunakan cetakan, seperti yokan.
- Nerimono - dibentuk dari pasta kacang, seperti nerikiri dan konashi.
- Okamono - menggabungkan beberapa bahan menjadi satu, contohnya monaka.
- Uchimono - dicetak lalu dipadatkan, seperti rakugan.
Selain itu, masih banyak wagashi yang dibuat menggunakan bahan khas daerah atau kreasi unik dari para pembuatnya. Jadi, setiap jenis punya bentuk dan cita rasa yang berbeda. Unik, ya?
Punya Bentuk yang Berbeda di Setiap Musim
Wagashi punya bentuk yang berbeda di setiap musim/Foto: pexels.com/Suki Lee
Kalau kamu melihat wagashi di Jepang, jangan heran kalau bentuk dan jenisnya bisa berbeda tergantung musim. Hal ini karena masyarakat Jepang memang punya hubungan yang dekat dengan pergantian musim. Jadi, perubahan alam juga ikut dituangkan ke dalam makanan, termasuk wagashi.
Misalnya, saat Januari ada hanabiramochi, lalu Februari diisi dengan uguisumochi dan kusamochi. Begitu masuk musim semi, kamu bisa menemukan sakuramochi dan hanamidango yang identik dengan bunga sakura. Sementara itu, kashiwamochi biasanya mulai muncul pada Mei dan hanya dijual selama musimnya.
Nggak cuma jenisnya yang berganti, bentuk wagashi juga sering dibuat menyerupai sesuatu yang khas dari musim tersebut. Nerikiri, misalnya, bisa dibentuk seperti pohon pinus, bambu, atau burung bangau pada Januari, bunga plum pada Februari, hingga bunga sakura pada Maret.
Jadi Bagian dari Berbagai Tradisi Jepang
Wagashi ternyata nggak hanya dinikmati sebagai camilan sehari-hari/Foto: pexels.com/topntp26
Wagashi ternyata nggak hanya dinikmati sebagai camilan sehari-hari. Dessert ini juga sering hadir dalam berbagai perayaan dan tradisi yang berlangsung sepanjang tahun di Jepang. Hampir setiap bulan punya momen khusus, mulai dari Tahun Baru atau Oshogatsu pada Januari, Setsubun pada Februari, sampai Hinamatsuri atau Festival Boneka pada Maret.
Di setiap perayaan, biasanya ada wagashi tertentu yang ikut disajikan. Saat Hinamatsuri, misalnya, ada hishimochi dan hinaarare yang menjadi camilan khas. Sementara saat Kodomo no Hi atau Hari Anak pada Mei, masyarakat Jepang biasa menikmati kashiwamochi dan chimaki.
Menariknya, jenis wagashi yang disajikan memang bisa berbeda-beda sesuai acaranya. Jadi, kalau kamu menemukan wagashi dengan bentuk atau warna yang unik, bisa jadi dessert tersebut memang dibuat khusus untuk merayakan tradisi atau momen tertentu di Jepang.
Bahan Dasar Wagashi Didominasi dari Tumbuhan
Bahan pembuatan wagashi cukup sederhana dan berasal dari tumbuhan/Foto: pexels.com/jcomp
Kalau selama ini kamu mengira wagashi dibuat dari bahan yang rumit, ternyata sebagian besar bahan yang digunakan cukup sederhana dan berasal dari tumbuhan, Beauties! Nggak ada aturan khusus tentang bahan yang wajib dipakai sehingga setiap jenis wagashi bisa menggunakan kombinasi bahan yang berbeda.
Beberapa yang sering digunakan antara lain kacang azuki, kacang putih, beras ketan, tepung beras, tepung terigu, gula, agar-agar, tepung kudzu, kastanye, ubi, wijen, dan matcha. Produk hewani sendiri cukup jarang digunakan, dengan telur ayam sebagai salah satu pengecualian.
Salah satu bahan yang paling penting dalam pembuatan wagashi adalah pasta kacang atau anko. Bahkan, pasta ini sering dianggap sebagai “nyawa” wagashi karena rasa akhirnya sangat dipengaruhi oleh kualitas dan cara pembuatannya. Menariknya, setiap toko bisa punya resep dan karakter pasta kacang yang berbeda.
Jenisnya juga cukup beragam. Ada koshian yang dibuat dari kacang azuki tanpa kulit, tsubushian yang masih mempertahankan kulit kacangnya, serta shiroan yang dibuat dari kacang putih. Ada juga uguisuan dari kacang polong hijau, matchaan dengan tambahan matcha, dan gomaan yang menggunakan wijen. Perbedaan pasta kacang bisa membuat rasa setiap wagashi terasa unik.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
