Kalau membahas dessert Jepang, mungkin yang langsung terbayang adalah mochi atau dorayaki. Padahal, ada satu jenis manisan tradisional yang nggak kalah menarik, yaitu wagashi. Dessert khas Jepang ini terkenal karena bentuknya yang cantik, detailnya yang mirip bunga atau daun, hingga warna-warnanya yang terinspirasi dari pergantian musim.
Menariknya, wagashi juga memperlihatkan bagaimana kuliner, budaya, dan tradisi Jepang saling berkaitan, Beauties. Di balik tampilannya yang memanjakan mata, wagashi menyimpan sejarah panjang dan filosofi yang membuatnya jadi bagian penting dari budaya Jepang.
Yuk, lanjut baca untuk mengetahui fakta-fakta menarik tentang wagashi seperti yang dilansir dari Tokyo Wagashi Association.
Sudah Berkembang Selama Lebih dari 2.000 Tahun
|
Wagashi/Foto: topntp26 |
Di balik bentuknya yang cantik, wagashi ternyata punya sejarah yang sangat panjang. Cikal bakal dessert tradisional Jepang ini sudah ada sejak lebih dari 2.000 tahun lalu, ketika masyarakat mengolah kacang-kacangan menjadi bubuk lalu membentuknya menjadi bulatan, yang kemudian berkembang menjadi dango. Mochi, yang dikenal sebagai salah satu makanan olahan tertua di Jepang, juga menjadi bagian penting dari awal mula lahirnya wagashi.
Seiring waktu, wagashi terus berevolusi. Pengaruh budaya Tiongkok, berkembangnya tradisi upacara minum teh Jepang, hingga masuknya teknik membuat kue dari Barat membuat jenis dan cara pembuatannya semakin beragam. Masa Edo (1603-1868) menjadi titik penting karena bahan baku lebih mudah didapat, teknik produksi semakin maju, dan para pengrajin menyempurnakan bentuk serta cita rasanya.
Lalu, memasuki era Meiji, hadirnya oven modern melahirkan berbagai wagashi baru, termasuk yang dipanggang sehingga terciptalah beragam wagashi yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.