8 Makanan yang Sebaiknya Dibatasi untuk Menjaga Kesehatan Paru-Paru

Belinda Safitri | Beautynesia
Selasa, 08 Sep 2026 09:00 WIB
4. Produk Susu
Produk susu/ Foto: Magnific.com/magnific

Beauties, menjaga kesehatan paru-paru bukan hanya soal menghindari asap rokok dan polusi udara. Apa yang dikonsumsi sehari-hari juga turut menentukan kondisi tubuh secara keseluruhan, termasuk berat badan, kesehatan jantung, dan proses peradangan yang pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap sistem pernapasan.

Tidak semua makanan dalam daftar di bawah ini otomatis merusak paru-paru. Namun, konsumsi berlebihan, terutama pada orang yang sudah memiliki asma, atau masalah pernapasan lainnya, dapat menjadi bagian dari pola makan yang kurang mendukung kesehatan.

Lantas, apa saja makanan yang sebaiknya dibatasi untuk menjaga kesehatan paru-paru? Dilansir dari Breathe Clinic Guwahati, simak daftarnya berikut ini! 

1. Daging Olahan

Daging olahan/ Foto: Magnific.com/stockking

Daging olahan seperti sosis, bacon, hot dog, dan berbagai produk daging deli umumnya melewati proses pengawetan yang melibatkan bahan tambahan tertentu. Beberapa di antaranya menggunakan nitrat atau nitrit, sementara produk tertentu juga dapat mengandung sulfit dan natrium dalam jumlah cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, makanan olahan dapat berkontribusi terhadap peradangan dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

Bagi yang memiliki kondisi seperti Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, atau bronkitis kronis, menjaga pola makan secara keseluruhan menjadi semakin penting. Bukan berarti setiap penderita kondisi tersebut harus menghilangkan daging olahan sepenuhnya, tetapi membatasi konsumsinya dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibanding menjadikannya sumber protein utama setiap hari.

Sebagai alternatif, pilih protein yang minim pengolahan seperti ayam segar, ikan, telur, tahu, tempe, lentil, dan kacang-kacangan. Selain menyediakan protein, pilihan tersebut juga dapat membantu membuat pola makan lebih beragam. 

2. Daging Merah

Daging merah/ Foto: Magnific.com/mdjaff

Daging merah seperti sapi atau kambing dapat menjadi sumber protein, zat besi, serta sejumlah nutrisi penting. Namun, masalah dapat muncul ketika konsumsinya terlalu banyak, terlebih jika yang dipilih merupakan potongan tinggi lemak atau daging yang dimasak dengan cara kurang sehat. Pola makan tinggi lemak jenuh juga dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan kardiovaskular yang berkaitan erat dengan fungsi tubuh secara keseluruhan.

Kesehatan jantung dan paru-paru sendiri saling berkaitan dalam mendukung proses pengiriman oksigen ke seluruh tubuh. Karena itu, menjaga pola makan agar tidak terlalu tinggi lemak jenuh dan kalori dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kesehatan kardiorespirasi.

Tak perlu langsung menghapus daging merah dari menu, Beauties. Cobalah memilih potongan yang lebih rendah lemak, mengatur porsinya, serta menyelinginya dengan ikan, tahu, tempe, kacang-kacangan, atau unggas tanpa kulit.  

3. Makanan Goreng dan Cepat Saji

Makanan cepat saji/ Foto: Magnific.com/magnific

Kentang goreng, ayam goreng, gorengan, dan berbagai makanan cepat saji memang sulit ditolak, tetapi konsumsi terlalu sering dapat membuat asupan lemak dan kalori harian melonjak. Beberapa makanan yang digoreng berulang kali atau menggunakan minyak yang kurang baik juga dapat mengandung senyawa yang kurang menguntungkan bagi kesehatan.

Masalah lainnya adalah berat badan, Beauties. Kelebihan berat badan dapat memberikan tekanan tambahan pada sistem pernapasan dan membuat aktivitas fisik terasa lebih berat, terutama pada orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan. 

Sebagai gantinya, makanan dapat diolah dengan cara dipanggang, dikukus, direbus, atau dibakar. Ayam panggang, ikan kukus, kentang panggang, dan sayuran tumis dengan sedikit minyak bisa menjadi alternatif menu yang tetap lezat tanpa harus selalu mengandalkan metode menggoreng.

4. Produk Susu

Produk susu/ Foto: Magnific.com/magnific

Produk susu seperti keju turut masuk daftar makanan yang buruk untuk kesehatan paru-paru karena sering dikaitkan dengan peningkatan produksi lendir. Namun, efek tersebut tidak otomatis terjadi pada setiap orang. Sensasi lendir yang terasa lebih tebal setelah mengonsumsi susu juga dapat berkaitan dengan tekstur makanan dan bukan berarti paru-paru benar-benar memproduksi lendir dalam jumlah lebih banyak.

Meski demikian, orang dengan kondisi pernapasan tertentu mungkin merasa gejalanya lebih tidak nyaman setelah mengonsumsi produk susu. Karena respons tubuh setiap orang berbeda, penderita asma, masalah sinus, atau penyakit paru-paru kronis dapat memperhatikan apakah konsumsi makanan tertentu memang berkaitan dengan munculnya keluhan.

Jika produk susu memang tidak cocok bagi tubuh, alternatif nabati seperti susu kedelai, susu oat, atau susu almond dapat dipertimbangkan. Pastikan juga perhatikan kandungan gula tambahan agar penggantinya tetap menjadi pilihan yang sehat.

5. Makanan Tinggi Garam

Makanan tinggi garam/ Foto: Magnific.com/magnific

Keripik, sup kalengan, makanan beku, mi instan, dan berbagai makanan ultra-proses dapat menjadi sumber natrium yang cukup tinggi tanpa disadari. Masalahnya, asupan natrium yang berlebihan dapat menyebabkan retensi cairan pada sebagian orang dan berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi. 

Bagi yang memiliki penyakit jantung atau kondisi paru-paru tertentu, menjaga asupan natrium sesuai anjuran dapat membantu mengelola kondisi secara keseluruhan. Terkait itu, agar makanan tetap terasa lezat tanpa terlalu banyak garam, manfaatkan rempah-rempah seperti bawang putih, lada, kunyit, jahe, ketumbar, atau perasan jeruk nipis. Membiasakan lidah dengan rasa yang tidak terlalu asin juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap garam secara bertahap.

6. Karbohidrat Olahan

Karbohidrat olahan/ Foto: Magnific.com/Azerbaijan_stockers

Karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi, sehingga bukan berarti roti, nasi, atau pasta harus dihilangkan. Namun, jenis karbohidrat yang dikonsumsi perlu diperhatikan, Beauties. Karbohidrat olahan umumnya memiliki kandungan serat lebih rendah dan dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat lebih cepat dibandingkan sumber karbohidrat yang masih mempertahankan lebih banyak bagian utuh dari bijinya.

Pada penderita PPOK, metabolisme karbohidrat juga menjadi topik yang sering dibahas karena tubuh menghasilkan karbon dioksida ketika memetabolisme zat gizi. Namun, bukan berarti konsumsi nasi putih atau roti secara otomatis membuat seseorang kesulitan bernapas. Yang lebih penting adalah menjaga pola makan secara keseluruhan, termasuk jumlah kalori, kualitas karbohidrat, dan keseimbangan zat gizi.

Bila memungkinkan, asupan karbohidrat dapat diganti dengan beras merah, oat, quinoa, atau roti gandum utuh. Makanan tersebut umumnya memiliki kandungan serat lebih tinggi sehingga dapat membantu rasa kenyang dan mendukung kesehatan pencernaan serta metabolisme.

7. Makanan Kemasan

Makanan kemasan/ Foto: Magnific.com/Azerbaijan_stockers

Makanan ringan kemasan memang praktis untuk menemani aktivitas sehari-hari. Namun, sebagian produk mengandung kadar natrium, gula, lemak, dan berbagai bahan tambahan yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, camilan seperti keripik, biskuit, dan makanan ringan bercita rasa kuat dapat membuat asupan makanan ultra-proses meningkat.

Pada orang yang memiliki asma, alergi, atau penyakit paru-paru kronis, menjaga pola makan yang seimbang dapat menjadi bagian dari gaya hidup untuk mendukung kesehatan. Meski demikian, tidak tepat jika setiap bahan tambahan dalam makanan kemasan langsung dianggap sebagai penyebab serangan asma atau kerusakan paru-paru. Sebab, respons terhadap makanan sangat individual dan kondisi pernapasan memiliki banyak faktor pemicu lainnya.

Kendati begitu, untuk pilihan camilan sehat sehari-hari, buah segar, kacang-kacangan, yogurt dengan sedikit madu, atau makanan rumahan dapat menjadi pilihan. Selain lebih mudah mengontrol bahan yang digunakan, camilan tersebut juga bisa membantu menambah asupan serat dan nutrisi tanpa terlalu banyak natrium atau gula tambahan.

8. Makanan Dingin

Makanan dingin/ Foto: Magnific.com/pvproductions

Makanan dingin seperti es krim sering disebut sebagai makanan yang dapat memperburuk masalah pernapasan. Pada sebagian orang, terutama yang memiliki saluran napas sensitif, makanan yang sangat dingin memang dapat memicu sensasi tidak nyaman, batuk, hidung tersumbat, atau pada kondisi tertentu menjadi salah satu pemicu gejala asma.

Namun, makanan dingin tidak secara otomatis menyebabkan penyakit paru-paru atau infeksi saluran pernapasan. Jika tidak mengalami keluhan setelah mengonsumsi es krim atau minuman dingin, tidak ada alasan untuk menganggap makanan tersebut pasti buruk bagi paru-paru. 

Akan tetapi, jika makanan atau minuman yang sangat dingin memang membuat gejala muncul, pilihlah makanan bersuhu lebih nyaman bagi tubuh. Air putih bersuhu ruang atau minuman hangat tanpa terlalu banyak gula juga dapat menjadi pilihan, terutama ketika tenggorokan terasa kurang nyaman.

Jadi, itulah daftar makanan yang buruk untuk kesehatan paru-paru. Menjaga kesehatan paru-paru tidak cukup hanya dengan menghindari satu atau dua jenis makanan. Yang lebih penting adalah membangun pola makan seimbang dengan memperbanyak makanan utuh seperti sayuran, buah, serta sumber protein berkualitas, sekaligus membatasi makanan ultra-proses, tinggi garam, gula, dan lemak, Beauties! 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE