Buat yang Masih Kecanduan, Ini Bahaya Vaping yang Tidak Boleh Diremehkan!
Memberi Peluang untuk Kecanduan
Foto: https://www.yalemedicine.org/Tidak hanya rokok tembakau, vaping atau e-cigarattes juga mengandung nikotin. Zat nikotin pada kedua rokok tersebut dapat menyebabkan seseorang ketergantungan. Ketika kamu menghirup nikotin maka zat ini akan masuk ke otak. Reaksi otak terhadap nikotin adalah memproduksi hormon yang membuat kamu merasa lebih bersemangat dan berenergi. Tetapi efek ini sangat cepat hilang, yang akhirnya membuat tubuh kamu menjadi lemas dan tidak berenergi. Jadi seketika itu kamu akan terus memerlukan vaping dan membuatmu menjadi kecanduan.
2. Menyebabkan Bronchiolitis Obliterans atau Lebih Dikenal 'Popcorn Lung'
Foto: https://www.t3.com/Bukan hanya kandung zat nikotin saja pada vaping, tetapi zat kimia lainnya yang dapat menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil hingga mengalami penyempitan karena adanya luka. Hal tersebut yang mendasari seseorang terkena penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih dikenal 'popcorn lung'.
Vaping memiliki daya magnet yang berbahaya. Buktinya bisa membuatmu kecanduan dan memberi peluang untuk terkena bronchiolitis obliterans atau lebih dikenal 'popcorn lung'. Bukan hanya itu saja, tetapi pengguna aktif vaping bisa terkena penyakit pneumonia lipoid. Penyakit ini disebabkan saat lipid memasuki paru-paru sehingga menyebabkan paru-paru menjadi meradang.
Jadi, berhentilah untuk menghirup vaping. Sayangilah tubuhmu jika tidak ingin penyakitmu bertambah parah karena penyakit jenis ini dapat berakibat fatal ya, Beautynesian.
3. Menyebabkan Penyakit pneumonia lipoid
Foto: https://www.nzherald.co.nz/Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa vaping bisa menyebabkan penyakit pneumonia lipod? Inilah penjelasan dari Andrew Freeman, MD, seorang ahli paru yang dilansir dari Health.com.
Dia mengatakan bahwa pada katrid uap pada vaping yang dipanaskan untuk menghasilkan uap dan mungkin tetesan lipid aerosol kecil yang dihirup. Ketika sejumlah besar tetesan lipid dihirup ke paru-paru, mereka dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan paru-paru, yang mengarah ke kondisi yang disebut pneumonia lipoid.
Pneumonia lipoid memiliki gejala, seperti nyeri dada, kesulitan bernapas, batuk kronis, dan batuk darah. Beberapa gejala tersebut mirip dengan gejala pneumonia yang disebabkan oleh bakteri. Untuk proses penyembuhan dengan penggunaan oksigen, yang berpotensi selama beberapa bulan dan mengonsumsi antibiotik.
Sumber: Health.com