Sejarah Hantavirus, Bukan Virus Baru dan Sudah Muncul Sejak 1950-an

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Sabtu, 16 May 2026 12:30 WIB
Persebaran Hantavirus Ternyata Berbeda di Setiap Negara
Persebaran hantavirus di berbagai negara/Foto: Freepik

Belakangan ini, publik kembali dibuat penasaran dengan wabah yang dikaitkan sebagai penyakit akibat tikus setelah kasus di kapal pesiar internasional ramai diberitakan. Tidak sedikit orang langsung khawatir karena nama hantavirus terdengar asing dan menyeramkan, apalagi dikaitkan dengan kematian beberapa penumpang dalam waktu singkat.

Padahal kalau menelusuri lebih jauh, sejarah hantavirus ternyata sudah berlangsung sangat lama dan bukan baru muncul beberapa tahun terakhir. Bahkan, virus ini sudah ditemukan di Indonesia sejak puluhan tahun lalu sehingga para peneliti sebenarnya telah lama melakukan investigasi terhadap penyebarannya.

Yuk kita bahas sejarahnya melansir dari detikEdu.

Awal Mula Sejarah Hantavirus Berasal dari Perang Korea

Awal mula hantavirus/Foto: Freepik

Penelitian mengenai hantavirus mulai berkembang setelah Perang Korea berlangsung pada 1951 hingga 1953. Saat itu, ribuan tentara Pasukan PBB mengalami demam berdarah misterius dengan gangguan ginjal yang belum diketahui penyebabnya secara pasti. Kondisi tersebut akhirnya mendorong ilmuwan melakukan penelitian lebih mendalam terhadap penyakit tersebut.

Berdasarkan jurnal Clin Lab Med yang dipublikasikan Mohammed Mir, investigasi ilmiah mengenai virus ini terus berkembang selama beberapa dekade berikutnya. Namun, baru pada tahun 1978 seorang penderita berhasil diisolasi setelah diketahui tertular dari hewan pengerat kecil bernama Apodemus agrarius di dekat Sungai Hantan, Korea Selatan.

Virus tersebut kemudian diberi nama virus Hantaan sesuai lokasi penemuannya. Dari sinilah sejarah hantavirus mulai dikenal luas dalam dunia medis modern. Kasus yang ditemukan kala itu diduga berkaitan dengan lebih dari 3.000 kasus demam berdarah pada tentara setelah perang Korea berakhir.

Hantavirus Pernah Memicu Wabah Serius di Amerika

Wabah hantavirus di Amerika/Foto: Freepik

Perkembangan penelitian hantavirus terus berlanjut hingga tahun 1981 ketika genus Hantavirus resmi diperkenalkan dalam famili Bunyaviridae. Virus ini diketahui menjadi penyebab penyakit haemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS yang menyerang ginjal dan pembuluh darah manusia.

Lalu pada tahun 1993, dunia kembali dikejutkan oleh wabah hantavirus di wilayah barat daya Amerika Serikat. Wabah tersebut menyebabkan gangguan serius pada saluran pernapasan sehingga memunculkan istilah hantavirus pulmonary syndrome atau HPS. Kasus ini juga tercatat dalam arsip Kementerian Kesehatan Indonesia.

Sejak saat itu, perhatian dunia terhadap penyakit akibat tikus semakin meningkat karena gejalanya dapat berkembang cukup berat dalam waktu singkat. Namun sampai sekarang, Beauties, para ahli tetap menegaskan bahwa hantavirus memiliki pola penularan berbeda dibanding virus pernapasan seperti COVID-19.

Persebaran Hantavirus Ternyata Berbeda di Setiap Negara

Persebaran hantavirus di berbagai negara/Foto: Freepik

Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, persebaran hantavirus di dunia dibedakan berdasarkan tipe virusnya. Tipe Hantaan misalnya, banyak ditemukan di Asia Timur seperti China dan Korea, tetapi juga tersebar di sebagian wilayah Rusia.

Sementara itu, tipe Puumala lebih sering ditemukan di Skandinavia, Eropa Barat, dan Rusia bagian barat. Ada juga tipe Dobrava yang dominan di kawasan Balkan serta tipe Saarema yang tersebar di Eropa Tengah dan Skandinavia.

Menariknya lagi, tipe Seoul termasuk salah satu varian yang tersebar hampir di seluruh dunia. Sedangkan tipe Andes lebih banyak ditemukan di wilayah Amerika Selatan, khususnya Argentina dan Chili. Karena persebarannya berbeda-beda, sejarah hantavirus di tiap negara juga memiliki pola perkembangan yang tidak selalu sama.

Indonesia Sudah Mengenal Hantavirus Sejak 1980-an

Hantavirus di Indonesia/Foto: Freepik

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa hantavirus sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak tahun 1980-an. Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menunjukkan angka paparan hantavirus pada manusia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, dari setiap sepuluh orang, setidaknya ada satu orang yang pernah terpapar virus ini meski tidak selalu terdiagnosis.

Pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksinya bahkan bisa mencapai 0 hingga 34 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa virus masih beredar aktif di lingkungan tertentu, terutama wilayah dengan kepadatan rodensia tinggi.

Gejala Hantavirus Sering Mirip Penyakit Lain

Gejala hantavirus/Foto: Freepik

Seseorang yang terinfeksi hantavirus biasanya mengalami gejala awal seperti demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Masalahnya, gejala tersebut sangat mirip dengan beberapa penyakit tropis lain yang lebih umum ditemukan di Indonesia.

Karena kemiripan tersebut, hantavirus sering terlihat seperti demam berdarah, tifoid, atau leptospirosis. Akibatnya, tidak sedikit kasus yang kemungkinan terlewat atau baru diketahui setelah kondisi pasien memburuk. Inilah yang membuat penyakit akibat tikus ini cukup sulit terdeteksi sejak awal.

Penularan hantavirus sendiri umumnya terjadi melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus dapat masuk ke tubuh manusia lewat udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus. Selain itu, kontak langsung dengan rodensia maupun permukaan terkontaminasi juga bisa meningkatkan risiko penularan.

Dalam pedoman nasional dijelaskan bahwa penularan terutama terjadi melalui udara yang terkontaminasi kotoran tikus. Jadi, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular karena menghirup udara terkontaminasi saja sudah bisa memicu infeksi.

Kasus Hantavirus di Indonesia Masih Terus Dipantau

Pantauan kasus hantavirus di Indonesia/Foto: Freepik

Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 23 kasus hantavirus jenis Seoul virus dalam dua tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia sehingga pemantauan terus diperketat di berbagai daerah.

Pada tahun 2026 sendiri, tercatat tambahan lima kasus baru dengan sebaran di beberapa wilayah Indonesia. DKI Jakarta dan DIY menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak, disusul Jawa Barat, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, NTT, Kalimantan Barat, hingga Sulawesi Utara.

Data tersebut menunjukkan bahwa hantavirus masih menjadi perhatian kesehatan yang perlu diwaspadai bersama. Meski begitu, masyarakat juga tidak perlu panik berlebihan karena langkah pemantauan dan investigasi terus dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Meski belakangan ramai dibahas karena kasus di kapal pesiar internasional, faktanya hantavirus bukan virus baru yang baru muncul sekarang. Jejak penyebarannya bahkan sudah diteliti sejak puluhan tahun lalu dan terus menjadi perhatian ilmuwan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat memahami sejarah hantavirus sekaligus cara penularannya agar tidak mudah termakan informasi menyesatkan. Stay safe and stay healthy, ya, Beauties!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.