Sekarang Dianggap Mewah, 10 Makanan Ini Dulunya Dimakan 'Orang Miskin'

Natasha Riyandani | Beautynesia
Kamis, 14 May 2026 13:00 WIB
Sekarang Dianggap Mewah, 10 Makanan Ini Dulunya Dimakan 'Orang Miskin'
Makanan mewah yang dulunya hanya dimakan orang miskin/ Foto: Freepik.com/jcstudio

Bukan sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi harian, makanan yang dimakan seseorang sering kali menunjukkan status sosial dan ekonominya. Ada makanan untuk kalangan atas, menengah, dan tentu saja kalangan bawah.

Makanan untuk kalangan atas alias orang kaya identik dengan cita rasa yang istimewa dan harga yang mahal. Misalnya saja, caviar, truffle, dan escargot, yang biasanya disajikan di restoran fancy dengan harga mencapai jutaan rupiah. Tapi, tahukah kamu kalau ketiga makanan tersebut dulunya tergolong makanan orang miskin karena dianggap menjijikan?

Berikut ini 10 daftar makanan mewah yang dulunya menjadi makanan orang miskin, seperti dilansir dari Tasting Table.

1. Caviar

Caviar/ Foto: Freepik.com/freepik

Siapa sangka, telur ikan Sturgeon (caviar) yang kini dikenal sebagai simbol kemewahan, dulunya merupakan makanan para nelayan karena ketersediaannya yang melimpah. Telurnya dijadikan makanan pokok, sebelum akhirnya populer di kalangan elit Rusia dan Eropa.

Kepopuleran caviar pun mulai meningkat seiring waktu, menjadikannya simbol status sosial. Sayangnya, jumlah permintaan yang melonjak, tidak sebanding dengan populasi ikan Sturgeon dan kerumitan proses panen yang manual, membuatnya dihargai sangat mahal.

Beberapa jenis caviar berharga fantastis seperti Almas Caviar, yang berasal dari ikan Sturgeon Beluga Albino di Laut Kaspia, dihargai mencapai lebih dari USD34.000 (sekitar Rp500 juta – Rp1,6 miliar) per kilogram. Selain itu, ada juga Beluga Caviar, harganya berkisar antara USD7.000 hingga USD22.000 (sekitar Rp120 juta – Rp380 juta) per kilogram.

2. Truffle

Truffle/ Foto: Freepik.com/freepik

Selain rasanya yang enak dan harum, jamur truffle terkenal karena harganya yang selangit. Jamur mewah ini tumbuh liar di bawah tanah, di sekitar akar pohon seperti oak dan hazelnut, sehingga sering dianggap tidak berharga dan hanya dikonsumsi oleh rakyat jelata, atau bahkan pakan babi.

Seiring berjalannya waktu, para koki di Prancis dan Italia mulai mengenali keunikan rasa dan aroma earthy pada jamur ini. Aroma yang dulunya dianggap menyengat itu justru mampu meningkatkan cita rasa makanan.

Namun karena tidak bisa dibudidayakan secara massal, jamur ini menjadi barang langka yang dibanderol harga fantastis. Beberapa jenis truffle termahal, yaitu Alba White Truffle, harganya mencapai lebih dari Rp31 juta – Rp50 juta per 450 gram. Sementara itu, Black Truffle umumnya lebih terjangkau sekitar Rp5,6 juta – Rp13,5 juta per 450 gram.

3. Lobster

Lobster/ Foto: Freepik.com/benzoix

Pada abad ke-17 hingga ke-19, lobster dianggap sebagai “protein orang miskin” di Amerika Utara karena jumlahnya sangat melimpah dan mudah didapat di pinggir pantai. Saking melimpahnya, sering dijadikan makanan narapidana, budak, bahkan digunakan sebagai pupuk dan umpan ikan.

Statusnya pun berubah menjadi makanan mewah pada akhir abad ke-19 setelah perkembangan kereta api yang membawa wisatawan ke daerah pesisir, di mana mereka mencoba lobster sebagai kuliner unik dan menyukainya.

Popularitasnya pun meningkat seiring dengan peningkatan permintaan dan teknik pengalengan yang kian berkembang membuat distribusinya semakin luas. Akibatnya, stok di alam jadi berkurang drastis.

Tahun 1950-an menjadi puncak kemewahan makanan ini, di mana lobster mulai banyak ditemukan di menu restoran-restoran elit sebagai hidangan mewah. Harganya sangat bervariasi, jenis Lobster Laut dihargai kisaran Rp100.000 – Rp1 juta per kilogram. Sedangkan, jenis Lobster Mutiara bisa lebih dari Rp5 juta per kilogram.

4. Fondue

Fondue/ Foto: Freepik.com/freepik

Fondue, yang kini dikenal sebagai hidangan mewah dan ikonis di Swiss, dulunya dianggap sebagai makanan orang miskin. Berawal dari kebiasaan penduduk desa di pegunungan Swiss, mereka mengolah bahan-bahan sisa dan mudah ditemukan seperti keju keras dan roti kering untuk diolah sebagai makanan bertahan hidup saat musim dingin.

Mereka melelehkan keju keras di dalam panci (caquelon) agar bisa dimakan dengan roti kering. Namun karena minimnya alat makan, fondue pun dinikmati dengan cara ditusuk dan dicelup ke dalam satu panci besar untuk bersama-sama.

Seiring berjalannya waktu, teknik dan rasanya pun disempurnakan, seperti ditambahkan anggur putih. Kini, fondue dipopulerkan di restoran Swiss, dengan rata-rata biaya sekitar CHF50 hingga CHF70 (sekitar Rp1,1 juta – Rp1,5 juta) per orang.

5. Escargot

Escargot/ Foto: Freepik.com/fabrikasimf

Jauh sebelum jadi makanan mahal dan lambang kemewahan, dulunya escargot (siput) sempat dianggap sebagai “makanan orang miskin” karena mudah didapat dan gratis. Hewan kecil ini sering dianggap hama yang merusak tanaman, namun kemudian dimanfaatkan sebagai sumber protein.

Escargot bertransformasi menjadi hidangan mewah di Prancis setelah diolah dengan resep haute cuisine (masakan tinggi), yang disajikan sebagai makanan pembuka dengan garlic butter.

Bahkan, escargot yang dibudidayakan khusus untuk restoran berbintang Michelin diketahui memiliki harga yang fantastis. Rata-rata seporsinya (sekitar 6 buah) bisa mencapai Rp300 ribuan. Harganya bisa jauh lebih tinggi, tergantung restoran yang menyajikan.

6. Oyster

Oyster/ Foto: Freepik.com/lifeforstock

Selanjutnya, oyster (tiram) juga termasuk salah satu makanan yang mengalami pergeseran status sosial. Dari makanan murah meriah untuk rakyat jelata menjadi hidangan spesial di restoran mewah.

Pada abad ke-18, panen oyster sangat melimpah sehingga dihargai sangat murah di London dan New York. Makanan laut ini disantap sebagai makanan pokok bagi pekerja pelabuhan dan orang miskin karena mudah didapat dan bergizi.

Namun, populasinya menurun drastis karena overfishing (penangkapan berlebihan) dan perusakan habitat. Hal itu menyebabkan stok oyster menurun dan harganya melonjak tajam. Rata-rata dibanderol mulai dari Rp100.000 hingga lebih dari Rp150.000 per porsi (berisi sekitar 6 pcs).

7. Sushi

Sushi/ Foto: Unsplash.com/FlyD

Sebelum dianggap sebagai makanan mewah, sushi awalnya merupakan cara nelayan miskin di Jepang untuk mengawetkan ikan. Ikan mentah dibungkus dengan nasi dan garam, lalu difermentasi selama berbulan-bulan (nare-sushi).

Pada metode nare-sushi, nasi hanya digunakan untuk proses fermentasi dan dibuang, hanya ikannya yang dimakan. Barulah pada abad ke-19, muncul bentuk sushi modern (nigiri sushi) yang dijual sebagai jajanan pinggir jalan yang praktis dan murah untuk pekerja pelabuhan.

Sejak saat itu, popularitasnya meningkat bersamaan dengan teknik pembuatan yang semakin canggih dan penggunaan bahan-bahan segar berkualitas tinggi seperti otoro (perut tuna), uni (bulu babi), ikura (telur salmon), unagi, fugu, hingga daging kepiting raja.

Untuk harganya, seporsi sushi kualitas tinggi dibanderol mulai dari Rp75.000 (berisi 2-8 pcs). Selain itu, ada juga restoran omakase yang menyajikan sushi dengan bahan musiman, yang menunya disesuaikan dengan kreativitas chef-nya.

8. Ratatouille

Ratatouille/ Foto: Freepik.com/KamranAydinov

Berawal dari makanan bertahan hidup, ratatouille yang sederhana berubah menjadi hidangan mewah yang mendunia. Nama ratatouille berasal dari bahasa Prancis, rata (makanan sisa) dan toui (mengaduk), yang secara harafiah menggambarkan tumisan sayuran.

Ratatouille terbuat dari aneka sayuran seperti zucchini, terong, tomat, dan paprika, yang dimasak dengan minyak zaitun. Dimasak dengan teknik slow-cooked, menghasilkan cita rasa lezat yang sangat khas.

Kini, ratatouille menjadi hidangan ikonis di restoran mewah di Prancis. Harganya dibanderol mulai dari EUR10 hingga EUR20 (sekitar Rp202 ribu – Rp404 ribu) per porsi.

9. Quinoa

Quinoa/ Foto: Freepik.com/KamranAydinov

Selama ribuan tahun lalu, quinoa dikonsumsi oleh masyarakat adat di lembah Andes, Amerika Serikat, sebagai sumber energi utama. Biji-bijian ini tumbuh liar dan mudah dibudidayakan di daerah pegunungan sehingga dianggap makanan kelas bawah di wilayah tersebut.

Namun, reputasi quinoa berubah drastis setelah peneliti menemukan kandungan nutrisi yang luar biasa di dalamnya. Mulai dari protein nabati lengkap, serat, mineral, dan beragam vitamin.

Quinoa kini populer sebagai pengganti nasi yang dinilai lebih sehat, biasanya dikonsumsi untuk diet. Permintaan yang meningkat, namun tidak dibarengi dengan tempat budidayanya membuat harganya melonjak. Dibanderol kisaran Rp150 ribu per kilogram.

10. Brisket

Brisket/ Foto: Freepik.com/bublikhaus

Makanan satu ini menawarkan cita rasa yang tak tertandingi. Brisket (bagian sandung lamur) dulunya dianggap potongan daging yang keras dan alot, berasal dari dada bawah yang menopang berat sapi sehingga sangat dihindari dan dihargai sangat murah.

Namun seiring waktu, para peternak menemukan cara memasak dengan teknik pengasapan lambat (low and slow) selama 12-24 jam, serat daging yang keras bisa berubah menjadi sangat lembut, juicy, dan kaya rasa.

Seiring meningkatnya popularitas BBQ ala Amerika, brisket kini menjadi hidangan premium yang sering disajikan di restoran steak mewah dengan harga tinggi. Untuk brisket premium dibanderol kisaran Rp110.000 hingga Rp180.000 per 250-500 gram, tergantung merk dan kualitas daging.

Nah, itulah beberapa makanan mewah yang dulunya merupakan makanan orang miskin. Beauties pernah mecicipi salah satu makanan di atas?

 ***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE