Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Asam Urat dan Rematik

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Kamis, 05 Feb 2026 17:00 WIB
Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Asam Urat dan Rematik
Ilustrasi nyeri sendi/Freepik: Wiroj Sirodaj

Nyeri sendi yang datang tiba-tiba sering kali membuat banyak orang langsung menyimpulkan dirinya terkena asam urat atau rematik. Padahal, meski sama-sama menyerang sendi dan menimbulkan rasa sakit yang mengganggu aktivitas, kedua kondisi ini bukanlah penyakit yang sama.

Salah mengenali bisa berdampak pada salah penanganan, yang justru membuat nyeri makin sering kambuh atau kondisi sendi semakin memburuk dari waktu ke waktu. Asam urat dan rematik memiliki perbedaan penting mulai dari penyebab, lokasi nyeri, hingga sifat penyakitnya dalam jangka panjang. Sayangnya, perbedaan ini masih sering diabaikan karena gejalanya sekilas tampak mirip.

Agar Beauties, tidak lagi keliru memahami kondisi tubuh sendiri, simak penjelasan lengkap mengenai perbedaan asam urat dan rematik di sini, yuk!

Penyebab

Ilustrasi makanan yang bisa jadi penyebab/Freepik: jcomp

Asam urat dan rematik memiliki penyebab yang sangat berbeda, meskipun sama-sama menimbulkan nyeri pada sendi.

Asam urat terjadi ketika kadar asam urat di dalam darah terlalu tinggi, lalu zat tersebut mengendap dan membentuk kristal kecil yang tajam di persendian. Kristal inilah yang menyebabkan sendi terasa nyeri, bengkak, panas, dan sulit digerakkan. Kondisi ini sering dipicu oleh pola makan tinggi purin seperti jeroan, daging merah, makanan laut, serta kebiasaan minum alkohol.

Hal ini dijelaskan oleh Mayo Clinic bahwa tubuh sebenarnya menghasilkan asam urat secara alami, tetapi ketika jumlahnya berlebihan dan tidak terbuang dengan baik, masalah mulai muncul.

Berbeda dengan itu, rematik atau rheumatoid arthritis bukan disebabkan oleh makanan atau kadar zat tertentu, melainkan karena sistem kekebalan tubuh yang keliru menyerang sendi sendiri. Dalam kondisi normal, sistem imun bertugas melindungi tubuh dari virus dan bakteri. Namun pada rematik, sistem ini justru menyerang lapisan sendi, sehingga terjadi peradangan yang berlangsung lama.

Dokter reumatologi dari Mayo Clinic menjelaskan bahwa inilah alasan mengapa rematik sering berlangsung kronis dan dapat memengaruhi lebih dari satu sendi sekaligus, bahkan bisa berdampak ke bagian tubuh lain jika tidak ditangani dengan baik.

Lokasi Nyeri

Ilustrasi merasa sakit pada kaki/Freepik: freepik

Salah satu cara paling mudah membedakan asam urat dan rematik adalah dengan melihat di bagian sendi mana rasa nyeri paling sering muncul.

Lokasi nyeri asam urat biasanya muncul di satu sendi saja, dan yang paling sering terkena adalah jempol kaki. Rasa sakitnya bisa datang tiba-tiba, sering kali pada malam hari, dan membuat kaki sulit digunakan untuk berjalan. Selain jempol kaki, asam urat juga bisa menyerang pergelangan kaki, lutut, atau siku, tetapi tetap cenderung fokus pada satu titik terlebih dahulu.

Sementara itu, lokasi nyeri rematik biasanya menyerang beberapa sendi sekaligus dan terjadi di kedua sisi tubuh. Misalnya, jika tangan kanan terasa nyeri, tangan kiri sering mengalami keluhan yang sama. Rematik juga lebih sering muncul di sendi kecil seperti jari tangan, pergelangan tangan, dan jari kaki.

Dokter spesialis reumatologi dari Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pola nyeri yang muncul di banyak sendi secara bersamaan ini terjadi karena peradangan dipicu oleh sistem kekebalan tubuh, bukan oleh endapan zat tertentu seperti pada asam urat.

Gejala

Ilustrasi rematik/Freepik: krakenimages.com

Gejala asam urat muncul secara tiba-tiba dan terasa sangat menyakitkan. Sendi yang terkena bisa terasa panas, bengkak, kemerahan, dan nyerinya begitu tajam sampai sulit disentuh atau digerakkan. Banyak penderita asam urat menggambarkan rasanya seperti sendi “terbakar” atau “ditusuk”, dan keluhan ini sering muncul saat malam hari atau setelah mengonsumsi makanan tertentu.

Sementara itu, gejala rematik cenderung muncul perlahan dan berlangsung lebih lama. Nyeri sendi pada rematik biasanya disertai kekakuan, terutama di pagi hari setelah bangun tidur, sehingga tangan atau kaki terasa sulit digerakkan. Selain nyeri, penderita rematik juga sering merasa cepat lelah, badan terasa tidak enak, bahkan kadang disertai demam ringan. Dokter spesialis reumatologi menjelaskan bahwa karena rematik melibatkan sistem kekebalan tubuh, keluhannya tidak hanya terasa di sendi, tetapi juga bisa memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan.

4. Sifat Penyakit

Ilustrasi nyeri sendi/Freepik: freepik

Asam urat dan rematik juga berbeda dari cara penyakit ini berjalan dalam jangka panjang. Asam urat biasanya datang dalam bentuk serangan. Artinya, nyeri bisa muncul sangat parah dalam beberapa hari, lalu perlahan mereda dan bahkan bisa hilang sepenuhnya untuk sementara waktu. Di antara serangan tersebut, penderitanya bisa merasa normal dan tidak merasakan keluhan apa pun. Namun jika tidak dikontrol, serangan asam urat bisa sering kambuh dan dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan sendi.

Berbeda dengan itu, rematik bersifat penyakit jangka panjang yang cenderung terus berjalan. Nyeri dan peradangannya bisa berlangsung lama dan tidak selalu hilang sepenuhnya, meskipun rasa sakitnya kadang naik turun. Karena rematik berasal dari gangguan sistem kekebalan tubuh, peradangan bisa terus terjadi secara perlahan dan merusak sendi dari waktu ke waktu. Dokter spesialis reumatologi menjelaskan bahwa tanpa penanganan yang tepat, rematik dapat membuat sendi berubah bentuk dan mengganggu aktivitas sehari-hari dalam jangka panjang.

5. Penanganan

Ilustrasi konsultasi pada dokter/Freepik: freepik

Penanganan asam urat adalah fokus menurunkan kadar asam urat dalam tubuh dan meredakan nyeri saat serangan muncul. Ketika nyeri kambuh, dokter biasanya memberikan obat untuk mengurangi peradangan dan rasa sakit. Selain itu, penderita asam urat juga dianjurkan untuk mengatur pola makan, menghindari makanan tertentu, memperbanyak minum air putih, serta menjaga berat badan agar serangan tidak sering berulang.

Sementara itu, penanganan rematik lebih berfokus pada mengendalikan peradangan jangka panjang karena penyakit ini berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Obat-obatan yang diberikan bertujuan untuk menekan reaksi imun yang berlebihan agar kerusakan sendi tidak semakin parah.

Selain minum obat secara rutin, penderita rematik juga biasanya disarankan menjalani fisioterapi, tetap aktif dengan olahraga ringan, serta menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Dengan penanganan yang tepat dan konsisten, penderita rematik tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang lebih baik.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiwa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE