Suka Makan Sendirian? Ini 5 Manfaatnya untuk Kesehatan Mental
Makan sendirian sering kali dianggap sebagai tanda kesepian atau kurang pergaulan. Padahal, kebiasaan ini justru bisa memberi dampak positif bagi kesehatan mental jika dilakukan dengan sadar dan tanpa rasa bersalah. Banyak orang mulai menikmati waktu makan sendirian sebagai bentuk perawatan diri di tengah rutinitas yang padat dan penuh tuntutan sosial.
Melansir Calm dan HuffPost, kebiasaan makan sendirian jika dilakukan dengan sadar justru punya manfaat besar untuk kesehatan mental. Bukan soal menjauh dari orang lain, tapi tentang memberi ruang bagi diri sendiri. Berikut 5 manfaat makan sendirian untuk kesehatan mental yang mungkin belum banyak yang tahu.
1. Menciptakan Ruang untuk Mindfulness
![]() Makan sendirian menjadi momen mindfulness untuk terhubung dengan tubuh dan pikiran./Foto: Freepik.com/prostooleh |
Makan sendirian membuka kesempatan langka untuk benar-benar hadir di momen sekarang. Tanpa obrolan, tanpa distraksi sosial, dan tanpa tuntutan untuk merespons orang lain, perhatian kita bisa sepenuhnya tertuju pada aktivitas makan itu sendiri. Kita jadi lebih sadar terhadap rasa makanan, teksturnya, suhu, bahkan bagaimana tubuh bereaksi terhadap setiap suapan.
Praktik mindfulness tidak selalu harus berupa meditasi formal. Aktivitas sehari-hari seperti makan bisa menjadi latihan kesadaran jika dilakukan dengan sengaja.
Saat makan sendirian, kita lebih mudah mengenali sinyal lapar dan kenyang, sehingga membantu mencegah pola makan berlebihan atau emosional. Kesadaran ini juga berdampak positif pada sistem saraf, membantu tubuh keluar dari mode terburu-buru dan masuk ke keadaan yang lebih tenang.
Lebih dari itu, momen makan sendirian sering kali menjadi jeda kecil dari hiruk-pikuk pikiran. Kita belajar memperlambat ritme hidup, meski hanya selama 20 menit. Kebiasaan sederhana ini dapat meningkatkan kualitas hubungan kita dengan makanan sekaligus dengan diri sendiri.
2. Mendukung Proses Dekompresi Emosional
Makan sendirian membantu menciptakan ruang aman untuk dekompresi emosional/Foto: Freepik.com/pvproductions
Setelah seharian berinteraksi, mengambil keputusan, dan mengelola ekspektasi orang lain, banyak orang pulang dalam keadaan mental yang lelah. Makan sendirian bisa berfungsi sebagai ruang aman untuk dekompresi emosional, yaitu sebuah transisi lembut dari kesibukan menuju ketenangan.
Waktu sendirian membantu otak memproses emosi yang tertahan sepanjang hari. Saat makan sendirian, kita tidak perlu menyesuaikan suasana hati dengan orang lain atau berpura-pura baik-baik saja. Jika hari terasa berat, kita boleh merasakannya tanpa harus menjelaskan ke siapa pun.
Bagi sebagian orang, momen ini menjadi waktu refleksi yang alami. Kita bisa menyadari perasaan yang muncul, mengenali sumber stres, atau sekadar menikmati keheningan tanpa tuntutan sosial. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membantu meningkatkan regulasi emosi dan mengurangi penumpukan stres yang sering tidak disadari.
3. Mengurangi Kebiasaan Performatif
![]() Makan sendirian memberi kebebasan untuk menikmati makanan tanpa sikap performatif/Foto: Freepik.com/pvproductions |
Tanpa disadari, makan bersama orang lain sering melibatkan unsur performatif. Kita cenderung menyesuaikan pilihan makanan, porsi, bahkan cara makan agar sesuai dengan norma sosial atau ekspektasi lingkungan. Ada tekanan halus untuk terlihat sehat, sopan, atau terkendali.
Makan sendirian menghilangkan tekanan tersebut. Kita tidak lagi merasa perlu menjelaskan pilihan makanan atau merasa bersalah atas apa yang kita nikmati. Kebebasan ini memungkinkan hubungan yang lebih jujur dengan makanan.
Kebiasaan performatif yang terus-menerus bisa berdampak negatif pada kesehatan mental, terutama bagi yang rentan terhadap overthinking dan self-judgment. Dengan makan sendirian, kita memberi izin pada diri sendiri untuk menjadi autentik, bahkan dalam hal-hal kecil seperti memilih menu makan siang.
4. Menumbuhkan Kemandirian Emosional
Makan sendirian melatih kemandirian emosional/Foto: Freepik.com/senivpetro
Menikmati makan sendirian juga berkaitan erat dengan kemandirian emosional. Kita belajar bahwa kenyamanan dan ketenangan tidak selalu harus datang dari kehadiran orang lain. Ini bukan tentang menolak kebersamaan, melainkan tentang kemampuan untuk merasa utuh saat sendirian.
Makan sendirian menjadi latihan kecil namun bermakna untuk membangun kepercayaan diri internal. Kita belajar menikmati momen tanpa validasi eksternal, yang pada akhirnya membantu kita menghadapi rasa sepi dengan lebih dewasa dan seimbang.
5. Meningkatkan Rasa Percaya Diri
![]() Makan sendirian bantu tingkatkan rasa percaya diri/Foto: Freepik.com/lookstudio |
Ada stigma sosial yang masih melekat pada aktivitas makan sendirian, terutama di ruang publik. Banyak orang merasa canggung atau takut dihakimi saat duduk sendiri di restoran atau kafe. Namun, justru di sinilah potensi peningkatan rasa percaya diri muncul.
Kemampuan menikmati aktivitas sendirian adalah indikator kepercayaan diri yang matang. Ketika kita tidak lagi merasa perlu ditemani untuk merasa nyaman, kita menunjukkan penerimaan terhadap diri sendiri. Dalam jangka panjang, kepercayaan diri ini meluas ke aspek kehidupan lain, mulai dari pengambilan keputusan hingga cara memandang diri sendiri di hadapan dunia.
Makan sendirian menjadi cara sederhana untuk merawat kesehatan mental, mulai dari melatih mindfulness hingga membangun kepercayaan diri. Jadi, jika kita sesekali memilih makan sendiri, tidak perlu merasa aneh atau bersalah. Nikmati momennya, dengarkan diri sendiri, dan jadikan waktu makan sebagai ruang aman untuk menenangkan pikiran dan emosi.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!


