Wajib Tahu! Covidiot, Julukan Bagi yang Mengabaikan Protokol Kesehatan Selama Pandemi Covid-19
Dengan adanya pandemi Covid -19, masyarakat diwajibkan untuk selalu menggunakan masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan ketika sehabis melakukan aktivitas di luar rumah. Namun beberapa orang justru melanggar aturan tersebut dan menganggap virus Covid-19 bukanlah hal yang serius untuk ditangani. Selain itu juga menganggap bahwa virus tersebut hanyalah akal-akalan atau tipuan belaka.
Ada julukan yang diberikan kepada orang-orang yang tidak percaya adanya virus Covid-19, yakni Covidiot. Dilansir dari laman Health, kamus Macmillian mengartikan Covidiot sebagai istilah “menghina” bagi seseorang yang mengabaikan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19, Ladies.
![]() Covidiot tidak menganggap Covid-19 nyata/Foto: freepik.com |
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Covidiot tidak menganggap serius adanya risiko dari Covid-19, terlepas dari apa yang dikatakan pemerintah dan komunitas kesehatan global. Mereka memiliki sifat egois dengan tidak memperhatikan protokol kesehatan, dan hal tersebut dapat memperlambat pandemi Covid-19 selesai.
Tak jarang, banyak masyarakat yang bertindak seolah-olah virus itu tidak ada, mereka akan marah jika diminta untuk memakai masker, atau menganggap gejala Covid-19 hanyalah flu biasa. Mereka juga tetap mengadakan pesta di mana orang-orang tidak akan menjaga jarak atau tidak taat protokol kesehatan.
Lalu mengapa mereka bertindak seperti Covidiot?
Seorang dokter penyakit menular dan profesor penyakit dalam di Northeast Ohio Medical university di Akron, Ohio, bernama Richard Watkins mengatakan bahwa ada beberapa alasan mengapa seseorang bertindak seperti Covidiot.
Tidak memahami situasi
![]() Tidak memahami situasi genting Covid-19/Foto: freepik.com |
Salah satu alasan mereka bertindak Covidiot karena tidak memahami pentingnya situasi sekarang.
“Mereka menyangkal bahwa virus Covid-19 itu ada dan terlihat seburuk (serius) karena diproyeksikan atau diberitakan oleh media,” ujar psikolog di News Hampshire, John Mayer, PhD.
Dengan penyangkalan tersebut, mereka jadi semakin berani dan tidak patuhi protokol kesehatan.
Merasa kebal virus
![]() Merasa kebal terhadap virus Covid-19/Foto: freepik.com |
Orang-orang Covidiot cenderung memiliki pikiran bahwa mereka kebal atau tidak akan sakit dengan virus Covid-19, meski tanpa protokol kesehatan. Timothy Murphy, MD., dekan senior untuk penelitian klinis dan translasi di University at Buffalo Jacobs School of Medicine and Biomedical Sciences, mengatakan bahwa meski mereka berakhir baik-baik saja, tetapi itu tidak berarti orang-orang yang ada di sekitarnya dan telah melakukan kontak langsung akan bernasib sama dengan mereka.
“Mereka mungkin terinfeksi, menularkan virus, kemudian menularkannya kepada orang lain, terjangkit, dan akhirnya meninggal,” katanya.
Alasan politik
![]() Pandemi Covid-19 dianggap berkaitan dengan politik pemerintah/Foto: Pexels.com |
Bagi orang-orang tertentu, adanya pandemi Covid-19 pastinya berkaitan dengan politik dan hanya akal-akalan para petinggi pemerintah.
“Pada segmen lain, menjaga jarak dan mengenakan masker dianggap sebagai isu politik, layaknya aborsi atau pengendalian senjata,” ujar dr. Watkins.



