Waspada! Ini Efek Samping yang Mungkin Terjadi saat Diet Tinggi Protein

Belinda Safitri | Beautynesia
Rabu, 02 Sep 2026 18:30 WIB
Berapa Banyak Protein yang Sebenarnya Dibutuhkan?
Protein/ Foto: Magnific.com/pvproductions

Protein sering menjadi andalan bagi orang yang sedang membangun otot, menurunkan berat badan, atau sekadar ingin merasa kenyang lebih lama. Tak heran, pola makan tinggi protein semakin populer dan membuat banyak orang menambah porsi daging, telur, susu, hingga suplemen protein dalam menu harian.

Namun, bukan berarti semakin banyak protein akan selalu semakin baik ya, Beauties. Jika asupannya terlalu tinggi, terutama ketika protein menggantikan buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, keseimbangan nutrisi justru dapat terganggu. Dilansir dari Health, berikut sejumlah efek samping yang mungkin terjadi saat diet tinggi protein!  

1. Membebani Kerja Ginjal

Membebani kerja ginjal/ Foto: Magnific.com/8photo

Bagi orang yang memiliki ginjal sehat, konsumsi protein lebih tinggi umumnya masih dapat ditoleransi tubuh. Namun, situasinya berbeda bagi yang sudah mengalami penyakit ginjal. Ginjal bertugas menyaring berbagai produk sisa yang terbentuk ketika protein dipecah, sehingga peningkatan asupan protein dapat menambah pekerjaan organ tersebut.

Penderita penyakit ginjal kronis kerap disarankan membatasi protein hingga tidak lebih dari 0,8 gram per kilogram berat badan per hari. Jenis protein juga perlu diperhatikan, asupan protein hewani dalam jumlah tinggi lebih erat dikaitkan dengan tanda-tanda stres pada ginjal, sementara protein nabati dinilai lebih ramah bagi ginjal. 

2. Menimbulkan Masalah Pencernaan

Masalah pencernaan/ Foto: Magnific.com/8photo

Bahaya konsumsi terlalu banyak protein yang berikutnya adalah dapat menimbulkan masalah pencernaan. Ini muncul ketika diet tinggi protein dibarengi dengan memangkas terlalu banyak makanan sumber karbohidrat dan serat. Pola makan seperti diet rendah karbohidrat atau keto, misalnya, dapat membuat konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh ikut berkurang.

Padahal, makanan tersebut menyediakan serat yang dibutuhkan bakteri baik di dalam usus. Jika asupan serat terlalu rendah, keanekaragaman mikrobiota usus dapat terganggu dan pencernaan menjadi kurang optimal. Akibatnya, sebagian orang dapat mengalami sembelit, kembung, atau rasa kenyang yang terlalu lama.  

3. Mengurangi Asupan Nutrisi Penting Lain

Mengurangi asupan nutrisi lainnya/ Foto: Magnific.com/magnific

Protein memang merupakan salah satu makronutrien utama yang dibutuhkan tubuh untuk memperbaiki dan memperkuat jaringan, Beauties. Namun, kebutuhan protein bukan berarti harus membuat makanan lain kehilangan tempat di piring. Diet yang terlalu berfokus pada daging, telur, atau produk protein lainnya dapat membuat konsumsi makanan nabati menjadi jauh lebih sedikit.

Pola makan tinggi protein dengan fokus rendah karbohidrat dapat mengurangi konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, polong-polongan, dan biji-bijian utuh. Padahal, kelompok makanan tersebut merupakan sumber serat, prebiotik, antioksidan, dan fitonutrien.

Jika kondisi ini berlangsung lama, pola makan bisa menjadi kurang seimbang. Asupan serat, vitamin C, folat, magnesium, serta antioksidan nabati berpotensi lebih rendah. Jadi, meningkatkan protein sebaiknya bukan berarti menghapus kelompok makanan lain, melainkan menyusun komposisi menu agar kebutuhan berbagai nutrisi tetap terpenuhi.

4. Memengaruhi Kesehatan Jantung

Memengaruhi kesehatan jantung/ Foto: Magnific.com/stefamerpik

Ketika diet tinggi protein sebagian besar berasal dari makanan hewani, terutama daging merah dan daging olahan, perhatian terhadap kesehatan jantung menjadi lebih penting. Sejumlah penelitian mengaitkan pola konsumsi protein hewani yang tinggi dengan risiko kesehatan yang lebih besar dibandingkan pola makan yang memasukkan lebih banyak protein nabati.

Beberapa protein hewani memiliki kandungan metionin lebih tinggi yang dapat meningkatkan homosistein dalam darah. Jika kadar homosistein terus tinggi dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak buruk pada pembuluh darah dan kesehatan kardiovaskular.

Olehnya itu, mengganti protein hewani, terutama daging merah olahan, dengan protein nabati secara konsisten dikaitkan dengan kesehatan jangka panjang yang lebih baik. Secara khusus, kacang-kacangan dan polong-polongan juga dapat memberikan serat serta berbagai nutrisi yang tidak selalu didapatkan dari produk hewani. 

5. Meningkatkan Risiko Batu Ginjal

Meningkatkan risiko batu ginjal/ Foto: Magnific.com/Azerbaijan_stockers

Pola makan yang sangat tinggi protein, khususnya protein dari makanan hewani, juga perlu diwaspadai jika memiliki riwayat batu ginjal. Asupan protein yang tinggi khususnya dari daging dapat menurunkan pH urine, mengurangi kadar sitrat, dan meningkatkan kalsium dalam urine. Kombinasi perubahan tersebut dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung terbentuknya batu ginjal.

Studi menemukan bahwa orang dengan konsumsi daging memiliki risiko batu ginjal sekitar 20 persen lebih tinggi. Meski demikian, risiko setiap orang dapat berbeda sehingga riwayat kesehatan, pola makan keseluruhan, dan kecukupan cairan tetap perlu dipertimbangkan.

Berapa Banyak Protein yang Sebenarnya Dibutuhkan?

Protein/ Foto: Magnific.com/pvproductions

Ahli gizi, Doug Cook RD, menyatakan bahwa orang dewasa sehat dan aktif dapat menargetkan sekitar 1–1,6 gram protein per kilogram berat badan per hari. Asupan hingga 2 gram per kilogram berat badan juga disebut masih aman bagi yang ingin membangun otot, asalkan tidak sampai menggantikan kelompok makanan penting lainnya.

Sebaliknya, mengonsumsi lebih dari sekitar 2–2,5 gram per kilogram berat badan cenderung memberikan manfaat tambahan yang semakin kecil, Beauties. Pada kelompok tertentu, asupan setinggi itu juga dapat meningkatkan risiko, terutama jika sebagian besar protein berasal dari makanan hewani dan mengorbankan makanan nabati kaya serat.

Kesimpulannya, diet tinggi protein tidak harus berarti makan protein sebanyak-banyaknya. Kuncinya adalah menyesuaikan kebutuhan tubuh, memilih protein yang beragam, mencukupi serat dan cairan, serta tidak mengorbankan sumber nutrisi lainnya dari buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE