Dulunya Viral, Ini Alasan Masker Putih Telur Tidak Disarankan

Belinda Safitri | Beautynesia
Rabu, 04 Feb 2026 13:30 WIB
Dulunya Viral, Ini Alasan Masker Putih Telur Tidak Disarankan
Alasan masker putih telur tidak disarankan/ Foto: Herzindagi

Masker putih telur sempat menjadi salah satu tren perawatan kulit DIY yang viral dibicarakan di media sosial. Banyak orang kemudian mencobanya karena dianggap alami, murah, dan mudah dibuat di rumah. Klaim yang beredar tentang penggunaan masker ini pun beragam, mulai dari membantu mengatasi jerawat hingga membuat kulit tampak lebih kencang.

Namun, seiring meningkatnya kesadaran soal keamanan dan efektivitas skincare, para ahli mulai menyoroti kembali penggunaan bahan mentah langsung ke kulit. Berdasarkan pandangan dermatolog dan sejumlah referensi medis, masker putih telur ternyata memiliki manfaat yang sangat terbatas dan justru menyimpan beberapa risiko yang perlu diwaspadai.

Apa Masker Putih Telur Benar-Benar Bermanfaat untuk Kulit?

Masker putih telur/ Foto: Freepik.com/benzoix

Kandungan protein dalam masker putih telur sering dianggap sebagai alasan utama manfaat perawatan ini. Secara teori, putih telur memang mengandung nutrisi seperti protein dan enzim tertentu yang dianggap berpotensi memberikan efek positif pada kulit, termasuk sensasi kencang dan tampilan kulit yang lebih halus.

Mengutip Everyday Health, beberapa penelitian awal menyoroti protein putih telur seperti lisozim yang memiliki sifat antibakteri dan anti-inflamasi, sehingga secara teori dapat membantu mengatasi jerawat. Riset lain juga sempat meneliti penggunaan salep berbahan putih telur untuk pengobatan luka bakar. Namun, konteks penelitian ini sangat spesifik dan dilakukan dalam kondisi medis yang terkontrol.

Adam Friedman, MD, dokter kulit bersertifikasi sekaligus ketua departemen dermatologi di Fakultas Kedokteran Universitas George Washington, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti klinis kuat yang mendukung penggunaan putih telur mentah sebagai perawatan topikal wajah. Efek kulit terasa kencang setelah pemakaian lebih mungkin disebabkan oleh protein seperti ovalbumin yang mengering di permukaan kulit, sehingga hanya bersifat sementara secara visual.

“Lapisan protein mungkin hanya memberikan manfaat visual atau bahkan sentuhan sesaat, tetapi itu tidak menghasilkan manfaat kesehatan kulit yang berarti dan tahan lama atau manfaat anti-penuaan,” kata Friedman.

Perlu dicatat pula bahwa meski albumen (putih telur) kerap ditemukan dalam beberapa produk skincare modern yang banyak dijual di pasaran, bahan tersebut telah melalui proses manufaktur, pengeringan, dan pengujian keamanan yang ketat. Hal ini sangat berbeda dengan putih telur mentah rumahan yang tidak diproses, tidak distandarisasi, dan tidak diuji dalam lingkungan terkontrol.

Alasan Masker Putih Telur Tidak Disarankan

Masker putih telur/ Foto: Derm Collective

Meski terlihat sederhana, penggunaan putih telur mentah pada wajah bukan tanpa risiko. Dermatolog justru menilai bahwa potensi efek sampingnya lebih nyata dibandingkan manfaatnya, terutama bila digunakan secara rutin atau pada kulit sensitif. Berikut beberapa bahaya masker putih telur:

1. Risiko Reaksi Alergi

Kontak langsung dengan putih telur mentah dapat menyebabkan reaksi alergi, bahkan pada orang yang sebelumnya tidak pernah didiagnosis alergi telur. Paparan ini bisa terjadi melalui kulit atau secara tidak sengaja masuk ke mulut, hidung, maupun mata saat penggunaan masker.

Reaksi yang muncul dapat berupa gatal hebat, ruam, biduran, hingga gangguan pernapasan pada kasus yang lebih serius. Karena reaksi alergi bersifat tidak terduga, penggunaan bahan mentah seperti putih telur di wajah menjadi semakin berisiko.

2. Risiko Infeksi Salmonella

Putih telur mentah dapat terkontaminasi bakteri salmonella yang berpotensi menyebabkan infeksi serius. Risiko ini meningkat jika kulit memiliki luka kecil, goresan, atau iritasi saat masker diaplikasikan.

Infeksi juga dapat terjadi jika campuran putih telur tidak sengaja masuk ke hidung, mulut, atau mata. Kelompok rentan seperti bayi, lansia, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi jika terpapar bakteri ini.

3. Iritasi dan Dermatitis Kontak

Protein dalam putih telur mentah dapat menyebabkan iritasi atau dermatitis kontak, yaitu peradangan kulit akibat paparan zat tertentu. Kondisi ini cukup umum terjadi, sehingga risiko iritasi dinilai lebih tinggi dibandingkan kemungkinan manfaat yang diperoleh.

Para ahli juga mengingatkan bahwa mengoleskan makanan mentah ke kulit bukanlah praktik perawatan yang aman, terutama jika terdapat luka atau cedera baru. Dalam kondisi tersebut, putih telur mentah bahkan berpotensi memicu infeksi sekunder yang memperburuk kondisi kulit.

Singkatnya, meski sempat viral dan terlihat alami, masker putih telur tidak menawarkan manfaat signifikan yang sebanding dengan risikonya. Dengan banyaknya produk skincare yang telah teruji secara klinis, memilih perawatan yang aman dan sesuai kondisi kulit tetap menjadi langkah terbaik.

Jika tetap ingin memanfaatkan bahan alami untuk merawat kulit, gunakan yang keamanannya sudah lebih teruji. Beberapa bahan alami dengan risiko lebih rendah, lebih banyak diteliti, dan berpotensi lebih efektif yang dapat digunakan di rumah contohnya oatmeal, lidah buaya atau madu. 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiwa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE