sign up SIGN UP

Ini Alasan Mengapa Harga Tas Mewah Selalu Naik Setiap Tahun dan Konsumen Justru Semakin Antusias

Rayoga Firdaus | Rabu, 27 Oct 2021 12:10 WIB
Ini Alasan Mengapa Harga Tas Mewah Selalu Naik Setiap Tahun dan Konsumen Justru Semakin Antusias
caption
Jakarta -

Beberapa pekan lalu terjadi kehebohan mengenai pembatasan pembelian tas Chanel di Korea Selatan karena maraknya aksi jual kembali dengan harga yang lebih tinggi, padahal sebelumnya Chanel sudah tiga kali menaikkan harga produknya di negara tersebut. Melakukan kenaikan harga produk terutama tas di tiap tahun adalah hal yang wajar dilakukan oleh para label fashion mewah. Bahkan di tahun 2020 lalu ketika sebagian negara memberlakukan kebijakan lockdown, perekonomian turun, label fashion seperti Louis Vuitton, Dior dan Chanel tetap menaikkan harga barangnya.

Hal tersebut malah tidak mengurangi antusias konsumen untuk membeli tas atau barang mewah lainnya. Pada laporan keuangan LVMH tahun 2020, grup perusahaan pemilik Louis Vuitton dan Dior mengungkapkan bahwa pendapatan kedua label miliknya tersebut naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya, kenaikan terjadi di kuartal ketiga dan keempat. Padahal keduanya sempat menaikkan harga.

Lalu apa yang mendasari para label fashion mewah ini untuk terus menaikkan harga produknya, dan mengapa konsumen tetap antusias untuk berbelanja? Berikut rangkumannya.

Tingginya Permintaan

5 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Membeli Tas Branded Pertama KaliStreet style/ Foto: livingly.com/IMAXtree


Alasan pertama tentu adalah tingginya permintaan. Selama tahun 2020, di mana konsumen yang biasanya berlibur justru tertahan di rumah. Biaya rutin untuk berlibur tersebut akhirnya mereka belanjakan untuk membeli barang branded. Konsumen tidak terlalu terpengaruh dengan kenaikan harga karena mereka justru lebih cemas jika tidak mendapatkan barang yang diinginkan. Ketika beredar rumor bahwa Chanel akan menaikan harga tas di pertengahan tahun 2020, kehebohan terjadi di Korea Selatan dan China.

Korea Times melaporkan bahwa konsumen di Seoul antri sejak pagi di depan salah satu butik Chanel demi mendapatkan tas sebelum harga naik. Apalagi semenjak pandemi, Chanel mengurangi kapasitas produksi hingga barang pun semakin langka.

Penyetaraan Harga

Street styleStreet style/ Foto: livingly.com/IMAXtree


Sebelum pandemi Covid-19, penjualan barang mode mewah bergantung pada industri pariwisata Eropa. Turis asal China yang berlibur di Eropa adalah target pasar mereka. Mengapa? Karena bukan rahasia lagi bila harga produk fashion di Eropa sedikit lebih murah dibanding di wilayah lainnya.

"Label-label ini mendapatkan persentase penjualan paling tinggi dari turis asal China yang berlibur ke Eropa. Karena harga barang mewah di China 25 sampai 30 persen lebih mahal dibanding di Eropa. Banyak dari mereka yang pergi ke Prancis atau Italia hanya untuk berbelanja barang mewah," tegas Diana Nguyen, pemilik situs jual beli preloved barang mewah bernama Lux Second Chance pada South China Morning Post.

Menaikkan harga juga bertujuan untuk melakukan penyetaraan demi mencegah aksi borong konsumen di satu wilayah dan menjual kembali dengan harga tinggi di tempat lain. Kini masih terbatasnya perjalanan lintas negara juga membuat konsumen berbelanja di negara sendiri.

Menjaga Citra Eksklusif

HermèsHermès/ Foto: Courtesy of Christie's


Mengapa tas Hermès masih banyak dicari sekalipun harganya mahal? Karena jarang tersedia alias eksklusif. Tidak semua orang bisa langsung dapat membeli tas Hermès Birkin atau Kelly di butik. Dan citra eksklusif tersebut juga lah yang menjadi daya tarik konsumen. Meski kini ada banyak berbagai pilihan produk dengan harga yang bervariasi, tetap para pencinta fashion tak ingin membeli sesuatu yang terlalu pasaran. Menaikkan harga justru akan semakin menambah value pada brand bersangkutan.

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(raf/raf)

Our Sister Site

mommyasia.id