sign up SIGN UP

LIFE

Zoom Fatigue, Rasa Lelah yang Muncul Terlalu Sering Online Meeting

Esra Dopita | Sabtu, 11 Jul 2020 07:00 WIB
Zoom Fatigue, Rasa Lelah yang Muncul Terlalu Sering Online Meeting
caption

Pandemi virus corona mengharuskan sejumlah perusahaan melakukan pekerjaan dari rumah atau work from home (WFH). Ketika WFH, para pekerja banyak melakukan virtual meeting atau video conference demi kelancaran pekerjaan dan komunikasi.

Pertemuan itu banyak dilakukan lewat aplikasi online meeting, Zoom. Kegiatan video conference ini lebih sering dilakukan dibanding sebelum pandemi virus corona. Ledakan penggunaan video call yang besar itu mengakibatkan kelelahan atau istilahnya Zoom fatigue

Zoom fatigue merupakan kelelahan sekaligus dan rasa gelisah yang timbul akibat terlalu sering melakukan virtual meeting.
https://unsplash.com/@gabrielbenois

Zoom fatigue merupakan kelelahan sekaligus dan rasa gelisah yang timbul akibat terlalu sering melakukan virtual meeting. Meski dinamakan Zoom fatigue, gejala ini juga berlaku untuk platform online meeting lainnya seperti Google Meets, Skype, juga FaceTime.


Berdasarkan laporan CNBC, pengguna harian layanan video conference mengalami lonjakan sangat besar dari 10 juta pengguna pada Desember 2019 menjadi 200 juta pengguna pada Maret 2020. 

Pengguna harian layanan video conference mengalami lonjakan sangat besar, yakni 200 juta pengguna pada Maret 2020.
https://unsplash.com/@cwmonty

Dilansir dalam laman Health.com, menurut Wakil Ketua American Psychological Association Brian Wind, alasan mengapa obrolan lewat video conference lebih melelahkan dibanding tatap muka langsung karena kita harus bekerja lebih keras menafsirkan komunikasi nonverbal.

Sebab, ketika kita berinteraksi secara langsung, kita tidak hanya mendengar suara dan melihat wajah mereka, tapi juga komunikasi nonverbal seperti gerakan tangan, gerakan tubuh, bahkan energi seseorang. 

Obrolan lewat video conference lebih melelahkan dibanding tatap muka langsung karena kita harus bekerja lebih keras menafsirkan komunikasi nonverbal.
https://unsplash.com/@tranmautritam

Tanda-tanda nonverbal itu sudah biasa diterima saat komunikasi langsung. Begitu pun tanpa disadari otak menangkap tanda tersebut. Namun, ketika berada di Zoom atau platform video conference lainnya, otak harus bekerja keras memproses setiap informasi, terlebih komunikasi nonverbal.

"Ini menekankan pikiran dan menghabiskan banyak energi, itulah sebabnya kamu mungkin merasa lelah atau stres setelah melakukan panggilan Zoom yang lama," kata Brian yang juga menjabat asisten profesor di Departemen Psikologi Universitas Vanderbilt. 

Ketika berada di Zoom atau platform video conference lainnya, otak harus bekerja keras memproses setiap informasi, terlebih komunikasi nonverbal.
https://unsplash.com/@zohre_nemati

Dekan California School of Forensic Studies di Alliant International University Diana Concannon menambahkan, penyebab lain Zoom fatigue adalah pengalaman melihat diri sendiri di layar. Hal yang biasanya tidak dilihat ketika berinteraksi secara langsung.

"Ini menciptakan perasaan berada seperti di atas panggung dan sering disertai paksaan untuk tampil, yang juga membutuhkan lebih banyak energi daripada interaksi sederhana," ucapnya.

Salah satu faktor Zoom fatigue adalah khawatir dengan penampilan diri.
https://unsplash.com/@matfelipe

Brian menyebut berbagai faktor penyebab kelelahan, di antaranya khawatir dengan penampilan diri, memastikan jaringan Internet bekerja cepat, membuat anak-anak tenang di belakang layar, gangguan suara, suasana yang tiba-tiba hening, berebut berbicara, serta masalah teknis lainnya.

Untuk mengatasi Zoom fatigue, Brian menyarankan agar mematikan fitur kamera serta berfokus pada suara. Hal ini akan menghentikan kamu mencari sekaligus menonton orang yang berbicara sehingga otak tidak harus bekerja keras. 

Untuk mengatasi Zoom fatigue, ahli menyarankan agar mematikan kamera dan menyeimbangkan lewat panggilan telepon atau suara.
https://unsplash.com/@matfelipe

Sedangkan Diana merekomendasikan untuk menyeimbangkan dengan pesan teks, khususnya percakapan grup, yang dapat menjadi cara efektif untuk tetap terhubung. Semua orang dapat aman serta saling berbagi gambar dan video. Selain itu, mengganti panggilan video dengan panggilan telepon atau suara. 

(kik/kik)

Our Sister Site

mommyasia.id