sign up SIGN UP

Kiat Bicarakan Otoritas Tubuh dengan Pasangan atau Suami Tercinta, Biar Hubungan Berjalan Sehat

Fina Prichilia | Senin, 13 Sep 2021 22:30 WIB
Kiat Bicarakan Otoritas Tubuh dengan Pasangan atau Suami Tercinta, Biar Hubungan Berjalan Sehat
caption
Jakarta -

Setiap orang idealnya perlu memahami apa itu otoritas tubuhnya, sebab individu tersebutlah yang punya hak penuh atas dirinya.

Sayangnya, masih melekat budaya patriarki atau istilah yang menempatkan pria dewasa itu pada posisi sentral atau terpenting, sedangkan perempuan bisa dibilang sebagai 'kelas dua', atau tidak sejajar, membuat tak sedikit perempuan merasa terkekang maupun merasa bersalah pada pasangan, bila dirinya tak sesuai 'standar masyarakat pada umumnya'.

Padahal, menurut Psikolog Klinis Tara de Thouars, kamu tidak perlu merasa begitu. Sebaliknya, kamu bisa mengkomunikasikan hal ini dengannya.

"Jangan ragu untuk mengkomunikasikan apa pun yang kita inginkan dan kita rasakan, karena tentu ini pun bisa dikomunikasikan dengan baik dengan pasangan," kata Tara.

Kiat Bicarakan Otoritas Tubuh dengan Pasangan

Saat membahas masa lalu, usahakan untuk tidak menyampaikannya secara berlebihanIlustrasi pasangan, pentingnya mengkomunikasikan apa itu otoritas tubuh. / Foto: Unsplash.com

Saling terbuka dan mau untuk membicarakan apa pun pada pasangan, merupakan salah satu faktor terjalinnya hubungan yang sehat. Seperti yang telah disebutkan di atas, karena sudah terlanjur melekatnya budaya patriarki, mungkin tak sedikit ada orang-orang di sekitaranmu yang masih berpikiran bahwa perempuan harus begini-begitu, sesuai 'standar umum' yang dibuat masyarakat.

Mungkin juga, hal itu masih terjadi pada keluarga dan pasangan kamu, Beauties. Karenanya, kamu bisa membahas topik ini, lho. Karena terkadang mereka hanya memang belum memahami kenapa otoritas tubuh itu penting. Juga, bukan berarti status sudah menikah membuatmu bisa dikontrol semaunya hingga kehilangan diri sendiri.

Sebab seolah budaya patriarki sudah jadi warisan turun-temurun, jadi beri pengaruh pada pola asuh keluarganya pada zaman dulu, yang menjadikan pasangan dan orang tuamu yang sekarang.

"Ada banyak perempuan yang memang memilih untuk nggak mengkomunikasikan karena mereka merasa bersalah, ketika misal tidak memberikan seks pada suami misalnya.. Namun, ketika pasangan kita adalah sosok yang peduli sama kita dan mementingkan diri kita juga, maka dia pasti akan pedulikan pendapat kita," ujarnya.

Kamu bisa berkata: 'saya tidak nyaman kalau kamu melakukan seperti itu', 'Saya sedang lelah, butuh waktu, bagaimana kalau kita melakukannya (seks) besok?' misalnya. Demikian saran dari Tara.

"Jadi komunikasikan dengan baik dan jujur, karena pada dasarnya ketika kita percaya bahwa tubuh kita adalah hak dan milik kita, maka kita akan berani untuk mengatakan apa yang sebetulnya ada di dalam pikiran kita," tutup Tara.

(fip/fip)

Our Sister Site

mommyasia.id