sign up SIGN UP

Mengenal Takotsubo Cardiomyopathy atau Broken Heart Syndrome, Saat Patah Hati Bisa Sebabkan Kematian

Ayuliy Lestari | Rabu, 28 Jul 2021 21:15 WIB
Mengenal Takotsubo Cardiomyopathy atau Broken Heart Syndrome, Saat Patah Hati Bisa Sebabkan Kematian
caption

Beauties, apa yang kamu bayangkan tentang patah hati? Gejala apa yang akan timbul ketika kamu patah hati? Apakah nafsu makan berkurang, sedih, stres, menangis? Tapi tahukah kamu, ternyata patah hati juga dapat menyebabkan kematian.

Yups, ada salah satu jenis sindrom yang diakibatkan karena patah hati yaitu takotsubo cardiomyopathy atau broken heart syndrome. Sindrom yang satu ini merupakan sindrom patah hati yang membuat seseorang benar-benar ‘patah’ hati.

Dirangkum dari Heart, berikut seputar broken heart syndrome yang perlu kamu tahu.

Apa Itu Broken Heart Syndrome?

Broken heart syndrome
Broken heart syndrome/Foto: Pexels.com/Monstera

Broken heart syndrome atau dikenal pula dengan nama takotsubo cardiomyopathy atau stress cardiomyopathy merupakan sebuah penyakit jantung yang disebabkan karena adanya stres emosional yang terlalu berat.

Istilah takotsubo diturunkan dari bahasa Jepang, di mana takotsubo sendiri adalah sebuah alat yang digunakan untuk memancing gurita. Yups, takotsubo adalah jebakan gurita yang menyerupai bentuk hati dan bisa hancur seperti pot. Penyakit ini dinamakan demikian karena bentuk pompa jantung kiri pengidapnya memang menyerupai takotsubo.

Lebih Sering Terjadi pada Perempuan?

Broken heart syndrome
Broken heart syndrome/Foto: Pexels.com/Ismael

Sindrom patah hati ini dapat menyerang bahkan ketika seseorang kondisi fisiknya sehat, Beauties. Uniknya, penyakit ini hampir sepenuhnya terjadi pada perempuan. Ditemukan bahwa perempuan memiliki risiko hingga sembilan kali lipat lebih tinggi untuk mengalami kardiomiopati stres dibandingkan pria.

Hal tersebut karena perempuan lebih mungkin mengalami nyeri dada yang tiba-tiba dan intens karena reaksi terhadap gelombang hormon stres yang dapat disebabkan oleh peristiwa yang membuat stres secara emosional. Misalnya seperti kematian orang yang dicintai, perceraian, perpisahan, pengkhianatan atau penolakan dan lain-lain.

Broken Heart Syndrome Berbeda dengan Serangan Jantung

Broken heart syndrome
Broken heart syndrome/Foto: Pexels.com/Antonie

Seseorang dengan sindrom patah hati akan mengalami nyeri dada mendadak dan kebanyakan orang-orang salah, mengira dan menganggapnya sedang mengalami serangan jantung. Faktanya, sindrom patah hati hanya mempengaruhi sebagian jantung, mengganggu fungsi pemompaan normal jantung untuk sementara. 

Sindrom patah hati sering salah didiagnosis sebagai serangan jantung karena gejala dan hasil tesnya dapat serupa. Faktanya, tes menunjukkan perubahan dramatis dalam ritme dan zat darah yang khas dari serangan jantung. Tapi tidak seperti serangan jantung karena tidak ada bukti penyumbatan arteri jantung pada sindrom patah hati.

Gejala Terjadi Setelah Stres Emosional dan Fisik yang Ekstrem

Broken heart syndrome
Broken heart syndrome/Foto: Freepik.com/Lookstudio

Beberapa tanda dan gejala sindrom patah hati bahkan berbeda dengan gejala serangan jantung. Pada sindrom patah hati, gejala terjadi secara tiba-tiba setelah stres emosional atau fisik yang ekstrem. Tanda dan gejala sindrom patah hati yang paling umum adalah angina (nyeri dada) dan sesak napas.

Pada beberapa kasus, sindrom patah hati juga bisa menyebabkan detak jantung yang tak teratur atau justru berhenti berdetak selama beberapa waktu. Ini bisa terjadi karena jantung terlalu lemah untuk memompa darah dan memenuhi kebutuhan asupan darah pada seluruh tubuh.

Saat terkena sindrom patah hati, bahkan kamu bisa tiba-tiba mengalami gejala-gejala tersebut meski kamu tidak memiliki riwayat penyakit jantung. So, hati-hati, Beauties.

Untuk mencegah sindrom patah hati ini, sebaiknya kelola stres dengan baik, segera kunjungi psikolog maupun psikiater jika kamu tidak bisa menangani gejolak batin dan patah hati yang kamu alami.

(fip/fip)

Our Sister Site

mommyasia.id