sign up SIGN UP

RELATIONSHIP

Prenatal Depression, Apa Itu?

Rumaysha Milhania | Senin, 29 Jun 2020 21:00 WIB
Prenatal Depression, Apa Itu?
Prenatal Depression/Pexels.com
Jakarta -

Depresi merupakan penyakit mental serius yang dapat berdampak serius terhadap kehidupan sehari-hari. Untuk para wanita, postpartum depression mungkin menjadi hal yang tak asing lagi. Namun, bagaimana dengan depresi selama kehamilan? Prenatal depression ternyata juga bukanlah hal yang baru lagi. Pasalnya, sebagian besar wanita mengalami pasang surut emosi selama kehamilan, dan ini benar-benar lumrah dan normal untuk terjadi. Fakta menunjukkan bahwa sekitar 13 persen wanita hamil dan ibu baru mengalami depresi.

Depresi merupakan hal yang wajar terjadi pada wanita, khususnya pada masa-masa rentan seperti saat hamil.
Wanita/ Sumber: Pexels.com

Gejala Depresi

Kebanyakan gejala depresi terjadi sesekali dan jika ini terjadi dan berlalu begitu saja mungkin depresi yang dialami merupakan depresi ringan. Akan tetapi, jika depresi yang terjadi setidaknya memunculkan tiga dari gejala berikut selama dua minggu atau lebih, pastikan untuk segera bicara dengan dokter tentang alternatif perawatan untuk meringankan depresi.

  • perubahan suasana hati
  • murah marah
  • kesedihan, keputusasaan atau perasaan kewalahan yang berlarut-larut
  • sering menangis atau mudah menangis
  • kurangnya energi atau kehilangan motivasi
  • perubahan pola makan ekstrim, lebih banyak atau tidak nafsu makan sama sekali
  • mengalami gangguan, bisa jadi tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak
  • kesulitan fokus
  • bingung saat membuat keputusan
  • menjadi lebih pelupa
  • perasaan tidak berharga
  • selalu merasa bersalah
  • menarik diri dari teman dan keluarga
  • sakit kepala, sakit dan nyeri tubuh, atau masalah perut yang berbeda dari morning sickness

Mengatasi Depresi Prenatal

Biasanya, depresi prenatal dapat diobati dengan kombinasi pengobatan serta pelaksanaan terapi konsultasi. Namun, selama kehamilan, doktermu akan mempertimbangkan asupan obat karena berisiko mengganggu kehamilan itu sendiri. Jika memang diperlukan, dokter biasanya akan meresepkan obat anti-depresi untuk membantu memperbaiki penyebab depresi yang mendasarinya. 


Depresi dapat diatasi dengan melakukan pemeriksaan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan dan terapi.
Depresi/ Sumber: Pexels.com

Bahaya Tidak Mengobati Depresi

Jangan pernah malu dan takut untuk pergi ke dokter karena depresi. Depresi bukanlah sesuatu yang membuatmu merasa tidak berharga. Sebaliknya, pergi ke dokter adalah upaya untuk menjaga dan melindungi dirimu sendiri. Jika depresimu tidak ditangani, kondisi itu bisa menjadi lebih buruk dan dapat menyakiti dirimu dan bayimu. Depresi yang tidak diobati dapat menyebabkan beberapa risiko, antara lain:

  • gizi buruk karena pola makan yang tidak ideal
  • masalah perkembangan janin karena asupan nutrisi yang kurang
  • masalah selama kehamilan dan persalinan
  • kelahiran prematur atau bayi dengan berat lahir rendah
Depresi saat hamil berisiko menyebabkan terganggunnya pertumbuhan dan perkembangan janin.
Depresi Saat Hamil/ Sumber: Pexels.com

Perlu diketahui, tidak mudah memang menjalani depresi di masa kehamilan di mana ada banyak sekali tuntutan yang harus dijalani dan dipenuhi demi bayi yang sedang tumbuh dalam kandunganmu. Jadi, pastikan untuk memposisikan diri dalam lingkungan yang positif dan mendukungmu.

(arm2/arm2)

Our Sister Site

mommyasia.id