sign up SIGN UP

Mengenal Yarn Bombing, Seni Rajut di Tempat Publik

Henny Alifah | Beautynesia
Senin, 20 Jun 2022 22:45 WIB
Mengenal Yarn Bombing, Seni Rajut di Tempat Publik
Instalasi yarn bombing temporer oleh Magda Sayeg/ Foto: via Twitter/womensart1

Influencer Amelia Tantono dalam sebuah vlog-nya musim dingin tahun lalu pernah menunjukkan jalanan kota Seoul yang penuh dengan pepohonan berselimut kain rajut. Seperti Amelia, sebagian besar dari kamu mungkin juga penasaran mengapa pohon-pohon tersebut dibalut dengan rajutan? 

Amelia Tantono menunjukkan salah satu instalasi yarn bombing di jalanan kota Seoul
Yarn bombing di Seoul, Korea Selatan/ Foto: YouTube/Amelicano  

Berkat rajutan tersebut, suasana memang tampak semarak dengan pepohonan warna-warni di sepanjang kiri-kanan jalan. Namun, sebenarnya apa sih, tujuannya? Apakah rajutan penuh warna itu dimaksudkan sebagai sweater penangkal hawa dingin? Atau sekadar hiasan semata?

Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah yarn bombing. Yarn bombing merupakan salah satu bentuk karya seni jalanan. Ia serupa grafiti yang biasa ditemui di dinding dan tembok-tembok jalan. 

Awal Mula Yarn Bombing

Yarn bombing edisi Natal, 2021
Yarn bombing edisi Natal, 2021/ Foto: Instagram/pepperpotherbs

Yarn bombing kadang disebut juga dengan yarnstorming atau guerilla knitting. Apapun sebutannya, yang jelas yarn bombing adalah karya rajut di tempat publik.

Bentuknya beragam. Ada perajut yang menciptakan pola rajutan khusus untuk membungkus permukaan bus, pohon, tiang, kotak surat, hingga pipa air hidran. Lalu, ada perajut yang membuat instalasi rajut untuk menaungi gang-gang kecil bak kanopi. Dan, ada pula perajut yang meletakkan pom-pom serta boneka amigurumi di tempat-tempat publik.

Aksi para perajut tersebut dimulai dari sebuah butik di Texas, Amerika Serikat pada tahun 2005. Magda Sayeg si pemilik butik, melapisi handle pintu butik dengan rajutan dari benang-benang sisa proyeknya.

Apa yang dilakukan Magda Sayeg kemudian menginspirasi perajut lain. Menyebar bak jamur di musim hujan, berbagai rajutan pun mulai menyelimuti kabel telepon, memberi warna pada patung-patung di taman, hingga sepeda dan pepohonan.

Yarn bombing di tangga Katedral Helsinki, 2011
Yarn bombing di tangga Katedral Helsinki, 2011/ Foto: via Twitter/womensart1

Selanjutnya, Hari Yarn Bombing Sedunia pertama kali diperingati tanggal 11 Juni 2011 atas inisiasi Joann Matvichuk. Tinggal di Kanada dengan musim dingin yang berlangsung hampir sepanjang tahun, Joann Matvichuk mengaku harinya jadi lebih indah dan ceria berkat rajutan warna-warni yang menyelimuti kota.

Pada tahun 2011 juga, sejumlah perajut di Finlandia mengumpulkan 152 ribu granny square dan dijahit menjadi 3800 selimut. Mereka memecahkan rekor Guinnes World dan membentangkan selimut tersebut di tangga Katedral Helsinki sebelum menyumbangkannya kepada yang membutuhkan.

Antara Seni, Vandalisme, dan Limbah Fashion

Yarn bombing oleh guerilla knitter di Dumfries, Scotland
Yarn bombing oleh guerilla knitter di Dumfries, Scotland/ Foto: via Twitter/womensart1

Satu dekade lebih kemudian, hari ini, banyak perajut dari kalangan knitter maupun crocheter yang melakukan aksi yarn bombing saat tiba musim dingin. Di Indonesia masih jarang ditemui, tetapi yarn bombing di luar negeri telah ramai ikut menyemarakkan hari-hari tertentu, seperti Hari Natal.

Sementara itu, aksi yarn bombing juga tak luput dari kritik. Sebagaimana seni jalanan yang lain, beberapa orang melihatnya sebagai sesuatu yang merusak pemandangan.

Desainnya dianggap tidak estetik untuk menghiasi pepohonan. Keberadaannya juga dikhawatirkan menjadi kungkungan bagi pohon sehingga tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, atau bahkan mengundang makhluk-makhluk yang justru mengancam kehidupan pohon itu sendiri. Banyak pula yang beranggapan sebaiknya rajutan tersebut jadi selimut bagi orang-orang yang membutuhkan daripada sia-sia menyelimuti pohon.   

Yarn bombing harus diakui kini menjadikan pekerja seni rajut lebih dikenal dan diketahui keberadaannya. Namun meskipun awalnya bertujuan baik untuk memanfaatkan benang-benang sisa, yarn bombing bagi sebagian orang juga justru  menyisakan sampah.

Yarn bombing di pantai-pantai misalnya, yang mulanya warna-warni jadi memudar dan berpotensi menambah limbah fashion dan mungkin saja berdampak buruk bagi ekosistem laut.

Menanggapi isu tersebut, para knitter dan crocheter tidak tinggal diam. Banyak di antara mereka yang berupaya mencari cara agar karya seni rajut di tempat-tempat publik itu tidak berdampak buruk bagi alam. Yarn bombing dalam bentuk instalasi kanopi di gang-gang kecil bisa jadi contoh kecil pemanfaatan seni rajut yang sejuk bagi pejalan dan tidak banyak menimbulkan kerusakan bagi sekitar. 

---

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(raf/raf)

Our Sister Site

mommyasia.id