Romantisasi Pasca Revolusi dalam Koleksi "Apres la Revolution" Yosafat Dwi Kurniawan

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Jumat, 14 Aug 2026 19:00 WIB
Romantisasi Pasca Revolusi dalam Koleksi
Koleksi "Apres la Revolution" Yosafat Dwi Kurniawan/ Foto: Dok. Yosafat Dwi Kurniawan

Yosafat Dwi Kurniawan presentasikan koleksi Spring/Summer 2027 yang bertajuk "Après la Révolution" (pasca revolusi) di Langham Fashion Soirée 2026, pada hari Kamis (13/8/2026). Perhelatan tersebut merupakan kerja sama antara hotel The Langham Jakarta dengan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC), Beauties.

Menutup acara pada hari itu, sebanyak 30 looks busana dalam koleksi ditampilkan. Satu per satu kreasi busana ditunjukkan dengan sekuens yang selaras dengan tema besar revolusi itu sendiri, menonjolkan metamorfosis siluet dari yang berstruktur tegas hingga yang mengalir lembut.

Inspirasi di Balik “Après la Révolution”

Koleksi

Koleksi "Apres la Revolution" Yosafat Dwi Kurniawan/ Foto: Dok. Yosafat Dwi Kurniawan

Koleksi busana dapat mengambil inspirasi dari berbagai medium. Kali ini, irisan antara sejarah, sosial, dan politik jadi titik pusat inspirasi Yosafat. Istilah Prancis “Après la Révolution” yang berarti pasca revolusi digunakan untuk menggambarkan situasi mode dan sosial pasca revolusi Prancis berakhir yang ditandai dengan peristiwa dipenggalnya Raja Lous XVI dan Ratu Marie Antoinette beserta jajaran bangsawan lainnya.

Sejak peristiwa tersebut, Prancis memasuki era peralihan, yakni era Directoire, sebelum akhirnya diambil alih oleh Napoleon Bonaparte yang membangun kekaisaran besar di Eropa dan dunia. Pada masa ini, para bangsawan merasa takut dilabelkan sebagai borjuis dan memiliih untuk mengenakan busana yang tampak lebih sederhana dan ringan, selayaknya busana bergaya Yunani yang merupakan penggalang sistem demokrasi pertama di dunia. Fenomena mode serupa juga dijumpai pasca Perang Vietnam di mana busana tahun 70-an Amerika Serikat menjadi lebih sederhana, praktikal, dan membebaskan.

Konsep itu pula yang ditampilkan Yos––sapaan akrabnya––pada koleksi Spring/Summer 2027, yang banyak menunjukkan sisi kebaruan. “Perubahan sedang terjadi, tidak hanya untuk diri saya namun juga dunia,” terang Yos, dikutip dari press release. Kondisi yang sedang tidak baik-baik saja, termasuk dari segi kemanusiaan, membuatnya lebih kritis dalam melihat dunia.

“Setelah 15 tahun, saya masih bisa menemukan hal menarik untuk diangkat,” lanjutnya. Baginya, eksplorasi ini menjadi penting dalam proses perkembangan. “Rancangan itu hanyalah sebuah bahasa, dan bahasa itu terus berkembang. Untuk apa presentasi mode bila terus-menerus menunjukkan hal yang sama?”

Revolusi Desain Ala Yosafat Dwi Kurniawan

Koleksi

Koleksi "Apres la Revolution" Yosafat Dwi Kurniawan/ Foto: Dok. Yosafat Dwi Kurniawan

Bak revolusi gaya personal, Yosafat Dwi Kurniawan merancang koleksi “Après la Révolution” dari sudut pandang segar, tanpa meninggalkan nuansa siluet tahun 40-an, 50-an, dan 60-an yang menjadi ciri khasnya. Jika biasanya Yos terinspirasi dari film atau karya perancang adibusana Eropa, kali ini ia mengambil sisi romantis dan melankolis dari suatu kejadian itu sendiri.

Peragaan busana dibuka dengan karya-karya bernuansa imperialisme, seperti yang ditemukan pada kreasi berstruktur tegas, menangkap nuansa baju zirah dan medan peperangan. Warna-warna gelap seperti hitam, biru denim, emas, dan perak, dijumpai pada rancangan jaket dengan potongan bersih sampai gaun-gaun yang memadukan atasan berstruktur dan bagian rok yang mengayun. Aksen emas dan perak bergaya Baroque-Rococo menjadi sentuhan mewah terinspirasi dari detail interior.

Koleksi "Apres la Revolution" Yosafat Dwi KurniawanKoleksi "Apres la Revolution" Yosafat Dwi Kurniawan/ Foto: Dok. Yosafat Dwi Kurniawan

Perlahan, nuansa itu berubah menjadi euforia pasca perang yang damai dan membebaskan. Sekuens ini diisi oleh gaun-gaun romantis bersiluet longgar dan ringan. Maxi dress memancarkan romantisme melalui detail, seperti aksen ruffles hingga drapery dalam warna-warni lembut, seperti putih tulang, krem, biru pirus, hijau sage, dan merah. Aksesori dari NOMA yang berkilauan menjadi substitusi payet untuk memberi kilau pada tampilan.

Dalam proses pembuatannya, Yosafat Dwi Kurniawan turut menggunakan teknologi mesin bordir yang disempurnakan dengan potongan laser dari NOMATEX. Teknik ini digadang-gadang mampu menghasilkan efek bordir yang nyaman dipakai pada kain berukuran lebar dalam sekali pengerjaan singkat. Yos juga berkolaborasi dengan Asia Pacific Rayon untuk mewujudkan tampilan yang mewah dengan cara berbeda, yakni dengan menggunakan material jersei, voile, tweed, viscose rayon, dan lyocell.

Bagaimana menurut kamu tentang koleksi ini, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE