3 Cara Membesarkan Anak yang Tangguh Tanpa Terlalu Keras

Pratitis Nur Kanariyati | Beautynesia
Selasa, 16 Jun 2026 22:00 WIB
3. Membiarkan Anak untuk Berjuang – Dengan Memberikan Dukungan Bertahap
Interaksi orang tua dan anak/Foto: Magnific.com/Freepik

Tumbuh menjadi anak yang tangguh bukanlah hal yang mudah. Semakin banyak perjalanan yang anak lalui, maka semakin tangguh mental mereka dalam menghadapi realita kehidupan.

Menurut psikolog Ryan C. Warner PhD., orang bermental tangguh adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mempertahankan pola pikir kreatif dan tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan. Ia mampu hadir secara konsisten meskipun di bawah tekanan, melansir Everyday Health.

Biasanya anak yang benar-benar tangguh memiliki orang tua yang membantu mereka membangun keterampilan dasar seperti mengatur emosi dan cara mengatasi kekecewaan. Saat membesarkan anak yang tangguh, fokus orang tua bukan tentang apa yang ingin diajarkan, melainkan bagaimana mengajarkannya.

Berikut tiga cara membesarkan anak bermental tangguh tanpa harus terlalu keras.

1. Merespons Kekecewaan Anak dengan Mendengarkan Secara Aktif

Interaksi orang tua dan anak/Foto: Magnific.com/Freepik

Saat anak menunjukkan kekecewaannya, bagaimana respons Beauties terhadap mereka? Jika sering terburu-buru menanggapi perasaan mereka dengan kalimat “Bukan masalah besar. Jangan cengeng. Gitu aja langsung marah,” setop kebiasaan tersebut mulai sekarang.

Mengabaikan atau meremehkan kekecewaan secara tidak sengaja dapat mengajarkan anak untuk menekan dan mengabaikan emosinya sendiri.

“Ketika seorang anak mengalami kegagalan atau kekecewaan, jangan menyangkal perasaan dan pengalamannya, atau langsung beralih ke mode pemecahan masalah,” kata Joseph Laino, PsyD., selaku psikolog dan asisten direktur di Sunset Terrace Family Health Center, NYU Langone, pada Parents.

Sebaliknya, mulailah dengan empati. Validasi emosinya terlebih dahulu. “Kamu benar-benar menginginkan ini, dan ini bukanlah hasil yang kamu harapkan. Mama paham ini mengecewakanmu.” Pendekatan semacam ini membantu anak merasa didengar, dipahami, dan didukung.

Setelah intensitas emosi berkurang, barulah beralih ke refleksi diri dengan mengajukan pertanyaan seperti “Apakah ada pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian hari ini? Apa yang bisa kita lakukan di masa mendatang jika dihadapi situasi seperti ini lagi?”

Dengan memvalidasi emosi terlebih dahulu dan pemecahan masalah kemudian, kita mengajarkan pada anak bahwa perasaan dapat dikelola, bukan sesuatu yang harus dihindari atau ditakuti.

2. Mencontohkan Cara Mengatasi Stres yang Sehat Secara Langsung

Interaksi orang tua dan anak/Foto: Magnific.com/Freepik

Sadar atau tidak, anak terus-menerus mengamati orang dewasa di sekitarnya dalam merespons stres. Penelitian dalam jurnal Developmental Psychology (2020) menunjukkan bahwa contoh perilaku orang tua secara signifikan membentuk cara anak dalam mengatur emosinya sendiri.

“Orang dewasa yang mencontohkan perilaku yang tepat juga bisa menjadi strategi yang efektif (dalam membentuk mental tangguh seorang anak),” kata Dr. Joseph Laino.

Dalam praktiknya dapat mengucapkan frasa seperti, “Mama lelah dengan situasi ini, tetapi mama tidak akan menyerah dan akan mencobanya lagi nanti. Sekarang, mama butuh waktu untuk menenangkan diri,” ketika berada di dekat anak.

Jangan lupa untuk mengakui kesalahan diri sendiri karena itu menunjukkan sikap tanggung jawab dan kemauan untuk memperbaiki kesalahan. Kedua sikap tersebut merupakan keterampilan resiliensi yang penting.

3. Membiarkan Anak untuk Berjuang – Dengan Memberikan Dukungan Bertahap

Interaksi orang tua dan anak/Foto: Magnific.com/Freepik

Orang tua sering kali campur tangan terlalu cepat saat anak sedang berjuang dalam menghadapi tantangan. Niatnya baik, tetapi itu justru dapat melemahkan resiliensi atau ketangguhan anak.

Menurut Dr. Joseph Laino, membangun resiliensi pada anak bukan berarti menyelamatkan anak dari situasi sulit dan menyelesaikan masalah mereka. Jika orang tua melakukan itu, anak tidak akan mengembangkan kekuatan emosional yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan hidup.

Pada saat yang sama, resiliensi juga bukan berarti meninggalkan anak untuk berjuang sendirian. Sebaliknya, orang tua harus berusaha mencapai keseimbangan di antara keduanya.

“Ini tentang belajar menyeimbangkan kebutuhan anak untuk sedikit berjuang dalam menyelesaikan masalah sambil memberikan dukungan agar mereka tidak merasa sendirian dalam prosesnya,” pungkas Dr. Joseph Laino.

Intinya tujuan dari ini adalah membentuk kemandirian anak secara bertahap. Membiarkan mereka mencoba, tersandung, dan menyesuaikan diri sambil menunjukkan bahwa kita sebagai orang tua tetap ada di dekatnya ketika dibutuhkan.

Itulah tiga cara membesarkan anak bermental tangguh tanpa terlalu keras yang bisa diterapkan oleh para orang tua. Gimana pendapat, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE