3 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Menimbulkan Luka Batin pada Anak

Sierra Ayuningtyas Muktisari | Beautynesia
Selasa, 28 Apr 2026 21:00 WIB
2. Menyampaikan Kritik Terus-menerus
Menyampaikan kritik terus-menerus/ Foto: freepik.com/peoplecreations

Beauties, menjadi orang tua adalah pengalaman sepanjang hidup yang penuh lika-liku, namun penuh makna. Setiap orang tua pada dasarnya perlu membentuk ikatan batin yang kuat dengan anak sejak ia dilahirkan ke dunia hingga beranjak dewasa dan bisa menentukan arah hidupnya sendiri.

Namun, ada kalanya orang tua mungkin tidak menyadari, bahwa ada kebiasaan atau perkataan yang bisa menyebabkan luka batin pada anak. Hal-hal tersebut bisa berdampak pada kondisi psikologis anak yang mungkin terbawa sampai dewasa karena si anak sulit untuk melupakannya.

Bahkan, pola perilaku tertentu yang berulang dari orang tua dapat membentuk cara anak-anak memandang diri mereka sendiri dan orang lain. Melansir dari  The Artful Parent,  berikut beberapa kebiasaan orang tua yang bisa menimbulkan luka batin pada anak.

1. Mengabaikan Secara Emosional

Dampak memarahi anak terlalu sering.

Mengabaikan secara emosional/ Foto: freepik.com

Kebiasaan orang tua yang pertama dan berdampak pada pemberian luka batin kepada anak yaitu mengabaikan secara emosional. Beauties, meskipun tidak terlihat secara fisik, mengabaikan anak secara emosional bisa berdampak buruk pada mereka.

Mengabaikan secara emosional ini termasuk mengabaikan perasaan anak, meremehkan perasaan mereka, atau bahkan menganggap enteng mengenai hal-hal yang dirasakan oleh anak. Psikolog menggambarkan hal ini sebagai ‘luka yang tidak terlihat’.

Anak-anak yang mengalami pengabaian secara emosional cenderung mengalami kesulitan dalam pengaturan emosi saat mereka dewasa. Hal ini karena si anak tidak bisa ‘melihat’ perasaan awal yang dirasakan, bahkan cenderung tidak memercayai realitas emosional mereka sendiri.

Untuk mencegahnya, orang tua bisa belajar untuk memahami emosi anak. Misalnya sesederhana dengan mengatakan, “Aku mengerti kalau kamu kesal” atau “Itu pasti sulit untukmu”. Pengakuan-pengakuan kecil ini akan membuat anak menyadari bahwa perasaan mereka juga penting, Beauties.

2. Menyampaikan Kritik Terus-menerus

Setiap anak pasti membuat kesalahan, karena itu termasuk dari cara mereka belajar. Namun, saat kesalahan itu terus-menerus dikoreksi atau dikritik dengan keras, anak-anak justru akan melihatnya sebagai bukti bahwa mereka tidak pernah menjadi sosok yang cukup baik.

Menyampaikan kritik terus-menerus/ Foto: freepik.com/peoplecreations

Setiap anak pasti membuat kesalahan, karena itu termasuk dari cara mereka belajar. Namun, saat kesalahan itu terus-menerus dikoreksi atau dikritik dengan keras, anak-anak justru akan melihatnya sebagai bukti bahwa mereka tidak pernah menjadi sosok yang cukup baik.

Penelitian menunjukkan bahwa kritik yang keras dari orang tua di masa kanak-kanak sangat memprediksi tingkat kritik diri yang lebih tinggi saat dewasa. Kritik keras tersebut bisa merusak kepercayaan diri dalam hubungan, karier, bahkan pengambilan keputusan, Beauties.

Saat anak melakukan kesalahan seperti tidak sengaja menumpahkan minum, orang tua bisa menegurnya dengan lembut seperti “Ayo ambil handuk dan bersihkan tumpahan air bersama”, alih-alih berkata, “Kamu menumpahkan air lagi, sangat ceroboh”.

3. Membandingkan Anak dengan Saudara

terkadang tanpa sadar orang tua kerap membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Kalimat seperti, “Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti kakakmu?” mungkin terdengar memotivasi, tetapi sebenarnya itu adalah bentuk kritik yang ‘dikemas’ dengan perbandingan.

Membandingkan anak dengan saudara/ Foto: freepik.com/kroshka__nastya

Beauties, terkadang tanpa sadar  orang tua  kerap membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Kalimat seperti, “Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti kakakmu?” mungkin terdengar memotivasi, tetapi sebenarnya itu adalah bentuk kritik yang ‘dikemas’ dengan perbandingan.

Penelitian psikologi perkembangan telah menunjukkan bahwa perbandingan yang sering terjadi menyebabkan harga diri yang lebih rendah dan risiko depresi yang lebih tinggi pada masa remaja. Anak-anak tidak mendengar dorongan dalam komentar-komentar tersebut, melainkan mereka mendengar bahwa diri mereka sendiri tidak cukup.

Untuk mencegah hal tersebut, orang tua bisa berfokus pada kelebihan atau kekuatan setiap anak sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Mengetahui hal tersebut juga bisa membantu menumbuhkan kepercayaan diri pada anak.

---

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(sim/sim)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE