4 Cara Jadi Leader yang Lebih Tegas dan Powerful Buatmu yang Sering Nggak Enakan

Kyla Putri Nathania | Beautynesia
Senin, 25 May 2026 09:15 WIB
Jangan Takut Tegas, Karena Ketegasan Bisa Jadi Bentuk Empati
Banyak orang menganggap ketegasan dan empati adalah dua hal yang bertolak belakang. Padahal menurut ahli, komunikasi yang jujur dan jelas justru bisa menunjukkan rasa hormat kepada orang lain./ Foto: freepik.com/DC Studio

Bersikap ramah memang penting di dunia kerja, tapi terlalu sering mengutamakan perasaan orang lain juga bisa membuat seseorang sulit berkembang sebagai pemimpin. Banyak orang mengira menjadi leader atau pemimpin yang baik berarti harus selalu menyenangkan semua pihak. 

Padahal, menurut para ahli dari Forbes Coaches Council, terlalu “nice” justru dapat mengaburkan batasan, mengurangi wibawa, hingga membuat keputusan penting jadi sulit diambil. Seorang pemimpin juga perlu mampu berbicara jelas, menetapkan batasan, dan mengambil keputusan dengan percaya diri.

Nah, kalau kamu sering merasa nggak enakan saat bekerja atau memimpin tim, mungkin ini saatnya mulai mengubah cara komunikasi dan sikapmu.

Gunakan Bahasa yang Lebih Tegas supaya Pesan Lebih Jelas

Menurut ahli leadership, penggunaan bahasa yang terlalu berputar-putar bisa membuat seseorang terlihat kurang percaya diri. Bahasa yang jelas dan langsung justru membantu meningkatkan kredibilitas seorang pemimpin./ Foto: freepik.com/pressfoto

Menurut ahli leadership, penggunaan bahasa yang terlalu berputar-putar bisa membuat seseorang terlihat kurang percaya diri. Bahasa yang jelas dan langsung justru membantu meningkatkan kredibilitas seorang pemimpin./ Foto: freepik.com/pressfoto

Salah satu masalah yang paling sering terjadi pada orang yang terlalu “nice” adalah kebiasaan melembutkan semua keputusan. Banyak leader takut dianggap galak sehingga memilih berbicara terlalu hati-hati, overexplaining, atau bahkan menghindari konflik sama sekali.

Mengatakan ekspektasi secara tegas bukan berarti kasar. Justru komunikasi yang jelas membantu orang lain memahami arah kerja dengan lebih baik. 

Jangan Takut Tegas, Karena Ketegasan Bisa Jadi Bentuk Empati

Banyak orang menganggap ketegasan dan empati adalah dua hal yang bertolak belakang. Padahal menurut ahli, komunikasi yang jujur dan jelas justru bisa menunjukkan rasa hormat kepada orang lain./ Foto: freepik.com/DC Studio

Banyak orang menganggap ketegasan dan empati adalah dua hal yang bertolak belakang. Padahal menurut ahli, komunikasi yang jujur dan jelas justru bisa menunjukkan rasa hormat kepada orang lain./ Foto: freepik.com/DC Studio

Menurut Ryan Lahti dari OrgLeader, salah satu kliennya terbiasa “mengalah demi damai” sehingga pendapatnya sering tidak dianggap dalam diskusi penting. Setelah belajar menyampaikan sudut pandangnya dengan lebih tegas namun tetap sopan, ia mulai lebih dihargai dalam pengambilan keputusan besar.

Konsep ini disebut sebagai empathetic candor, yaitu kemampuan berbicara langsung tanpa kehilangan rasa hormat terhadap lawan bicara. Jadi, ketegasan bukan berarti menyerang orang lain, melainkan berani menyampaikan apa yang memang perlu dikatakan.

Jadi Leader yang Disukai Sekaligus Dihormati

Menjadi leader yang kuat tidak harus menghilangkan sisi ramah dan empati. Menurut ahli, keseimbangan antara ketegasan dan kepedulian adalah fondasi leadership yang efektif./ Foto: freepik.com

Menjadi leader yang kuat tidak harus menghilangkan sisi ramah dan empati. Menurut ahli, keseimbangan antara ketegasan dan kepedulian adalah fondasi leadership yang efektif./ Foto: freepik.com

Yann Dang dari Aspire Coaching juga menyoroti bahwa banyak orang salah mengartikan “baik” dengan “harus disukai semua orang.” Padahal, terlalu sering mengakomodasi semua pihak justru bisa membuat arahan kerja menjadi tidak jelas.

Ketika seseorang mulai menetapkan batasan, berbicara lebih lugas, dan berani mengambil keputusan, performa tim biasanya ikut meningkat. Orang-orang juga cenderung lebih menghormati leader yang konsisten dan tahu apa yang mereka inginkan.

Belajar Membuat dan Menjaga Batasan yang Sehat

Belajar Membuat dan Menjaga Batasan yang Sehat/ Foto: freepik.com

Menurut penelitian dan ahli leadership, batasan yang jelas sangat penting untuk menjaga kesehatan mental dan performa kerja. Terlalu sering mengiyakan semua hal bisa memicu burnout dan kehilangan fokus./ Foto: freepik.com

Carol Geffner dari Geffner Group menjelaskan bahwa kebiasaan terlalu membantu orang lain sering kali muncul karena seseorang tidak memiliki boundaries yang jelas. Akibatnya, mereka mudah kelelahan karena terus memprioritaskan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri.

Padahal, leader yang baik bukan berarti harus selalu tersedia untuk semua orang setiap saat. Menetapkan batasan justru membantu seseorang bekerja lebih adil, profesional, dan tidak mudah burnout.

Jadi, menurut kamu, mana nih yang paling susah dilakukan, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE